Tandaseru – Pengamatan burung di pesisir Kawasi dan Soligi serta kawasan reklamasi pascatambang menjadi salah satu upaya untuk mengenali keanekaragaman hayati di Pulau Obi, Maluku Utara.
Maluku Utara berada di kawasan Wallacea dan termasuk wilayah yang relevan dalam kajian pergerakan burung migran. Secara regional, Indonesia terhubung dengan East Asian–Australasian Flyway (EAAF), jalur migrasi yang menghubungkan Asia Timur dan Australasia.

Buku Burung-burung Migran Maluku Utara terbitan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2023 mencatat lebih dari 50 jenis burung pengembara berdasarkan pengamatan pada 2019–2022. Data tersebut menjadi salah satu referensi untuk memahami keberadaan burung di Maluku Utara. Sementara itu, identifikasi spesies dan pola migrasi di Pulau Obi memerlukan pengamatan serta dokumentasi lapangan lebih lanjut.
Dari Soligi dan Kawasi, Mengenal Keanekaragaman Hayati
Di Pulau Obi, cerita tentang biodiversitas tidak hanya berkaitan dengan bentang alam, tetapi juga dengan masyarakat yang hidup berdampingan dengannya. Soligi dan Kawasi menjadi konteks penting untuk membangun pemahaman mengenai kekayaan alam setempat dan pentingnya menjaga lingkungan.
Melalui sosialisasi dan edukasi biodiversitas, masyarakat dapat diajak mengenali burung, memahami habitatnya, serta melihat bagaimana tindakan sehari-hari berpengaruh terhadap kelestarian lingkungan. Menjaga kebersihan pantai, tidak memburu atau menangkap burung, dan memberi ruang bagi satwa untuk beraktivitas merupakan langkah sederhana untuk menumbuhkan kepedulian.

Sephy Noerfahmy, Conservation Superintendent Harita Nickel, menekankan pentingnya edukasi untuk mendekatkan masyarakat dengan kekayaan alam di sekitarnya.
“Melalui sosialisasi dan edukasi, kami ingin mengajak masyarakat mengenal lebih dekat keanekaragaman hayati di Pulau Obi, termasuk keberadaan burung-burung yang singgah maupun melintasi kawasan ini. Pemahaman tersebut penting agar upaya menjaga habitat tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, tetapi tumbuh menjadi kepedulian bersama. Dengan mengenali alam di sekitar kita, masyarakat dapat ikut berperan dalam menjaga kelestariannya,” ujar Sephy.
Mengenali satwa merupakan langkah awal untuk memahami lingkungannya. Seekor burung yang terlihat di pesisir atau pepohonan mungkin hanya melintas sesaat. Namun, catatan mengenai jenis, waktu kemunculan, dan lokasi pengamatan dapat membantu menjelaskan apakah burung tersebut merupakan penghuni tetap, burung pengembara, atau bagian dari perjalanan migrasi.
Dari Kolam Sedimen hingga Reklamasi
Cerita biodiversitas juga hadir di lanskap sekitar kawasan industri. Retno Dewi Handayani, Vice President Environmental Green Mining Harita Nickel, menjelaskan di sekitar kolam sedimen, berbagai kawanan burung eksotis singgah untuk bertengger dan mencari makan. selain itu, area reklamasi kami juga telah bertransformasi menjadi habitat bagi beberapa jenis satwa.
Tuguraci 2 merupakan kolam sedimen seluas sekitar 43 hektar yang menjadi bagian dari pengelolaan air dan sedimen di kawasan operasional. Kehadiran burung di lokasi tersebut menjadi temuan menarik tentang bagaimana satwa memanfaatkan lingkungan di sekitar kawasan industri.

“Kehadiran burung di kolam sedimen Tuguraci 2 dan di area reklamasi, menjadi salah satu gambaran menarik tentang dinamika keanekaragaman hayati di sekitar wilayah operasional. Pengamatan ini menjadi langkah untuk mengenali jenis burung yang hadir sekaligus memahami bagaimana satwa memanfaatkan habitat di tengah upaya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” ujar Retno.
Pengamatan tersebut membuka peluang untuk mempelajari hubungan antara satwa dan lanskap yang telah berubah. Meski demikian, kehadiran burung saja belum cukup untuk memastikan fungsi ekologis suatu lokasi sebagai persinggahan (migrasi) ataupun habitat. Identifikasi spesies dan pemantauan berulang diperlukan untuk mengetahui pola kemunculan serta bagaimana burung memanfaatkan area tersebut.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.