Tandaseru — Puluhan aktivis Solidaritas Aksi Mahasiswa untuk Rakyat Indonesia (Samurai) Pulau MorotaiMaluku Utara menggelar aksi memperingati Hari Tani, Kamis (24/9). Massa aksi menghamburkan sayur-mayur di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pulau Morotai.

Aksi membuang sayur merupakan bentuk kekecewaan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tak berpihak pada petani lokal. Sayuran yang dihamburkan adalah tomat, kangkung serta bunga pepaya, bahkan buah kelapa ikut dibuang.

Massa juga membawa spanduk bertuliskan “Samurai-MU: Pemerintah Amnesia, Petani Menderita”. Sebelum menuju kantor DPRD, massa lebih dulu berorasi di Pasar Rakyat Gotalamo II dan Taman Kota Daruba.

Aksi memperingati Hari Tani di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara. (Tandaseru/Irjan)

Koordinator Lapangan Haikal Samlan dalam orasinya mengatakan, ada sejumlah tuntutan yang dibawa massa aksi. Di antaranya meminta pemerintah tuntaskan masalah komoditas unggulan seperti pala, cengkih, dan kopra, menyejahterakan petani di masa pandemi Covid-19, melaksanakan reformasi agraria sejati dan menuntaskan masalah sengketa lahan serta menghadirkan industri lokal di Morotai.

“Sebelum Covid-19 merongrong Indonesia, sudah sangat kontras dalam hal minimnya kesadaran daerah untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Ini terbukti ketika tidak adanya perhatian yang serius dari Pemda sehingga banyak petani yang putus asa dalam mengolah hasil pertanian,” koarnya.

Diungkapkan, ada sejumlah masalah sengketa lahan atau agraria yang masih belum selesai antara Pemda dan masyarakat yang berimplikasi pada perampasan ruang hidup masyarakat, khususnya petani.

“Dalam menegakkan kedaulatan rakyat, pemerintah wajib memahami fungsi dan kewenangan sebagaimana diatur dalam UUD 45,” tutupnya.