Oleh: Herman Oesman
Dosen Sosiologi FISIP UMMU
_______
“…Setiap gagasan yang terpenjara dalam ungkapan, harus dibebaskan dengan tindakan”
(Kahlil Gibran, Sand and Foam, 1926)
DI tengah dunia yang bergerak serba cepat, manusia, acap diukur dari seberapa ramai ia terlihat.
Jumlah pengikut media sosial, frekuensi tampil di ruang publik, hingga banyaknya komentar terhadap suatu unggahan seolah menjadi ukuran keberadaan seseorang.
Padahal, ada satu cara yang jauh lebih dalam, lebih sublim, tetapi memiliki daya hidup yang panjang: menulis.
Melalui tulisan, seseorang tidak hanya meninggalkan jejak pemikiran, tetapi juga membangun dialog dengan masa depannya.
Menulis bukan sekadar merangkai kata. Ia merupakan proses mengolah pengalaman, menyaring pengetahuan, dan menyampaikan kegelisahan.
Menulis itu menjadi gagasan yang dapat dibaca orang lain.
Tatkala seseorang menulis, ia sedang menyusun identitas intelektualnya.
Tulisan menjadi cermin cara berpikir, cara memandang dunia, sekaligus cara seseorang memahami dirinya sendiri.
Sejarah memperlihatkan, banyak peradaban besar dikenang bukan hanya karena bangunan megahnya, melainkan karena tradisi tulis yang mereka wariskan.
Peradaban Yunani dikenal melalui karya-karya filsafatnya, dunia Islam berkembang melalui manuskrip ilmiah yang memenuhi perpustakaan-perpustakaan babon di Baghdad.
Sementara Nusantara, meninggalkan jejak sejarah melalui naskah lontar, hikayat, babad, hingga surat-surat kerajaan.
Bahkan La Galigo, karya sastra epos mitos terpanjang di dunia dari suku Bugis Sulawesi Selatan, melampaui Mahabharata.
Semua itu membuktikan, tulisan mampu melampaui usia penulisnya.
Menulis, bahkan menjadi jantung ilmu pengetahuan.
Sebuah penelitian, sebuah ide yang tidak ditulis akan berhenti sebagai pengetahuan pribadi semata.
Demikian pula, pengalaman lapangan yang tidak didokumentasikan akan hilang bersama waktu.
Budaya menulis sesungguhnya merupakan budaya berbagi pengetahuan.
Melalui tulisan, ilmu dapat diuji, diperdebatkan, diperbaiki, dan dikembangkan generasi berikutnya.
Tradisi tulis, demikian Pemikiran Walter J. Ong, dalam karyanya, Orality and Literacy… (2002), telah mengubah cara manusia berpikir.
Menurut Ong, tulisan memungkinkan manusia mengembangkan pemikiran yang lebih reflektif, sistematis, dan kritis dibandingkan komunikasi lisan semata.
Ketika seseorang menulis, ia dipaksa menyusun argumen secara runtut, sistematis, memilih kata secara hati-hati, dan mempertanggungjawabkan setiap gagasan yang disampaikan.
Menulis, sesungguhnya juga merupakan latihan berpikir.
Hal yang sama dikemukakan Stephen King dalam On Writing (2000).
Meskipun King dikenal sebagai novelis, ia menegaskan, menulis tidak lahir dari bakat semata, melainkan dari kebiasaan membaca dan disiplin menulis setiap hari.
King menandaskan, seorang penulis dibentuk oleh latihan yang terus-menerus. Bukan oleh inspirasi sesaat.
Pesan ini penting bagi siapa pun yang ingin membangun budaya literasi.
Tidak ada penulis besar yang lahir tanpa kebiasaan menulis.
Sayangnya, masyarakat kita masih menghadapi paradoksalitas literasi.
Banyak orang gemar berbicara, tetapi sedikit yang menuliskan gagasannya.
Hal lain, seminar dan diskusi berlangsung hampir setiap hari, festival literasi digelar di berbagai tempat, namun hasilnya kerap berhenti sebagai percakapan. Memenuhi kewajiban program.
