Sekilas Info

Aniaya dan Sekap Remaja Putri, Pemuda di Sula Ini Masih Bebas Berkeliaran

Ilustrasi penyekapan remaja. (Shutterstock)

Tandaseru -- Kinerja penyidik Polres Kepulauan Sula, Maluku Utara mendapat sorotan. Pasalnya, penyidik diduga membiarkan terduga pelaku penyekapan dan penganiayaan terhadap anak di bawah umur bebas berkeliaran. Alhasil, pelaku beberapa kali melakukan pengancaman dan intimidasi terhadap korban meski telah dilaporkan ke polisi.

Penasehat Hukum (PH) korban, Rasman Buamona kepada tandaseru.com mengungkapkan, kasus yang menimpa kliennya yang baru berumur 15 tahun itu telah dilaporkan sejak 9 Juli 2020. Namun hingga kini tak ada kepastian hukum dari Satuan Reserse Kriminal Polres Kepsul.

Rasman mengungkapkan, peristiwa yang menimpa kliennya terjadi di desa korban dan pelaku di Kecamatan Sulabesi Timur Juli lalu. Saat itu, pelaku yang berusia 19 tahun membawa paksa korban ke hutan. Ia lalu memaksa korban berhubungan badan, namun ditolak korban.

Penolakan itu membuat pelaku marah dan menganiaya korban hingga tubuhnya lebam. Tak hanya itu, pelaku juga menyekap korban di hutan selama 24 jam

Sayangnya, hingga saat ini terlapor belum juga ditetapkan sebagai tersangka dan belum ditahan.

"Terlapor sering mengintimidasi korban, karena terlapor masih bebas berkeliaran di dalam kampung dan merasa dibela oleh penyidik," ungkap Rasman, Senin (19/10).

Padahal, lanjut Rasman, kasus ini sudah ditangani oleh penyidik sejak tanggal 13 Juli 2020 berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP/ 98/VII/2020/Reskrim tanggal 13 Juli 2020.

"Penyidik beralasan perkara ini belum cukup bukti, karena tidak ada saksi yang melihat langsung pelaku menganiaya korban," ujarnya.

Padahal, sambungnya, penyidik juga telah memeriksa dua orang saksi yang melihat langsung korban diambil secara paksa oleh pelaku.

"Pelaku menyekap korban selama 24 jam di hutan, bahkan menganiaya korban hingga badan dan kaki bagian pahanya memar hingga lebam," sambung Rasman.

Rasman menambahkan, dirinya dan nenek korban sudah berulang kali mendatangi penyidik untuk menanyakan perkembangan kasus tersebut. Namun tidak pernah ada kejelasan dari penyidik.

"Kami sudah berulang kali bolak-balik Polres, tapi tidak ada penjelasan dari penyidik soal perkembangan kasusnya," bebernya.

Rasman menegaskan, jika polisi di Sula tidak mampu menangani kasus kliennya, maka pihaknya akan mendatangi Polda Maluku Utara dan meminta Polda mengambil alih kasus tersebut.

"Ini masalah asusila. Jika penyidik dan Kasat Reskrim Polres Sula tidak mampu menangani masalah ini, maka kami akan mendatangi Polda Malut untuk meminta mengambil alih penyidikan kasus ini," tandasnya.

Penulis: Samsur Sillia
Editor: Sahril Abdullah