Oleh: Malo
Jurnalis
_______
SUNGGUH hati saya sangat terpukul mendengar kabar dari Jakarta pada Kamis kemarin, 24 September, selepas waktu ibadah Magrib. Kabar itu saya dapatkan dari grup WhatsApp. Teman saya mengirim ciutan dengan kalimat “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”. Saya tidak tahu sama sekali kabar itu karena sedang mengendarai roda dua dalam perjalanan dari Maba ke Subaim.
Saya lalu beristirahat di tempat pangkas rambut Nusantara milik Bang Yos di SP3 untuk memotong rambut yang sudah mulai memanjang. Sambil menunggu antrean keempat, saya duduk di teras sambil mengeluarkan rokok Sampoerna dari kantong jaket, lalu mengisap sebatang dan menyalakan ponsel dari genggaman.
Ketika ponsel menyala, grup Humas sudah ramai. Sejawat saya mengucapkan belasungkawa. Saya pun kaget, pikiran saya langsung tertuju kepada Om Pio yang sedang dirawat di RSCM Jakarta. Kabar itu adalah kepergian Om Pio, sapaan akrab kami sehari-hari kepada almarhum Hanafi Buka. Om Pio meninggalkan kita semua—kerabat, sahabat, teman, dan sanak keluarga—di hari yang baik, Kamis malam Jumat.
Jenazah almarhum diterbangkan dari Jakarta ke Kota Ternate pada hari ini, Jumat, 25 September. Dari Ternate, jenazah menyeberang menggunakan speedboat ke Sofifi, kemudian dibawa ke Kota Maba untuk dimakamkan di tempat peristirahatan terakhir. Om Pio menutup usianya tepat pada umur 53 tahun.
Sungguh, kepergian Om Pio menyayat hati. Rasa sedih ini begitu mendalam hingga tak sanggup saya bayangkan. Saya tidak menyangka kepergian itu akan datang begitu cepat—melampaui rencana kita untuk kembali menyapa, tertawa, dan saling bercanda. Ia sangat dekat dengan semua jurnalis, termasuk saya salah satunya.
Tentu kehilangan sosok sahabat seperti Om Pio meninggalkan kenangan yang membekas di hati. Om Pio adalah sosok yang suka bercanda. Tiap cerita lucunya membuat kita semua tertawa dan senang mendengarnya. Ketika kami duduk bersama, Om Pio selalu menceritakan hal-hal lucu yang membuat suasana terasa hangat dan penuh keakraban.
Om Pio adalah sang “pengabdi yang ikhlas”—sebuah istilah bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) atas pengabdian hidupnya terhadap negara dan daerah. Memang saya mengenal Om Pio sebagai ASN yang teladan, loyal, santun, dan disiplin dalam bertugas. Namun, di sisi lain, ia juga sosok ASN yang humoris dan suka bercanda.
Saya mengenalnya belum terlalu lama, sekitar 6 tahun lalu, tetapi sekali kenal langsung terasa akrab. Om Pio biasa menyapa temannya dengan panggilan “Mas”, termasuk kepada saya. Panggilan “Mas” kepada semua kerabat ini menjadi pembuka jalan komunikasi. Ia menggunakan istilah tersebut, lalu bercerita dengan tutur kata bahasa Indonesia baku.
Om Pio menutup karier terakhirnya di dunia birokrasi sebagai Penelaah Teknis Kebijakan di Bagian Umum dan Perlengkapan Sekretariat Daerah Kabupaten Halmahera Timur. Sebelumnya, ia bertugas di Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (BP4D) Halmahera Timur.
Saya mengenalnya sebagai sosok yang teladan, disiplin, dan teliti dalam bekerja. Ia bekerja tanpa mengenal lelah dan pamrih; kadang hingga larut malam ia masih menyelesaikan tumpukan pekerjaan. Bekerja penuh disiplin dan ketelitian adalah cerminan sosok birokrat tulen yang memahami betul tugas dan fungsi yang melekat pada dirinya.
Saya pernah menyaksikan Om Pio mengembalikan berkas dari salah seorang staf di Bagian Umum gara-gara bukti administrasi yang tidak lengkap. Ia secara tegas mengembalikan berkas tersebut dan meminta agar kebutuhan data dokumen daerah yang akan dipertanggungjawabkan secara administrasi segera dilengkapi.
Ia menolak menandatanganinya hanya karena kekurangan bukti yang menurut sebagian orang bisa dilengkapi belakangan. Namun baginya, cara kerja seperti itu tidak diperbolehkan. Ia menolak bukan karena tidak mau memparaf, melainkan sebagai bentuk disiplin kerja yang harus dicontoh oleh banyak orang, terutama rekan kerjanya di Bagian Umum dan Perlengkapan Sekretariat Daerah.
Apalagi Om Pio bukan orang baru dalam birokrasi Halmahera Timur. Ia meniti karier bertahun-tahun dan memiliki segudang pengalaman. Meracik administrasi dan pelaporan adalah pekerjaannya sehari-hari. Ia tahu betul fundamental kerja dalam birokrasi bukanlah hal yang mudah, terlebih semua pekerjaan harus berlandaskan regulasi dan ketentuan.
Om Pio memahami betul bagaimana birokrasi dijalankan secara hirarkis serta bagaimana mengordinasikan pekerjaan kepada atasannya. Itu adalah bagian dari karakteristik birokrasi yang dijalankan secara efektif, dan Om Pio bergelut dengan semua itu setiap hari. Ia menjadikan pekerjaannya sebagai jalan hidup untuk mengabdi di Halmahera Timur, dan hal itu akan dikenang selamanya dari generasi ke generasi.
Ia meninggalkan segudang kenangan, dedikasi kerja yang tinggi, serta sikap yang ramah dan santun kepada siapa saja. Hal itulah yang tidak bisa kami lupakan; sosok sahabat, teman, sekaligus orang tua kami, Om Pio, akan selalu terbayang. Saya sangat berterima kasih pernah mengenalnya, semoga kebaikannya menjadi ladang amal ibadah.
Selamat jalan, Om Pio. Kami selalu memanjatkan doa dan mengirimkan Al-Fatihah untukmu. Semoga rasa sakitmu selama ini menjadi pengugur dosa, dan semoga Allah menempatkanmu di surga Jannatul Firdaus. Amin. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.