Tulisan memiliki kemampuan menyimpan memori kolektif yang tidak dimiliki pembicaraan lisan.
Apa yang ditulis dapat dibaca ulang, dikritisi, bahkan dijadikan pijakan bagi lahirnya pemikiran baru.
Fenomena media sosial juga menghadirkan tantangan tersendiri.
Ruang digital memang membuka kesempatan bagi siapa saja untuk menulis.
Namun, tidak semua tulisan lahir dari proses berpikir yang matang.
Banyak tulisan dibuat sekadar mengejar perhatian, bukan menyampaikan pengetahuan.
Akibatnya, ruang digital dipenuhi informasi yang cepat viral, tetapi cepat pula menguap dan dilupakan.
Budaya instan ini acap menggeser tradisi menulis yang memerlukan kesabaran, ketelitian, dan kedalaman berpikir.
Padahal, menulis yang baik bukanlah soal menghasilkan kalimat yang rumit dengan logika sungsang.
Tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menjelaskan gagasan secara jernih, mudah, sehingga dapat dipahami pembacanya.
Penulis tidak sedang memamerkan kecerdasannya, melainkan membantu orang lain memahami suatu persoalan.
Makin jelas sebuah tulisan, makin besar pula manfaatnya bagi masyarakat.
Bagi pelajar dan mahasiswa, dosen dan guru, menulis merupakan sarana membangun reputasi akademik.
Gelar sarjana, magister, bahkan doktor hanya menjadi awal perjalanan.
Yang membuat seorang akademisi dikenang adalah karya tulisnya.
Artikel ilmiah, buku, opini, maupun hasil penelitian untuk jurnal akan terus dibaca selama masih relevan.
Pelajar dan mahasiswa, eloknya, tidak harus menunggu lulus untuk mulai menulis.
Tradisi menulis perlu dibangun sejak awal agar kemampuan berpikir kritis berkembang secara alami.
Sementara dosen, peneliti, guru, menulis merupakan bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakat.
Pengetahuan yang diperoleh dari penelitian tidak boleh berhenti di ruang kampus.
Ia harus diterjemahkan menjadi tulisan yang dapat dibaca publik, sehingga ilmu pengetahuan benar-benar memberi manfaat sosial.
Kampus yang kuat bukan hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menghasilkan karya tulis yang menjadi rujukan bagi penyelesaian berbagai persoalan daerah dan bangsa.
Sementara menulis bagi masyarakat pada umumnya, merupakan cara mendokumentasikan kehidupan.
Kisah keluarga, pengalaman bertani, tradisi lokal, sejarah kampung, hingga pengetahuan tentang rempah-rempah merupakan kekayaan yang akan hilang apabila tidak dituliskan.
Banyak tradisi lokal punah bukan karena tidak pernah ada, melainkan karena tidak pernah dicatat.
Menulis menjadi bentuk pelestarian budaya yang paling sederhana sekaligus paling efektif.
Akhirnya, menulis bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga tindakan sosial.
Setiap tulisan merupakan upaya menghadirkan diri di tengah kehidupan bersama.
Tulisan mempertemukan pengalaman pribadi dengan kepentingan publik, menghubungkan masa lalu dengan masa depan, serta menjadikan pengetahuan sebagai milik bersama.
Tatkala seseorang terus menulis, ia sedang membangun warisan yang dapat melampaui batas ruang dan waktu.
Membangun kebiasaan menulis, sesungguhnya berarti membangun peradaban.
Bangsa yang gemar menulis akan memiliki arsip pengetahuan yang kaya, tradisi berpikir yang kritis, serta kemampuan belajar dari pengalaman sejarahnya sendiri.
Di tengah derasnya arus informasi, tulisan yang lahir dari refleksi mendalam akan tetap menemukan pembacanya.
Dan, selama gagasan masih terus dituliskan, selama itu pula manusia meninggalkan jejak yang bermakna bagi dunia. Karenanya, aku menulis, maka aku ada. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.