Oleh: Anwar Husen
Pemerhati Sosial/Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara
_______
LEMBAGA pendidikan, entah itu sekolah atau perguruan tinggi adalah peletak dasar peradaban. Ajaran agama menemukan bentuknya ketika pemeluknya memiliki ilmu pengetahuan yang cukup. Tak bisa bermodal kebiasaan turun-temurun.
Makin berpendidikan, orang makin sadar tentang eksistensinya dihadapan Tuhan dan makhluk Tuhan. Makin berpendidikan, orang makin sadar tentang harkat, derajat, martabat dan harga dirinya sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia.
Meski bukan satu-satunya ukuran kualitas, berpendidikan itu menunjuk bahwa kita pernah bersekolah atau kuliah. Dan tandanya adalah ijazah. Buktinya.
Pendidikan dan Peradaban
Jika pendidikan adalah pendorong, bahkan pembentuk peradaban, maka yang pernah mengeyam pendidikan mestinya menjadi orang beradab.
Menjadi beradab berarti seseorang tidak hanya memahami norma atau etika, tetapi juga menerapkannya untuk menjaga keharmonisan, saling menghormati, dan memuliakan orang lain.
Beradab kepada Tuhan
Muara dari segala ajaran agama itu satu saja: Membimbing untuk mengenal hakikat Rabbnya. Mengenal hakikat-Nya, sama saja dengan beradab kepada-Nya. Tahu diri sebagai makhluk ciptaan-Nya. Tahu asal.
Mengenal hakikat-Nya adalah pangkal segala kebajikan, baik itu kebajikan ritual maupun sosial.
Beradab kepada Diri
Saling mengasihi sesama makhluk-Nya hanya bisa dibangun di atas dasar pengenalan hakikat diri. Karena mengenal diri, adalah awal pengenalan terhadap-Nya.
Mengenal diri adalah langkah awal ibadah ritual menjadi bermakna. Fase ketika ibadah ritual kita beranjak “naik level”.
Hakikat Ibadah Ritual
Secara hakikat, ibadah ritual adalah menyemai kesadaran tentang pentingnya ibadah sosial. Di sini, ibadah ritual itu bergeser ke level kebutuhan, bukan lagi kewajiban.
Tanpa proses ini, sampai kapanpun, ibadah ritual itu tak akan bermakna apa-apa. Rutinitas yang kering dan membosankan. Dia hanya berada di angan-angan sebagai kewajiban tanpa makna hakiki.
Di titik ini, kita menyaksikan titik awal banyak problem sosial: Tingginya intensitas ibadah ritual, tak berkorelasi sama sekali dengan rasa solidaritas, kepekaan dan kepedulian sosial. Orang cenderung berpikir tentang semua hal yang berkaitan dengan keuntungan dan kebutuhan dirinya. Yang penting dirinya aman. Lingkungan sosial menjadi tak penting.
Hakikat Ibadah Sosial
Kesalehan itu ukurannya nyata dan tegas: Seberapa besar kita bermanfaat bagi lingkungan. Bukan intensitas ibadah ritualnya. Semua itu hanya untuk kita. Tak berarti bagi orang lain.
Tak usah bertanya ada gejala, mengapa orang makin intens ibadah ritualnya, terkesan makin kuat individualitasnya. Hidup untuk dirinya sendiri.
Tanda paling simpel mengukur intensitas ibadah ritual kita menjadi bermakna: Meningkatnya kadar kepekaan dan intensitas kepedulian pada kaum fakir dan lingkungan sosial kita.
Intensitas ibadah ritual kadang berjalan beriringan dengan berbagai gejala prilaku menyimpang. Berjalan bergandengan tangan dengan pelanggaran norma sosial.
Paling ritualis, tetapi sekaligus paling tidak logis dan rentan kena tipu. Kadar ritualitas tak ada korelasinya dengan tingkat kemiskinan. Bahkan bisa saja terjadi, makin ritualis makin tinggi kemiskinan. Bantuan untuk kaum fakir justru jadi banjakan dan lahan korupsi.
