Tandaseru — Tak jauh dari daratan Pulau Halmahera bagian utara, tepatnya di seberang Desa Mawea, tersembunyi surga bagi pekerja remote. Jika kamu mencari tempat tenang namun berfasilitas lengkap untuk bekerja sembari liburan (workation), Meti Cottage adalah jawabannya.
Meti Cottage terletak di Pulau Meti, Kecamatan Tobelo Timur, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Pada 28 Juli 2026, tandaseru.com berkesempatan menginap di resort yang mengusung konsep ecotourism itu selama 3 hari untuk mengikuti Capacity Building yang digagas Bank Indonesia Kantor Perwakilan Maluku Utara. Di pulau kecil yang dikelilingi perairan jernih bergradasi biru-turkis ini, waktu seolah berjalan lebih lambat—menawarkan pelarian sempurna dari bisingnya aktivitas perkotaan.

Harmoni Alam dan Kesederhanaan di Meti Cottage
Mengusung konsep ekowisata, Meti Cottage dirancang dengan meminimalisasi dampak terhadap ekosistem lokal. Bangunan-bangunan cottage didominasi material alami berupa kayu, dan bambu, dipadukan dengan arsitektur tradisional yang memungkinkan ventilasi udara alami mengalir bebas.

Di sini, tamu tidak hanya diajak menginap, tetapi juga menyelami gaya hidup berkelanjutan. Pagi hari diawali dengan pemandangan matahari terbit yang memikat tepat dari teras kamar, diikuti aktivitas air seperti snorkeling atau diving di terumbu karang yang masih terjaga keasriannya. Keanekaragaman hayati bawah laut Meti menjadi surga tersendiri bagi para pencinta pesona bahari.
Meti Cottage menyediakan pilihan menginap beragam, tergantung kebutuhan tamu. Mulai dari family room, romantic room, gazebo hingga tenda. Tiap pilihan menawarkan pengalaman unik, seperti gazebo yang memberikan sensasi tidur di pinggir pantai dengan deburan ombak kecil sebagai temannya.
Tetamu Meti Cottage akan mendapat sarapan, makan siang dan makan malam yang sudah termasuk dalam layanan inap. Menu yang disediakan beragam, didominasi makanan laut dan buah tropis, dengan rasa yang terbilang lezat. Bar dan kantin dengan berbagai pilihan minuman dan makanan pun memastikan tamu tak akan kelaparan. Pengelola juga menyediakan pilihan sarapan di Pasir Timbul, sebuah pulau pasir putih mungil yang hanya muncul saat laut surut.

Fasilitas lain yang dapat digunakan tamu adalah meeting room dengan konsep terbuka, dan wifi kencang. Rapat daring hingga presentasi tak akan jadi masalah di sini.
Adi, pemilik Meti Cottage, sudah hampir satu dekade mengembangkan ecotourism di pulau ini. Ia mempekerjakan 12 karyawan lokal maupun nasional untuk membantunya. Para karyawan diajak merangkul dan mempraktikkan konsep pariwisata berkelanjutan.
Praktik pariwisata berkelanjutan benar-benar digarap serius, mulai dari penggunaan plastik yang benar-benar minimum, larangan membuang sampah sembarangan hingga ajakan penggunaan air bersih secara bijaksana. Pengelola Meti Cottage bahkan tak menyediakan sikat gigi dan pasta untuk menghindari sisa sampah benda-benda tersebut.
“Sementara campaign terhadap masyarakat lokal untuk melindungi kawasan ini juga terus kami lakukan, supaya sejalan dengan konsep sustainability,” terang Adi.
Aktivitas yang paling banyak diminati tamu Meti Cottage adalah berenang di laut biru nan jernih. Airnya yang hangat dan tenang membuat sesi renang menjadi terapi pelepas beban kerja.
Jejak Jepang di Meti
Di balik keasrian alamnya yang memanjakan mata, Pulau Meti menyimpan lembaran sejarah kelam namun memikat dari masa Perang Dunia II. Pada paruh pertama abad ke-20, kawasan Halmahera Utara—khususnya Tobelo dan Kao—menjadi basis pertahanan strategis militer Kekaisaran Jepang di Pasifik Selatan untuk membendung pergerakan pasukan Sekutu.

Pulau Meti turut memegang peranan penting dalam panggung sejarah tersebut. Di pulau ini, tentara Jepang mendirikan benteng pertahanan, landasan pacu, sumur, bunker, serta pos pengamatan maritim. Hingga hari ini, sisa-sisa peninggalan era perang tersebut masih dapat dijumpai di beberapa titik pulau. Pondasi beton tua, sisa perbentengan, meriam, hingga cerita tuturnya yang diwariskan secara turun-temurun menjadi bukti bisu betapa pulau yang kini damai ini pernah menjadi saksi perang berkecamuk di Pasifik.
Perpaduan antara wisata alam dan wisata sejarah (heritage tourism) inilah yang memberikan nilai tambah unik bagi pengunjung Meti Cottage. Para wisatawan dapat melakukan jelajah sejarah pendek menyusuri jejak-jejak peninggalan Perang Dunia II sebelum kembali menikmati ketenangan pantai.
Kini, Pulau Meti telah bertransformasi total dari pulau perlintasan militer di masa lalu menjadi kawasan wisata berbasis masyarakat yang ramah dan inklusif. Kehadiran Meti Cottage turut memberikan dampak positif bagi perekonomian warga lokal melalui keterlibatan dalam pengelolaan pariwisata, penyediaan bahan pangan lokal, hingga jasa transportasi perahu.
Akses menuju pulau ini pun kian mudah. Pengunjung cukup menempuh perjalanan darat dari pusat Kota Tobelo menuju pelabuhan penyeberangan terdekat, lalu dilanjutkan dengan perahu bermotor selama kurang lebih 15–20 menit.
Meski geliat pariwisata terus berkembang, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah menjaga keseimbangan antara komersialisasi dan kelestarian lingkungan. Pengelola Meti Cottage bersama masyarakat setempat berkomitmen terus menjaga kebersihan pantai, merawat terumbu karang, dan mempertahankan kearifan lokal.
Menikmati senja di Meti Cottage—sambil membayangkan riwayat sejarah yang pernah melintasinya—memberikan pemahaman mendalam bahwa tempat ini bukan sekadar destinasi pelepas penat, melainkan ruang di mana sejarah masa lalu dan kelestarian alam masa kini berpadu dengan indah.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.