Oleh: Murid Tonirio

Dosen FUAD IAIN Ternate

_______

DELAPAN foto mantan pimpinan IAIN Ternate –Dekan, Ketua, Rektorberbaris di ruang rapat Rektorat IAIN Ternate. Foto-foto itu sama persis pas foto pada kartu identitas, namun berbeda fungsi. Pas foto di kartu identitas menjadi semacam alat seorang petugas bandara, misalnya, memvalidasi wajah dan nama pada kartu identitas adalah wajah yang sama, yang tampak di matanya, dan  nama yang tertera di tiket. Delapan foto di dinding sisi timur ruang rapat Rektorat adalah monumen. Saya memanfaatkan delapan foto ini untuk menulis sejarah IAIN Ternate dalam satu tarikan nafas dengan sejarah sosial-budaya orang-orang Maluku Utara, untuk mengintip sepintas lalu dinamikaprogres dan stagnasi– yang telah sedang dialami IAIN Ternate sejauh ini.

Ada banyak cara menulis sejarah institusi dan sejarah sosial-budaya komunitas, salah satunya menjadikan individu berpengaruh, berikut karya mereka, sebagai titik masuk. Dengan cara itu, institusi dan komunitas mesti dikiaskan sebagai “individu”. Dari situ kita kemudian kita bisa merujuk pada epistemologi sebagai basis penjelas. Salah satu cara yaitu memilih Jean Paul Sartre yang menempatkan individu sebagai diri-subyek di antara karyanya dan sejarah sosialnya. Menurut Sartre, individu selalu merupakan diri-subyek yang tunggal, dan jamak sekaligus. Dia tunggal karena ditunggalkan oleh karya-karyanya, dan menjadi jamak karena dijamakkan oleh sejarah sosial. Dalam konteks itu, menulis sejarah merupakan usaha terus menerus menautkan masa lalu, masa kini, dan masa depan menjadi satu lanskap sejarah.

Berangkat dari seni, delapan foto mantan pimpinan bisa dilihat sebagai hal yang dapat menceritakan beberapa lanskap sejarah. Karena di bawah nama mereka ada angka-angka tahun masa pengabdian, kecuali pada foto Lopa dan Alhadar tidak tertera angka-tahun pengabdian, foto-foto ini, bagi banyak orang foto itu berbicara terbatas pada sejarah IAIN Ternate yang sekarang berusia 60 tahun. Namun, coba perhatikan baik-baik urut-urutan orang-orang dalam foto-foto tersebut: Lopa, Alhadar, Sahbuddin, Noor Sulaiman, Abdullah DP. Yahya Misbah, Abdjan Jahja, dan Marasabessy. Kemudian kita menarik garis-garis yang menghubungkan muasal daerah orang-orang dalam foto-foto itu, cerita apa yang bisa kita urai lebih jauh dari foto-foto tersebut.

Selain Alhadar yang semua orang segera bisa menebak beliau keturunan Arab, mengetahui etnisitas Lopa, dan yang lainnya, membutuhkan pengetahuan khusus. Lopa, Sahbuddin, Noor Sulaiman berasal dari Sulawesi; Lopa dan Sahbuddin dari Mandar, Noor Sulaiman dari Palu. Abdullah DP dan Marasabessy dari Maluku sekarang. Yahya Misbah dan Abdjan Jahja dari Maluku Utara. Bila orang-orang yang beragam etnis ini ditaruh di atas atlas dunia, kemudian kita menarik garis-garis untuk menghubungkan foto-foto satu dengan lainnya, mereka akan membentuk bentangan geografis yang menghubungkan dua benua – Afrika dan Asia Tenggara.

