Oleh: Herman Oesman

Dosen Sosiologi FISIP UMMU

_______

Untuk MAN IC Halmahera Barat”

DI tengah berbagai keluhan mengenai rendahnya tingkat literasi di Indonesia, terutama Maluku Utara, masih ada sekolah yang memilih bekerja dalam diam.

02 Mei 2026 lalu, penulis dan Dr. Murid, Dekan FUAD IAIN Ternate, diundang ke MAN IC Halmahera Barat untuk mendiskusikan salah satu karya dari beberapa siswa MAN IC Halmahera Barat, berjudul “Wajah Budaya Kita.” Ada rasa kaget, takjub, kagum, dan tentu membahagiakan, di mana siswa (mereka sudah lulus) menerbitkan buku serius yang merupakan hasil penelitian mereka.

MAN IC Halmahera Barat dan mungkin MAN IC yang lain di Maluku Utara, tidaklah sibuk memamerkan slogan, melainkan membangun tradisi membaca dan menulis yang hidup di ruang-ruang kelas, perpustakaan, hingga asrama/area madrasah secara diam-diam.

Madrasah ini, dalam sunyi, menegaskan diri dengan memperlihatkan, literasi bukan sekadar kegiatan membaca lima belas menit sebelum pelajaran dimulai. Literasi dipahami sebagai budaya berpikir, budaya menulis, sekaligus budaya melahirkan gagasan nan kritis. Literasi sebagai gerakan.

Di lingkup MAN IC Halmahera Barat ini, membaca tidak hanya sebagai kewajiban administratif, tetapi menjadi jalan membentuk karakter ilmiah siswa. Membaca sebagai habitus.

Gerakan literasi di MAN IC Halmahera Barat berjalan secara masif. Siswa didorong untuk tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga menjadi penulis. Mereka dibiasakan menghasilkan karya ilmiah, artikel, esai, puisi, cerpen, hingga buku. Bahkan, salah satu tradisi yang berkembang adalah mendorong setiap siswa memiliki karya buku atau terlibat dalam penerbitan buku antologi sebelum menamatkan pendidikan.

Kehadiran kami dalam diskusi buku karya siswa MAN IC Halmahera Barat sebenarnya menabalkan, ada tradisi yang memiliki makna penting, yang menjadikan lulusan tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga meninggalkan jejak intelektual berupa karya tulis yang abadi.

Kebiasaan menghasilkan karya ini sesungguhnya merupakan implementasi nyata dari konsep knowledge creation. Pengetahuan yang berkembang melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi (Berger dan Luckmann, 1966).

Menulis merupakan bentuk eksternalisasi gagasan sehingga pengetahuan tidak berhenti dalam pikiran seseorang, tetapi menjadi milik publik. Sementara membaca merupakan sarana internalisasi yang dibangun secara tekun dalam rentang waktu panjang, yang menghasilkan obyektivasi, bahwa literasi sebagai gerakan hidup dalam atmosfir MAN IC Halmahera Barat dan MAN IC manapun.

Gerakan budaya literasi yang kuat tentu tidak lahir begitu saja. Ia ikut bertumbuh karena adanya guru-guru yang memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap dunia membaca dan menulis. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar mata pelajaran, tetapi juga menjadi mentor dan motivator literasi.

Mereka mendampingi proses penulisan karya ilmiah secara tekun dan serius, memberikan umpan balik terhadap naskah siswa, hingga memotivasi siswa agar berani menerbitkan buku.

Pendidikan sejatinya harus melahirkan manusia yang mampu membaca dunia, bukan sekadar membaca kata-kata. Membaca dan menulis merupakan tindakan pembebasan karena memungkinkan peserta didik berpikir kritis terhadap realitas sosial.

Apa yang dilakukan MAN IC Halmahera Barat menunjukkan semangat tersebut, yakni menjadikan literasi sebagai instrumen membangun kesadaran intelektual. Sebuah gerakan.

