Oleh: Herman Oesman

Dosen Sosiologi FISIP UMMU

_______

“…Epistemologi Tidore, bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber inspirasi bagi masa depan Indonesia…”

TULISAN ini lahir dari kekaguman, simpati, dan rasa cinta yang tulus kepada Tidore saat setiap kali menginjakkan kaki di wilayah itu. Tidore, sebuah wilayah, sebuah noktah kecil dalam peta Indonesia, sebagaimana Ternate, telah melambungkan angan-angan siapa saja, jauh menyusuri jejak abad-abad lampau, dan di sana, ada kekaguman, ada kebanggaan, tatkala rasa itu ditemukan. Sebuah epistemologi.

Membaca etape khazanah intelektual Nusantara, nama besar Tidore tidak hanya dikenal sebagai kesultanan kepulauan-maritim yang sangat berpengaruh di kawasan timur Indonesia, tetapi juga sebagai pusat pengetahuan, kebudayaan, dan spiritualitas Islam yang melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa.

Tak berlebihan, inilah epistemologi Tidore yang merupakan cara pandang masyarakat Tidore dalam memahami dunia, membangun hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan, serta merawat nilai-nilai adat yang berpadu harmonis dengan ajaran Islam.

Berangkat dari pengertian dan pemahaman sederhana, epistemologi, merupakan teori tentang pengetahuan. Bagaimana pengetahuan diperoleh, diwariskan, dan digunakan dalam kehidupan sosial.

Sumber pengetahuan dalam konteks Tidore, tidak hanya berasal dari pengalaman empiris, tetapi juga dari tradisi lisan, adat istiadat, ajaran Islam, serta pengalaman historis yang panjang sebagai kesultanan kepulauan-maritim di kawasan Maluku dan Papua.

Masuknya Islam ke Tidore sejak kolano awal, era Muhammad Nakil (Sahajat), ke dalam sistem politik dan bertransformasi
pada Kolano ke-11 di bawah kepemimpinan Kolano Ciriliyati, yang pertama menggunakan gelar Sultan (Sultan Jamaluddin) dan
membawa perubahan besar, dengan menjadikan Islam sebagai agama resmi dalam sistem pengetahuan dan memberi pengaruh pada perkembangan hukum Kesultanan Tidore.

Kesultanan Tidore menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di kawasan timur Nusantara. Islam tidak sekadar menjadi agama resmi kesultanan Tidore, tetapi juga menjadi fondasi etika, hukum, pendidikan, dan tata pemerintahan.

Sejarah juga mencatat, para sultan Tidore membangun legitimasi kekuasaan melalui perpaduan antara syari’at Islam dan adat lokal. Hal ini kemudian, melahirkan sebuah sistem pengetahuan yang memandang kehidupan sebagai kesatuan antara dunia material dan spiritual.

Epistemologi Tidore, secara kedalaman, menyadari eksistensi ilmu bukan hanya alat untuk memperoleh kekuasaan, tetapi sarana untuk mencapai kemaslahatan bersama. Pandangan ini sejalan dengan tradisi Islam klasik yang menempatkan ilmu sebagai jalan menuju kebijaksanaan.

Karena itu, ulama, guru agama, dan pemimpin adat memperoleh posisi terhormat dalam masyarakat.

Salah satu kekuatan utama epistemologi Tidore adalah kemampuannya memadukan adat dan Islam. Bagi masyarakat Tidore, adat tidak diposisikan sebagai lawan agama, melainkan sebagai instrumen sosial yang memperkuat nilai-nilai Islam. Prinsip ini mengingatkan kita pada ungkapan yang hidup dalam banyak tradisi kerajaan Islam Nusantara : adat bersendi syari’ah dan syari’ah bersendi Kitabullah.

Melalui prinsip tersebut, masyarakat Tidore mampu menjaga identitas budaya sekaligus mempertahankan komitmen terhadap ajaran agama. Kekuatan adat terlihat dalam berbagai ritual sosial, tata hubungan kekerabatan, penghormatan kepada orang tua, serta pengelolaan sumber daya alam.

Pengetahuan lokal mengenai laut, pelayaran, perdagangan rempah-rempah, dan hubungan antar-pulau diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat.

Sultan Nuku: Simbol Epistemologi Perlawanan

Ketika membicarakan epistemologi Tidore, nama Sultan Nuku tidak dapat dipisahkan. Sultan Nuku merupakan tokoh besar yang lahir dari tradisi intelektual dan politik Kesultanan Tidore.

