Oleh: Rinto Taib
________
TERNATE, sebuah kota berkelas dunia yang pernah berjaya sebagai episentrum perdagangan rempah dunia ketika itu. Keberadaan kota ini tak lepas dari perjalanan panjang yang berakar dari eksistensi kerajaan awal Ternate sejak era kepemimpinan tradisional yang disebut “Momole” hingga bertransformasi menjadi “Sultan” dengan keberadaan keraton atau kadato sebagai istananya.
Secara administratif dan kewilayahan, kota ini dan masyarakat telah mengalami dinamika perubahan sosial seiring perkembangan jaman yang berlangsung dari masa ke masa. Dalam perkembangan tersebut, Ternate tumbuh dan berkembang dengan keberadaan kampung-kampungnya yang juga tak dapat dilepaspisahkan dari akulturasi budaya yang berasal dari berbagai belahan dunia seperti Arab, Persia, Cina, Gujarat hingga bangsa-bangsa Eropa yang semuanya meninggalkan jejak arkeologis dan kulturnya hingga berdampak pada pengetahuan lokal hingga orientasi nilai yang membentuk masa depan Ternate saat ini yang kini kita kenal sebagai “Kota Rempah”.
Sejarah kampungnya bukanlah sekadar penanda fisik teritorial dari sebuah perkampungan semata melainkan pula sarat makna filosofis, historis hingga vegetasi alam yang membentuknya.
Beberapa kawasan di Kota Ternate tak lepas dari dimensi vegetasi alam yang turut disematkan sebagai nama kawasan atau kampung di Ternate seperti Buku Deru Deru (Bukit), Dufa Dufa (Tebing), Ake Huda (Air Sagu), Ake Ruru (Air yang mengalir), dan sebagainya.
Setidaknya inilah catatan saya ketika diminta sebagai narasumber pada launching buku Asal Usul Nama Kampung di Ternate karya Fafli Marwan pada Sabtu (5/9/2026) di benteng Oranje.
Buku ini membuka sedikit gambaran atas makna-makna simbolik dan juga dinamika ruang kekuasaan sebagai ibu kota kerajaan/kesultanan yang terus menggeliat dengan segala konsekuensi, juga kemampuan adaptif atas dinamika yang dialaminya.
Mendiskusikan buku ini kita akan memahami relasi sosial dan historikal pemukiman pada masa lalu yang bertahan hingga masa kini, antara lain dapat dibaca dari beberapa aspek.
Pertama: Sebaran penduduk, segregasi pemukiman berdasar pengelompokan seperti Kampung Sarani yaitu komunitas Kristen dan keturunan Eropa, Fala Jawa yaitu Komunitas keturunan Arab, Kampung Tengah dan Kampung Makassar yaitu bagi komunitas keturunan Cina dan Melayu di sekitar fort Malayo (fort Oranje).
Kedua: Berdasar pada profesi penduduk seperti Kampung Salero yaitu tempat bermukim para pembuat Kalero sebagai bahan yang diperlukan bagi pembangunan benteng.
Keriga: Berdasarkan sratifikasi sosial seperti Kelurahan Tobololo sebagai kalangan tukang atap kedaton (Kati Maderu), Soa Sio sebagai basis pemukiman para kalangan dari 9 (sembilan) klan atau marga di kesultanan Ternate.
Keempat: Berdasar bagian tertentu sebuah kota seperti Gam Lamo yang mengalami transformasi dari Kastela (Sampalo) ke kawasan yg saat ini kita kenal sebagai Soa Sio.
Kelima: Basis migrasi penduduk yang menjadi ciri atau identitas asal usul daerah sebelumnya seperti Kampung Sulamadaha, Kampung Facei, Kampung Moya yang berasal dari Sula.
Toponimi tersebut sarat makna simbolik atas relasi kuasa antara golongan hingga kemudian turut pula berpengaruh pada dinamika pertumbuhan kota dari kota lama menjadi kota baru.
Mendiskusikan asal usul kampung di kota ini, kita diajak untuk menelusuri lorong waktu, realitas kesejarahan atas dinamika keberagaman dan keagamaan warganya serta perkembangan dari setiap sudut ruang kotanya dari perjalanan panjang sejak era “Momole” hingga kini. Atau dengan kata lain sejak era kehidupan tradisional, kolonial hingga milenial di masa kini.
Di era tradisional misalnya kita membaca kota ini dari cerita tentang kampung Foramadiahi dan lainnya yang menjadi cikal bakal dan pusat kekuasaan dan peradaban ketika itu. Sebagai lokus kekuasaan Ternate awal yang dipimpin oleh Cico Bunga atau Baab Mashur Malamo sebagai Kolano pertama yang kita temukan dalam berbagai literatur sejarah.
Pada periode kolonial kita berkaca dari pemukiman di Kampung Kastela dengan kehadiran orang Eropa dan infrastruktur perkotaannya yang seolah menjadi simbiosis antara tradisi dan modernitas (globalisasi awal) lewat perdagangan rempahnya ketika itu yang bertransformasi menjadi “negara” bagian Spanyol (ibu kota Spanyol di Maluku) sebagaimana terbaca jelas pada sebuah monumen peringatan 500 tahun pelayaran Maggelan Elcano dalam kawasan benteng Mistar Senhora tersebut.
Akhirnya momentum merawat diskursus dan wacana seperti ini tidak sekadar merawat nalar dan bangkitkan kesadaran historis semata melainkan juga sebagai cikal bakal atau setidaknya sebagai pengingat untuk terus merawat tradisi intelektual di ruang pusaka sebagai living museum sekaligus juga pemantik untuk terus menggali dan melestarikan khazanah budaya bangsa. Semoga berdampak. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.