Oleh: Herman Oesman
Dosen Sosiologi FISIP UMMU
________
“…perpustakaan pribadi bukanlah simbol dari buku yang sudah dibaca, tetapi pengingat tentang betapa banyak hal yang belum kita ketahui…”
(Eco & Carriere, 2011)
HARI ini, pemandangan dan tradisi bertamu sembari bicara buku semakin langka.
Sebaliknya, banyak ruang untuk tamu berubah menjadi etalase kemewahan.
Berjajar piring-piring antik yang harganya puluhan juta rupiah. Ada guci keramik dari negeri antah berantah, ada kristal berkilau, piala-piala yang sesekali dibersihkan dari debu, ada lukisan (mahal), hingga berbagai ornamen dekoratif yang dibeli demi mempercantik ruangan.
Semua tertata rapi. Semuanya tampak indah.
Tetapi ada satu yang hilang. Di ruang mewah, tak ada lemari buku yang menyempil. Mungkin ada, tapi (barangkali) disembunyikan.
Seolah-olah buku tidak lagi layak menjadi bagian dari wajah sebuah rumah. Padahal, rumah sesungguhnya bukan hanya tempat bernaung, melainkan tempat lahirnya gagasan, nilai, dan peradaban. Bahkan ada ungkapan : “sine libris cella sine anima corpus,” yang berarti ruangan tanpa buku, bagaikan tubuh tanpa jiwa.”
Tatkala buku tidak lagi diberi ruang, sesungguhnya kita sedang mengurangi ruang bagi pikiran untuk bertumbuh.
Penulis Argentina, Alberto Manguel, dalam A History of Reading (1996) menulis, perpustakaan pribadi bukan sekadar kumpulan buku, tetapi cermin identitas pemiliknya. Buku memperlihatkan siapa kita, apa yang kita pikirkan, dan ke mana arah pencarian pengetahuan kita.
Ironisnya, banyak keluarga rela menghabiskan puluhan juta rupiah membeli dan menata dekorasi rumah, tetapi menganggap membeli buku seharga seratus ribu rupiah sebagai pemborosan.
Barangkali kita hidup pada zaman yang lebih menghargai apa yang tampak daripada apa yang dipikirkan. Yang dipamerkan bukan lagi isi kepala, melainkan isi etalase.
Manusia yang utuh lahir bukan dari banyaknya benda yang dimiliki, melainkan dari banyaknya gagasan yang dipelajari.
Rumah tanpa buku mungkin tetap terlihat indah. Namun, rumah yang memiliki buku memiliki kehidupan intelektual.
Buku merupakan jendela yang membuka dunia tanpa harus meninggalkan rumah.
Kebiasaan membaca dan kepemilikan buku sebagai bagian dari cultural capital atau modal budaya. Keluarga yang akrab dengan buku sesungguhnya sedang mewariskan modal yang jauh lebih berharga daripada sekadar kekayaan material, sebab modal budaya membentuk cara berpikir, selera, dan peluang hidup generasi berikutnya (Bourdieu, 1986).
Sayangnya, banyak orang tua hari ini lebih sibuk memilih model sofa dibanding memilih ensiklopedia untuk anak-anaknya.
Lebih mudah membeli televisi berukuran besar daripada membuat sudut baca sederhana di rumah. Dan anak-anak pun tumbuh dalam rumah yang penuh barang, tetapi miskin bacaan.
Tidak mengherankan bila minat membaca sulit berkembang. Bagaimana mungkin anak mencintai buku jika sejak kecil ia tidak pernah melihat buku menjadi bagian dari kehidupan keluarganya?
Psikolog perkembangan, Urie Bronfenbrenner menjelaskan, lingkungan keluarga merupakan ruang pertama yang membentuk perilaku anak. Apa yang setiap hari dilihat anak akan menjadi bagian dari kebiasaannya (Bronfenbrenner, 1979).
Jika setiap hari yang dilihat adalah rak penuh buku, membaca akan terasa wajar. Sebaliknya, jika yang memenuhi rumah hanyalah layar televisi dan telepon genggam, maka dunia digital akan mengambil seluruh perhatian mereka.
Sesungguhnya, memiliki buku bukan berarti harus memiliki perpustakaan besar seperti milik universitas.
Sebuah rak kecil dengan dua puluh atau lima puluh buku pilihan sudah cukup menjadi awal.
Yang penting adalah memberi pesan, bahwa rumah ini menghargai ilmu pengetahuan.
Masyarakat yang berhenti membaca, perlahan akan kehilangan kemampuan berpikir kritis karena lebih sibuk mengonsumsi hiburan daripada pengetahuan (Postman, 1985).
Peringatan itu terasa semakin relevan hari ini.
Di mana media sosial membuat kita terbiasa membaca potongan-potongan kalimat, bukan gagasan utuh.
Kita mengenal judul, tetapi tidak membaca isi.
Kita cepat berkomentar, tetapi lambat memahami.
Di tengah arus seperti itu, buku justru menjadi ruang untuk melatih kesabaran berpikir.
Membaca buku merupakan latihan mendengar suara orang lain secara utuh.
Mungkin inilah sebabnya Umberto Eco dan Jean Claude Carriere dalam karya mereka This is Not the End of the Book menyebutkan, perpustakaan pribadi bukanlah simbol dari buku yang sudah dibaca, tetapi pengingat tentang betapa banyak hal yang belum kita ketahui (Eco & Carrière, 2011).
Kerendahan hati intelektual lahir dari rak buku.
Sementara kesombongan kerap lahir dari ruang yang hanya dipenuhi benda-benda mewah.
Karena itu, pertanyaan yang layak kita ajukan bukanlah seberapa mahal dekorasi rumah kita, melainkan masihkah rumah kita memiliki tempat bagi buku?
Masihkah ada sudut yang disediakan untuk anak mengambil buku sebelum tidur? Masihkah tamu menemukan rak bacaan ketika memasuki ruang tamu kita? Masihkah kita menghadiahkan buku kepada sahabat, atau kita lebih memilih memberikan cendera mata yang sebentar lagi terlupakan?
Barangkali sudah saatnya kita mengubah cara memandang rumah. Keindahan bukan hanya soal interior yang elegan, tetapi juga tentang hadirnya pengetahuan di dalamnya. Sebuah rumah yang memiliki buku sesungguhnya sedang membangun masa depan.
Sebab, buku tidak hanya mengisi rak, tetapi juga mengisi pikiran, membentuk karakter, dan menyalakan imajinasi.
Maka, jika hari ini ruang tamu kita dipenuhi guci, kristal, piring antik, dan berbagai ornamen mahal, cobalah sisakan satu sudut kecil untuk sebuah lemari buku. Mungkin ukurannya sederhana, tetapi pengaruhnya akan jauh lebih besar daripada benda-benda yang hanya memanjakan mata.
Pada akhirnya, sebuah peradaban tidak dikenang dari mahalnya dekorasi rumah, melainkan dari sejauh mana masyarakatnya menghargai ilmu pengetahuan. Dan penghormatan itu selalu dimulai dari satu tempat yang sederhana: sebuah rak buku di rumah. Pertanyaannya: “Masihkah ada buku di rumah?” (*)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.