Nuku memimpin perlawanan panjang terhadap kolonialisme Belanda sejak tahun 1780 hingga berhasil merebut kembali Tidore pada 1797. Ia dikenal sebagai pemimpin karismatik yang mampu membangun aliansi lintas etnis dan wilayah, termasuk masyarakat Halmahera, Seram, Papua, dan Inggris dalam menghadapi dominasi kolonial.

Keberhasilan Nuku tidak semata-mata karena kemampuan militernya, tetapi juga karena pengetahuannya tentang geopolitik kawasan. Ia memahami, bahwa kekuasaan kolonial harus dilawan melalui jaringan solidaritas yang luas.

Perjuangan Nuku menunjukkan, pengetahuan harus digunakan untuk membela martabat manusia dan mempertahankan kedaulatan.

Sejarawan Leonard Andaya menyebut Nuku sebagai salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Maluku karena kemampuannya mengintegrasikan berbagai kelompok masyarakat dalam satu gerakan politik bersama (Andaya, 1993).

Sultan Zainal Abidin Syah: Nasionalisme dan Integrasi

Tokoh besar lain yang lahir dari tradisi Tidore adalah Sultan Zainal Abidin Alting Syah. Ia merupakan Sultan Tidore ke-26 yang memimpin pada masa transisi menuju Indonesia merdeka. Berbeda dengan Nuku yang berjuang melawan kolonialisme abad ke-18, Zainal Abidin Syah berjuang dalam konteks nasionalisme Indonesia abad ke-20. Ia dikenal sebagai tokoh yang mendukung integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan pernah dipercaya menjadi Gubernur Irian Barat pada periode 1956–1962.

Peran Zainal Abidin Syah menunjukkan, epistemologi Tidore terus berkembang mengikuti zaman. Jika Nuku melawan kolonialisme dengan strategi maritim dan diplomasi regional, maka Zainal Abidin Syah menggunakan diplomasi politik modern untuk memperjuangkan kepentingan bangsa. Pemikirannya jauh melampaui, mencerminkan nilai dasar masyarakat Tidore, yakni: kesetiaan kepada tanah air, penghormatan terhadap martabat manusia, dan keberanian menghadapi ketidakadilan.

Sebagai kesultanan kepulauan-maritim terbesar, Tidore mengembangkan epistemologi maritim yang unik. Laut bukan dipandang sebagai pemisah, melainkan sebagai penghubung antarwilayah. Pengetahuan pelayaran, perdagangan, dan diplomasi menjadi modal utama masyarakat dalam membangun hubungan dengan dunia luar.

Menurut Muridan Widjojo (2009), jaringan kekuasaan Tidore pada masa lalu bahkan menjangkau wilayah Papua dan sejumlah pulau di sekitarnya. Hubungan tersebut dibangun melalui sistem aliansi, perdagangan, dan pertukaran budaya yang berlangsung selama berabad-abad.

Karena itu, epistemologi Tidore bersifat kosmopolit. Masyarakat terbuka terhadap pengetahuan baru, tetapi tetap menjaga identitas budaya dan nilai keislaman sebagai fondasi utama.

Relevansi

Di tengah arus globalisasi dan transformasi digital, dan kemodernan, epistemologi Tidore tetap relevan. Di mana nilai-nilai Islam, penghormatan terhadap adat, semangat kebangsaan, dan keterbukaan terhadap dunia luar merupakan modal sosial, semuanya menyesap dalam satu tarikan nafas.

Dari sana, tanah yang kental, Tidore mengajarkan, kemajuan tidak harus mengorbankan identitas budaya. Sebaliknya, kemajuan justru dapat dibangun di atas fondasi tradisi yang kuat.

Dari tanah Tidore, lahir pahlawan-pahlawan besar: Sultan Nuku, Sultan Zainal Abidin Syah yang telah membuktikan bahwa pengetahuan, keberanian, dan integritas dapat menjadi kekuatan untuk mengubah sejarah. Etape panjang ke depan, kita menanti tokoh-tokoh besar dari Tidore nan otentik.

Epistemologi Tidore, dengan demikian, bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber inspirasi bagi masa depan Indonesia. Sebuah cara pandang yang menempatkan Islam, adat, kemanusiaan, dan kebangsaan sebagai satu kesatuan yang utuh. (*)