Oleh: Anwar Husen

Pemerhati Sosial/Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara

_______

PAGI tadi di pelabuhan penyeberangan Bastiong, Ternate, saya berpapasan beberapa orang yang menyeberang dari Tidore, bermaksud bisa memberi penghormatan terakhir pada jenazah Almarhum Burhan Abdurahman, yang dijadwalkan tiba pagi ini dari Makassar. Kebetulan salah satu dari mereka adalah karib saya.

Kemarin, ada flyer, Undangan Terbuka: Pemerintah Kota Ternate mengundang masyarakat untuk menghadiri acara penghormatan terakhir kepada almarhum H. Burhan Abdurahman, mantan Wali Kota Ternate periode 2010–2015 dan 2015–2020, yang akan dilaksanakan pada Selasa (12/5/2026) di Kantor Wali Kota Ternate.

Flyer tadi adalah klimaksnya. Itu karena di sekitar dua pekan lalu, saya mencermati beberapa tulisan apresiasi atas rencana pemulangan jenazah mantan Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman. Tak lupa ada puja-puji atas sosok tertentu yang dipandang berjasa dalam proses ini. Lubuk hati paling dalam saya, spontan berbisik, alhamdulillah. Satu kata yang juga dipandang mewakili harapan diam-diam dari banyak orang di Maluku Utara, khususnya warga Kota Ternate. Tak perlu berargumen. Itu sesuatu lumrah diterima dan telah benar dengan sendirinya.

Sedikit menoleh ke belakang. Banyak dari kita, mungkin memahami benar anatomi dari dinamika hingga konflik politik yang melatarinya, di momentum pemilihan kepala daerah di Kota Ternate berikutnya, usai kepemimpinan almarhum selama dua periode. Tak sekadar memimpin kota ini, almarhum Burhan Abdurahman diakui publik Maluku Utara sebagai salah satu arsitek kota ini yang brilian dan jejak legasinya tetap hidup hingga saat ini. Tentu ada nama beken lainnya, Syamsir Andili, sebagai peletak dasar yang monumental itu. Karena itu, memasrahkan jenazah orang paling berjasa itu tetap bersemayam abadi di wilayah atau daerah lain dalam waktu yang relatif lama, tentu sesuatu yang tak biasa. Tidak normal dalam persepsi publik. Tentu juga, di luar alasan-alasan spesifik dalam pandangan Islam. Sebab wasiat, misalnya.

Baru di berita ini, saya menemukan konteksnya. Judulnya, “Jemput Makam Burhan Abdurahman dari Makassar Dengan Prosesi Penghormatan Terakhir, Wali Kota HM Tauhid Soleman: Ini Soal Adab Kepada Para Pendahulu. Dan ini potongan isinya: Setelah hampir 5 tahun berpulang, mantan Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman akan kembali ke tanah kelahirannya. Pemerintah Kota Ternate akan fasilitasi pemindahan makam almarhum dari Makassar ke Ternate, awal Mei 2026.
Kesepakatan pemulangan ini dicapai dalam rapat yang dipimpin langsung Wali Kota M. Tauhid Soleman bersama ahli waris. Bagi Tauhid, memulangkan Burhan bukan sekadar urusan teknis. Ini soal adab, menghargai pendahulu, dan merawat sejarah kota. Sekda Kota Ternate Rizal Marsaoly menyebut ini tindak lanjut permintaan keluarga sekaligus respons atas permintaan Pemprov Sulsel untuk mengosongkan area makam saat ini.

“Pihak keluarga telah menghubungi kami melalui saya, atas instruksi Wali Kota untuk memfasilitasi pemulangan jenazah almarhum dari Makassar ke Ternate. Proses pemindahan direncanakan pada Selasa, 12 Mei,” kata Rizal, Rabu (29/4/2026).

Dari potongan berita ini, terbaca jelas konteksnya. Ada rencana pengosongan area makam. Tentu ini sebab awalnya. Andai tak ada rencana ini dari Pemprov Sulawesi Selatan, tentu tak ada permintaan mengosongkan area makam. Dan pastinya, tak ada yang berpikir memulangkan jenazah almarhum, kecuali bila ada niat dari keluarganya. Kurang lebih lima tahun lamanya, itu buktinya. Jika pihak keluarga almarhum kemudian memohon fasilitas kepada Pemerintah Kota Ternate, itu sesuatu yang sudah semestinya. Itu artinya pula, pihak keluarga ingin menghindari potensi risiko dicerca publik kota, jika mereka berinisiatif sendiri. Sama potensi risiko buruknya yang dihadapi pemda, jika pihak keluarga memilih membiarkan makamnya digusur.

Adab kepada pendahulu itu bermakna inisiatif dan niat baik. Dan itu bukan hari ini. Kisah di balik berpulangnya Burhan Abdurahman saat itu, adalah episode haru yang mengernyitkan dahi sebagian publik Kota Ternate dan Maluku Utara. Sebagai mantan wali kota dengan reputasi tak biasa yang baru berakhir masa jabatannya, kisah yang mengiringi kepulangannya menghadap Sang Khalik, begitu memilukan. Jika hari ini beredar potongan gambar dan video pendek tentang kondisi jasad almarhum yang tak biasa, yang dalam pandangan hakikat keyakinan Islam bermakna kemuliaan, mungkin itulah gambaran, sekaligus pengakuan paling pamungkas tentang siapa sesungguhnya seorang Burhan Abdurahman. Mengutip Imam Asy-Syafi’i dawuh: Ketahuilah bahwa ilmu itu tidak akan didapatkan oleh orang yang cita-cita hidupnya hanya demi makanan dan pakaian.

Saya jadi mengingat metafora Surat An Nur, yang oleh sebagian mufassir, surat ini sengaja disisipkan Allah SWT di tengah semua hukum sosial, yang menjadi puncak spiritual seluruh surat. Dan ayat 35, adalah ayat yang para ulama, penyair, dan filsuf dari seluruh peradaban Islam telah menulis ribuan halaman penafsirannya, dan masih merasa belum selesai.

Imam Al-Ghazali menulis satu buku utuh tentang ayat ini, Misykatul Anwar. Dan menyimpulkan bahwa seluruh perjalanan spiritual manusia adalah perjalanan dari kegelapan menuju cahaya, dari cahaya rendah menuju cahaya yang lebih tinggi, dari cahaya pengetahuan menuju cahaya ma’rifat, hingga akhirnya fana dalam cahaya Allah yang tidak ada atasnya.

Jalaluddin Rumi menulis tentang kerinduan ruh kepada cahaya asalnya. Ibnu Arabi membangun seluruh bangunan tasawufnya di atas metafora cahaya ini. Satu ayat. Ribuan tahun perenungan. Dan masih belum habis.

Allah membimbing kepada cahaya-Nya, hamba-hamba yang dikehendaki”

Dan pesannya, tak perlu mengais efek keuntungan politis, citra diri, hingga mungkin berharap ada efek elektoral pada hal-hal begini. Cukup sewajarnya, kita bisa saling “olah”. Jangan melampaui takaran. Wallahua’lam(*)