Keberhasilan gerakan literasi juga tidak dapat dilepaskan dari kebijakan sekolah serta didukung Kepala Wilayah Kemenag Provinsi Maluku Utara yang berpihak. Ini menunjukkan, budaya membaca tidak akan berkembang apabila hanya dibebankan kepada guru (terutama guru Bahasa Indonesia) atau pengelola perpustakaan. Sangat dibutuhkan kebijakan kelembagaan yang menjadikan literasi sebagai identitas sekolah/madrasah.

MAN IC Halmahera Barat, dengan berbagai aktivitas akademiknya telah diarahkan untuk memperkuat budaya ilmiah. Kehadiran karya tulis ilmiah siswa MAN IC Halmahera Barat, pembimbingan intensif oleh guru berbakat, hingga penguatan karakter akademik yang tinggi, menunjukkan adanya dukungan kelembagaan terhadap pengembangan literasi.

Berbagai penelitian siswa yang dihasilkan di madrasah tersebut menjadi indikator bahwa budaya membaca dan menulis telah memperoleh ruang yang cukup dalam proses pendidikan. Kebijakan yang berpihak kepada literasi merupakan bentuk investasi jangka panjang. OECD (2023) melalui laporan PISA 2022 menegaskan, kemampuan literasi membaca berkorelasi kuat dengan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kesiapan menghadapi tantangan abad ke-21.

Sekolah/madrasah yang membangun budaya membaca dan menulis sejak dini sesungguhnya sedang menyiapkan generasi yang mampu berkompetisi secara global.

Pada sisi lain, pengalaman MAN IC Halmahera Barat juga memperlihatkan, keberhasilan literasi tidak selalu ditentukan oleh fasilitas yang megah. Jauh lebih penting adalah ekosistem. Ketika kepala sekolah/madrasah memiliki visi, guru memiliki komitmen, perpustakaan aktif, siswa diberi ruang berkarya, dan kebijakan sekolah/madrasah mendukung, maka gerakan budaya literasi tumbuh secara alami.

Hal yang menarik, adanya orientasi pada produk. Banyak sekolah berhenti pada kegiatan membaca bersama atau lomba sesaat. Sebaliknya, MAN IC Halmahera Barat justru mendorong lahirnya karya nyata. Buku menjadi simbol bahwa proses belajar telah melahirkan pengetahuan baru.

Dalam dunia akademik, karya tulis merupakan bentuk kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Tradisi tersebut sesungguhnya dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Maluku Utara maupun Indonesia.

Bayangkan apabila setiap sekolah menargetkan seluruh siswanya menghasilkan satu buku sebelum lulus. Dalam beberapa tahun saja, ribuan buku akan lahir dari tangan generasi muda. Lebih penting lagi, mereka akan tumbuh sebagai generasi yang terbiasa berpikir sistematis, meneliti, menulis, dan mempertanggungjawabkan gagasannya.

Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam membangun budaya membaca dan menulis. Namun optimisme tetap ada selama masih terdapat sekolah-sekolah yang menjadikan literasi sebagai napas pendidikan.

MAN IC Halmahera Barat telah memperlihatkan, perubahan tidak selalu dimulai dari kota-kota besar. Dari sebuah madrasah di pojok Halmahera Barat, lahir pelajaran penting, pendidikan terbaik bukan hanya menghasilkan lulusan yang pandai menjawab soal ujian, tetapi juga generasi yang mampu menulis gagasan, menyebarkan pengetahuan, dan meninggalkan warisan intelektual bagi masyarakat.

Akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah sekolah/madrasah bukan hanya banyaknya medali atau tingginya nilai ujian, melainkan seberapa banyak pembaca yang lahir, seberapa banyak penulis yang tumbuh, dan seberapa kuat budaya berpikir yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam konteks itulah, MAN Insan Cendekia Halmahera Barat dan beberapa MAN IC lainnya di Maluku Utara layak menjadi salah satu contoh bagaimana literasi dapat dibangun secara serius melalui guru yang berdedikasi, kebijakan yang berpihak, dan komitmen untuk menjadikan setiap siswa sebagai pencipta karya, bukan sekadar pengguna pengetahuan. (*)