Tandaseru — Masyarakat Jurnalis Lingkungan Hidup Indonesia atau The Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) simpul Maluku Utara menggelar diskusi publik serta nonton bareng di Kafe Kofia, Kelurahan Sangaji, Kota Ternate, Maluku Utara, Selasa (4/6).

Diskusi diseminasi ini dimulai dengan pemutaran film liputan investigasi terkait pembabatan hutan secara besar-besaran di Kalimantan. Film dokumenter investigasi itu diinisiasi atas kolaborasi SIEJ melalui platform Depati Project bersama CNN Indonesia TV, Betahita.id, Pontianak Post, Mongabay Indonesia, Ekuatorial.com, dan Jaring.id.

Hasil liputan investigasi yang difilmkan itu tayang di kanal YouTube CNN Indonesia dengan judul “Melawan Penjagal Hutan Kalimantan”. Investigasi tersebut mengungkap fakta bahwa pemerintah belum menunjukkan keseriusannya menangani deforestasi di Pulau Borneo.

Melalui siaran persnya, SIEJ memaparkan bahwa kondisi luasan hutan di Indonesia selama dua dekade terakhir tidak kunjung membaik. Ini lantaran laju deforestasi terus berlanjut meski klaim pemerintah selalu menyebutkan trendnya menurun.

Jutaan hektar hutan alam di Kalimantan Barat musnah dijagal atas nama investasi. Hutan dengan keanekaragaman hayati, berganti tanaman monokultur, seperti sawit dan akasia.

Kerusakan ini memicu berbagai persoalan yang tak akan pernah sebanding dengan nilai investasi kaum pebisnis yang difasilitasi negara. Orang Utan sebagai satwa endemik hutan Kalimantan terancam dan satwa liar lainnya kehilangan ekosistem dan menambah tingkat kepunahannya.

Deforestasi ini juga menyebabkan konflik dengan kelompok masyarakat adat yang selama ini hidup bergantung dari hutan. Baik ekonomi maupun kebudayaan mereka.

Atas nama investasi, negara melegitimasi deforestasi termasuk areal gambut dalam yang seharusnya dilindungi. Nyawa manusia juga dipertaruhkan bencana ekologi terjadi dan malapetaka yang lebih besar lagi mengintai di depan mata.

Persoalan deforestasi masih terus terjadi. Salah satu yang cukup memprihatinkan terjadi di hutan Kalimantan Barat. Salah satu Perusahaan yang diduga kuat terafiliasi dengan Royal Golden Eagle (RGE) Group, yaitu PT Mayawana Persada telah melancarkan deforestasi untuk konversi ke kebun kayu seluas sekitar 20 ribu hektar.

Belajar dari kondisi yang terjadi di Kalimantan Barat, SIEJ Simpul Maluku Utara pun membuat diskusi dengan mengangkat tema “Deforestasi dan Kejahatan Hilirisasi di Hutan Halmahera,”.