Tandaseru — Cerita rakyat tidak sekadar kisah masa lalu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di dalamnya tersimpan ingatan kolektif, identitas, nilai budaya, sekaligus potensi ekonomi yang dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat masa kini.

Potensi itulah yang kini tengah digali Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui riset yang dilakukan Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas. Bekerja sama dengan Universitas Khairun (Unkhair), tim peneliti BRIN melakukan inventarisasi dan rekonstruksi cerita rakyat di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara.

Salah satu cerita yang menjadi perhatian utama adalah Legenda Putri Dehegila. Legenda tersebut tidak hanya akan ditempatkan sebagai warisan sastra lisan, tetapi juga dikaji untuk menemukan berbagai elemen budaya yang berpotensi dikembangkan menjadi basis industri kreatif.

Riset ini diarahkan untuk mengoptimalkan cerita rakyat sebagai sumber identitas budaya yang dapat terintegrasi dengan kekuatan Morotai lainnya, terutama keindahan alam, sejarah, serta gugusan pulau yang dimilikinya.

Kisah Putri Dei dan Kapita Sopi

Legenda Putri Dehegila berkisah tentang seorang putri cantik bernama Dei. Karena usianya telah dianggap cukup untuk menikah, ayahnya, seorang pemimpin di wilayah tersebut, bermaksud mencarikan pasangan yang dianggap pantas bagi putrinya.

Untuk menentukan calon suami Putri Dei, digelarlah sebuah sayembara berupa pertarungan bela diri. Sayembara tersebut akhirnya dimenangkan oleh Kapita Sopi, tokoh yang dalam legenda disebut berasal dari wilayah utara Morotai.

Namun, kemenangan dalam sayembara itu belum serta-merta membuat Kapita Sopi dapat mempersunting Putri Dei. Ada sebuah syarat yang harus dipenuhi sebagai mahar perkawinan.

Kapita Sopi diminta memindahkan pulau-pulau yang berada di wilayah utara Morotai ke wilayah selatan hanya dalam waktu satu malam.

Tugas itu berhasil dilakukan. Dari sejumlah pulau yang hendak dipindahkan, sebagian besar berhasil sampai ke wilayah selatan. Dalam salah satu versi yang berkembang di masyarakat, dari dua belas pulau yang hendak dipindahkan, sebelas berhasil mencapai wilayah selatan, meskipun salah satunya disebut tiba tidak bersamaan dengan pulau-pulau lainnya.

Dalam versi tersebut, kegagalan memindahkan seluruh pulau tidak membatalkan perkawinan. Kapita Sopi tetap diterima sebagai pasangan Putri Dei dan perkawinan keduanya kemudian dirayakan bersama masyarakat.

Satu Legenda, Banyak Versi

Di tengah masyarakat, legenda tersebut ternyata tidak hadir dalam satu versi tunggal.

Berdasarkan keterangan sejumlah narasumber yang dihimpun tim peneliti, terdapat beberapa varian cerita tentang Putri Dehegila. Dalam satu versi, pihak yang menetapkan syarat mahar adalah Sangaji, ayahanda Putri Dei. Dalam versi lainnya, justru Putri Dei sendiri yang mengajukan syarat tersebut.

Perbedaan juga ditemukan pada kisah mengenai asal-usul pulau. Ada versi yang menyebutkan bahwa pulau-pulau tersebut dipindahkan oleh Kapita Sopi. Sementara versi lainnya menggambarkan pulau-pulau itu sebagai sesuatu yang diciptakan.

Bagi tim peneliti, perbedaan tersebut bukan semata-mata persoalan untuk menentukan versi mana yang paling benar. Variasi cerita justru merupakan bagian penting dari tradisi lisan yang menunjukkan bagaimana sebuah legenda diwariskan, ditafsirkan, dikembangkan, dan terus dimaknai oleh masyarakat dari generasi ke generasi.

Karena itu, melalui riset ini, berbagai versi tersebut akan dikaji secara kritis untuk memahami konteks, variasi, transmisi, dan makna yang berkembang di tengah masyarakat. Penelitian tidak dimaksudkan untuk menyeragamkan versi cerita, melainkan mendokumentasikan keragaman tradisi lisan sekaligus memahami konteks sosial-budaya yang melatarbelakanginya.

Dari Cerita Rakyat ke Industri Kreatif

Menurut tim peneliti BRIN, legenda yang selama ini tersimpan dalam ingatan masyarakat dapat dibentangkan kembali sebagai bagian dari penggalian identitas budaya Morotai.

Yang digali bukan hanya jalan cerita, tetapi juga dunia budaya yang menyertainya: karakter tokoh, relasi antartokoh, pakaian, senjata, kapal, lanskap kepulauan, simbol, kuliner, serta gambaran kehidupan masyarakat yang hadir dalam narasi.

Elemen-elemen tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan berbagai subsektor ekonomi kreatif, mulai dari arsitektur, seni pertunjukan, kriya, kuliner, fesyen, film, fotografi, penerbitan, komik, hingga gim digital dan penyelenggaraan acara.

Dengan demikian, cerita rakyat tidak berhenti sebagai dokumentasi masa lalu. Ia dapat diolah menjadi produk budaya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas daerah.

Pengembangan tersebut juga harus memastikan bahwa manfaat sosial, budaya, dan ekonomi dapat kembali kepada masyarakat serta dilakukan dengan menghormati nilai, konteks, dan hak budaya komunitas yang bersangkutan.

Pendekatan sepert itu juga memungkinkan cerita Putri Dehegila terhubung dengan kekuatan wisata Morotai. Lanskap pulau-pulau yang menjadi bagian dari legenda dapat dipertautkan dengan pengalaman wisata, sementara tokoh, cerita, simbol, dan artefak budaya dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.

Riset Berkelanjutan

Riset BRIN bersama Universitas Khairun ini dirancang berlangsung selama tiga tahun.

Pada tahap pertama, yang dilaksanakan pada 2026, tim peneliti berfokus pada inventarisasi cerita rakyat serta identifikasi berbagai elemen naratif dan budaya yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif.

Tahap kedua dan ketiga akan diarahkan pada pengembangan serta implementasi berbagai keluaran riset. Dengan demikian, proses penelitian tidak berhenti pada dokumentasi dan publikasi, tetapi dilanjutkan menuju pemanfaatan hasil riset bagi masyarakat dan daerah.

Tim peneliti BRIN berharap proses tersebut dapat dilakukan secara kolaboratif dengan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, kesultanan, pelaku usaha, investor UMKM, komunitas adat, pelaku seni dan budaya, serta seluruh elemen masyarakat Morotai.

Kolaborasi tersebut dinilai penting karena pengembangan cerita rakyat sebagai sumber ekonomi kreatif tidak dapat dilakukan hanya oleh lembaga penelitian. Masyarakat sebagai pemangku pengetahuan dan kebudayaan harus menjadi bagian utama dalam proses pengembangan tersebut.

Pada akhirnya, riset tentang Putri Dehegila diharapkan tidak hanya menghidupkan kembali sebuah legenda yang telah lama tersimpan dalam ingatan masyarakat. Lebih jauh, riset ini diharapkan membuka jalan bagi Morotai untuk menjadikan kekayaan budayanya sebagai kekuatan ekonomi baru—sebuah cara untuk mempertemukan warisan masa lalu, kreativitas masa kini, dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.

Sahril Abdullah
Editor
Sahril Abdullah
Reporter