Secara spiritual, salat berfungsi sebagai pembersih jiwa, mencegah perbuatan keji dan munkar. Secara sosial, dia menjadi sarana komunikasi dalam kehidupan sosial.
Pembersih jiwa dari sifat- sifat tercela: Munafik, tamak, rakus, loba, iri, dengki, ri’ya, kikir, dll.
Perbuatan keji (Al-Fahsya’) adalah segala bentuk dosa besar dan pelanggaran kesusilaan yang sangat hina, seperti berzina dan membunuh. Perbuatan mungkar (Al-Munkar) adalah segala tindakan yang dilarang agama, merugikan orang lain, dan diingkari oleh akal sehat serta fitrah manusia, seperti mencuri, menipu, dan menzalimi. Secara hakikat adalah media mi’rajul mukminin.
Beradab kepada Lingkungan Sosial dan Tetangga
Jangan membayangkan perbuatan mungkar itu barang mewah. Dia ada di sekitar kita, yang dilakoni sehari-hari dan mungkin tanpa sadar karena kurang pengetahuan. Di antara yang termasuk dalam perbuatan mungkar (Al-Munkar) dalam adalah kebiasaan memelihara binatang ternak secara liar di dalam kampung, membiarkan dahan pohon masuk ke halaman tetangga, merampas fasilitas umum jalan raya, mengeraskan bunyi toa secara berlebihan di menara-menara masjid, dll. Hal-hal begini banyak terjadi di tiris masjid. Tapi tema khutbahnya mengulas tentang globalisasi. Jauh dari esensi problem sosial di lingkungan kita.
Kebiasaan memelihara binatang ternak secara liar di tengah kampung itu perbuatan zalim. Menzalimi tetangga. Itu karena semua lahan sudah ada pemiliknya. Itu adalah hak milik dan tidak bisa diganggu dengan alasan apapun. Tidak ada lahan kosong tanpa pemilik, kecuali jalan umum. Binatang ternak tidak mungkin makan aspal. Ini materi pelajaran norma sosial di Sekolah Dasar (SD). Jangan nanti ijazah kita dianggap palsu.
Juga, stop kebiasaan buruk suka merampas lahan fasilitas umum jalan raya. Membangun dengan mengambil lokasi jalan umum. Itu melanggar hak pengguna jalan. Ini materi pelajaran pendidikan agama di SD. Jangan-jangan nanti ijazah kita di bilang palsu juga.
Mengeraskan bunyian-bunyian di menara masjid itu bukan rukun sallat. Fungsi utama masjid itu untuk melaksanakan sholat berjamah. Dan durasinya paling lama sepuluh menit. Memutar pengajian yang keras di menara masjid yang bukan rukun tapi durasinya bisa satu jam. Ini pemahaman dogmatis yang tidak logis, menjebak dan tanpa arah. Lagi-lagi bisa dikaitkan dengan keaslian ijazah kita.
Problem Mindset
Kepada para mubalig, yang benar-benar sarjana agama. Ijazah anda terlalu mahal dan bernilai tinggi. Gunakan dan fungsikan ijazah itu untuk menyesuaikan materi khutbah dan ceramah dan mengubah cara berpikir umat. Ada transformasi cara memandang persoalan hidup. Porsi terbesar meterinya, lebih pada fakta pelanggaran norma sosial dalam kehidupan nyata. Kehidupan hari ini dan di sini adalah sebuah kenyataan bukan hayalan. Khususnya di tiris tempat ibadah. Perbaiki mindset dan prilaku umat dalam beragama. Sholat itu untuk kita. Untuk memperbaiki kualitas diri kita dalam hidup, dalam bermasyarakat hari ini dan di sini. Tuhan tak butuh sholat kita.
Jangan keseringan berangan-angan tentang surga dan neraka. Fungsi sholat untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dan itu menunjuk tempatnya di dunia saat ini. Hakikat surga dan neraka itu ada di sini, di kehidupan kita saat ini.
Hakikat ijazah palsu adalah ijazah yang menipu mindset, cara berpikir dan bertindak, yang merendahkan harkat, derajat, martabat dan harga diri sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia. Itu hakikat kepalsuan. Wallahua’lam. (*)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.