Jika kita menarik lagi garis-garis pendek yang menghubungkan Lopa, Sahbuddin, Noor Sulaiman, Abdullah DP, Yahya Misbah, Abdjan Jahja, dan Marasabessy, segera terlihat peta geografi dengan dua zona waktu berbeda dalam konteks Indonesia modern kini, yakni Indonesia Tengah dan Indonesia Timur. Dan, mari kita tarik lagi garis-garis yang lebih pendek lagi antara Yahya Misbah, Abdjan Jahja, Abdullah DP, Marasabessy, dan Alhadar,  di sana akan ditemukan peta budaya yang berbeda. Abdullah DP (Geser-Seram), Marasabessy (Ambon-Tolehu), dan Alhadar (Arab-Afrika), adalah masyarakat dengan sistem kekerabatan yang solid. Siapa bisa dan tidak bisa menikah dengan siapa diatur oleh adat, dan ditentukan oleh zuriyat. Yahya Misbah dan Abjan Jahja mewakili masyarakat yang sistem perkawinannya tidak diatur secara ketat sistem kekerabatan.

Cerita apa yang dapat kita kisahkan lebih lanjut dari data orang dalam foto, peta geografi muasal etnis mereka, dan sistem budaya dimana mereka hidup? Dua kisah lebih luas bisa konstruksi dari sini. Pertama, delapan foto itu tidak sekadar kisah tentang orang-orang yang telah berkontribusi terhadap pendirian dan perkembangkan IAIN Ternate sejauh ini. Keberadaan mereka, menurut saya, menggambarkan kisah paling padat sejarah sosial-budaya orang-orang Maluku Utara. Sebagaimana diketahui, orang-orang dari suku bangsa Arab, Jawa, dan Melayu, terakhir disebutkan termasuk orang Sulawesi, bersama-sama orang tempatan, telah membentuk sejarah sosial-budaya yang khas Maluku Utara. Karya budaya para pendatang, jika saya bisa sebut demikian, masih terjajah setidaknya dalam nama-nama kampung hingga kini, yakni Kampung Makassar (Malayu Cim) dan Fala Jawa, dengan mayoritas pendudukan keturunan Arab. Fenomena ini menunjukkan bahwa (a) Maluku Utara, sejak entah kapan, merupakan wilayah melting pot (wadah peleburan) beragam suku bangsa menjadi satu kesatuan budaya: budaya hibrid.

Sebagaimana Maluku Utara, IAIN Ternate telah menjadi melting pot sedari awal. Muasal suku bangsa mantan pimpinan seperti dipaparkan di atas adalah salah satu, kalau bukan satu-satunya, bukti tidak terbantahkan IAIN Ternate adalah melting pot, yang meleburkan orang-orang dari budaya berbeda, menyatu untuk membangun perguruan tinggimeminjam kata-kata Rektor IAIN Ternate, Dr. Adnan Mahmud, S.Ag. M.A.– “tradisi besar”. Jadi, bisa saya katakan, inklusivitas yang ditandai oleh sikap hidup yang toleran perbedaan telah menjadi habitus IAIN Ternate sejak mula-mula. Dalam pandangan saya, sikap hidup inklusif inilah yang menjadi kekuatan IAIN Ternate meraih kemajuan pada suatu masa, dan kampus ini mengalami stagnasi, bahkan kemunduransetidaknya selama delapan tahun terakhirsaat pimpinan mengabaikan inklusifitas yang, sekali lagi, menjadi habitus IAIN Ternate.

Maksud saya, saat sejumlah tokoh Islam menyadari bahwa suatu suku bangsa bisa mengalami kemajuan kualitatif di era modern, jika dan hanya jika, mayoritas populasinya memiliki pendidikan yang baik; ketersediaan guru dalam jumlah memadai menjadi faktor kunci pendidikan, dan menyadari bahwa Maluku Utara hingga awal dekade 1960-an sangat kekurangan guru, para tokoh itu berpikir, kemudian memutuskan untuk mendirikan perguruan tinggi Islam. Namun, karena sumber daya manusia orang-orang tempatan belum atau tidak tersedia cukup, “orang luar” dibutuhkan untuk berpartisipasi. Artinya, para tokoh harus bersikap inklusif, menerima orang luar menjadi bagian, dan menjadi tokoh kunci, dalam usaha mendirikan perguruan tinggi Islam. Sikap hidup inklusif itu mereka tunjukkan dengan menunjuk Lopa menjadi pelobi IAIN Alauddin Ujung Pandang mendirikan kelas Fakultas Tarbiyan di Ternate, sekaligus bersedia menjabat Dekan pertama Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ujung Pandang di Ternate. Ketika sikap inklusif yang menjadi habitus IAIN Ternate dinegasikan oleh pimpinan selama delapan tahun belakangan, IAIN Ternate mengalami kemunduran hampir pada semua aspeknya.

Eksklusivitas yang terjadi di IAIN Ternate selama delapan tahun terakhir tidak ditunjukkan dengan, misalnya, menolak orang luar menjadi dosen atau pegawai, melainkan oleh gaya kepemimpinan pimpinannya. Sebuah gaya kepemimpinan yang dibangun di atas etos pokoke (pokoknya). Dengan etos pokok ke itu, pimpinan menempatkan diri mereka semacam“raja” dimana tubuh biologisnya menjadi kebijakan politik kampus. Maksudnya, keinginan pribadi pimpinan dianggap, dan adalah, menjadi kebutuhan kampus. Karenanya, perbedaan pikiran dalam cara mengembangkan kampus diperlakukan sebagai musuh. Akibatnya mudah diduga, IAIN Ternate tidak saja menjadi institusi pendidikan tinggi yang eksklusif, yang eksistensinya terbatas di sepetak kecil tanah yang dulu diwakafkan sejumlah petani Dufa Dufa kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ujung Pandang di Ternate di masa kepemimpinan Sahbuddin. IAIN Ternate menjadi tereksklusi (terusir) dari pergaulan dunia luar.

Masa-masa suram yang dialami IAIN Ternate selama delapan tahun terakhir bisa saya katakan sudah terlewati sekarang. Proposisi ini, oleh sebagian orang mungkin dianggap sikap  narsisus: Ibarat ayam jantan yang paka dada karena dia berkokok matahari terbit; padahal karena matahari tersebut maka dia terbangun dan berkokok. Tapi, sungguh mati, proposis ini bukan sikap narsis. Saya mengatakan IAIN Ternate telah melewati masa-masa suram, setelah saya mengamati dari dekat gaya kepemimpinan yang dipraktekksn Rektor sekarang, Dr. Adnan Mahmud, S.Ag., M.A. Seperti pimpinan-pimpinan sebelumnya, Adnan memiliki gagasan sendiri, bahkan bisa dibilang memiliki obsesi sendiri yang harus dia realisasikan dalam mengembangkan kampus. Namun, sebagai individu, Adnan sadar sepenuhnya mustahil mewujudkan obsesi-obsesinya itu sendiri. Maka, selain staf, Adnan merangkul semua orang untuk menyumbang pikiran bagaimana mengembangkan kampus.

Yang ingin saya tegas di sini adalah: setelah selama delapan tahun pimpinan IAIN Ternate menafikan inklusivitas yang menjadi habitus, menjadi menjadi batu tumpu yang kokoh kampus ini meraih kemajuan. Ketika inklusivitas ditemukan kembali menjadi basis mengembangkan kampus, kita bisa berharap IAIN Ternate bisa kembali menjadi pusat “tradisi besar”. Mengelola kampus selalu tidak lepas dari pengaruh kondisi sosial-budaya yang mengitarinya. Namun, jika diasumsikan bahwakembali pada Sartre– menulis sejarah (dengan demikian menciptakan sejarah) merupakan upaya terus-menerus menautkan masa lalu, masa kini, dan masa depan menjadi kesatuan, gaya kepemimpinan IAIN Ternate sekarang, yang merangkul orang-orang yang berbeda pikiran untuk menyatu memikirkan cara mengembangkan kampus, kita bisa optimis IAIN Ternate kembali menjadi pusat “tradisi besar”. DIRGAHAYU: 60 TAHUN IAIN TERNATE. (*)