Tandaseru — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair) memaparkan hasil sementara riset serta rencana pengembangan potensi ekonomi kreatif berbasis cerita rakyat dan kebudayaan lokal Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara.
Pemaparan tersebut dilakukan tujuh periset yang tergabung dalam tim riset, yakni Dessy Wahyuni selaku ketua tim, bersama Sriyono, Drajat Agus Murdowo, M. Syarif Hidayat, Ricky A. Manik, Muawal Panji Handoko, dan Hudan Irsyad sebagai anggota tim.
Dalam pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, Rabu (19/8/2026), tim menyampaikan hasil riset mengenai Legenda Putri Dehegila sekaligus memaparkan kemungkinan pengembangan berbagai potensi daerah dengan menjadikan cerita rakyat sebagai basis narasi produk dan identitas budaya.
Bupati Morotai Rusli Sibua menyambut positif kedatangan tim peneliti dan gagasan yang ditawarkan. Ia menilai pengembangan kebudayaan lokal melalui riset dapat membuka perspektif baru bagi pembangunan ekonomi masyarakat Morotai.
Menurut Rusli, identitas Morotai selama ini lebih banyak dikenal melalui sejarah Perang Dunia II, terutama keberadaan Jenderal Douglas MacArthur dan berbagai situs peninggalan perang. Padahal, Morotai memiliki kekayaan budaya dan cerita rakyat yang dapat menjadi sumber identitas sekaligus kekuatan ekonomi kreatif.
Ia bahkan menyatakan tidak sabar melihat hasil akhir riset yang dilakukan BRIN dan FIB Unkhair. Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai juga berharap kunjungan dan penelitian lanjutan dapat difasilitasi secara lebih optimal oleh pemerintah daerah.
“Morotai tidak hanya memiliki sejarah Perang Dunia II. Ada kebudayaan, cerita rakyat, dan pengetahuan lokal yang juga perlu diangkat,” ujarnya.
Sekretaris Daerah Morotai Muhammad Umar Ali mengungkapkan, masih banyak cerita rakyat Morotai yang belum terdokumentasikan dan dikembangkan secara serius.
Selain Legenda Putri Dehegila, sejumlah cerita lain yang disebut antara lain cerita Burung Tohoko, kisah mengenai pemindahan pulau dari wilayah utara Morotai ke selatan, serta berbagai cerita lokal lainnya yang hidup dalam ingatan masyarakat.
Kekayaan cerita tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sumber inspirasi bagi produk ekonomi kreatif. Cerita rakyat tidak lagi ditempatkan semata-mata sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dapat diolah menjadi narasi yang memberi nilai tambah terhadap produk, destinasi wisata, seni, kuliner, kerajinan, hingga berbagai subsektor ekonomi kreatif lainnya.
“Cerita rakyat bukan hanya untuk diceritakan, tetapi dapat menjadi identitas yang memberi makna pada produk Morotai,” paparnya.
Kelapa Bido dan Narasi Produk Morotai
Pembicaraan juga mengarah pada potensi Kelapa Bido, salah satu komoditas yang menjadi kekayaan lokal Morotai.
Nama Bido berasal dari sebuah tempat di Morotai yang dalam cerita masyarakat berkaitan dengan penemuan kelapa yang terapung di laut. Kelapa tersebut kemudian ditanam di Desa Bido dan berkembang menjadi salah satu varietas yang dikenal sebagai kelapa Bido.
Komoditas ini dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan tidak hanya dari sisi produk, tetapi juga melalui kekuatan narasi budaya yang menyertainya. Dengan menghubungkan komoditas lokal dengan cerita, sejarah, filosofi, dan identitas Morotai, sebuah produk dapat memiliki daya pembeda yang lebih kuat ketika dipasarkan kepada masyarakat maupun wisatawan.
Dalam konteks tersebut, cerita Putri Dehegila dan figur Kapita Sopi dapat menjadi salah satu sumber inspirasi untuk membangun penamaan, identitas visual, kemasan, hingga narasi pemasaran produk unggulan Morotai.
Pendekatan ini memungkinkan produk lokal tidak sekadar menjadi barang yang diperjualbelikan, tetapi juga membawa cerita mengenai asal-usul, nilai, dan identitas masyarakat Morotai.
Membayangkan Morotai melalui Produknya Sendiri
Pertemuan antara tim riset BRIN-FIB Unkhair dan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai kemudian berkembang menjadi sebuah pembayangan mengenai masa depan identitas budaya Morotai.
Suatu saat, minuman yang disajikan di meja pertemuan bupati dengan para tamu diharapkan bukan lagi sekadar minuman kemasan yang dapat ditemukan di berbagai swalayan di luar Morotai. Minuman tersebut dapat berasal dari potensi alam Morotai, dikemas dengan baik, dan diberi nama serta narasi yang bersumber dari filosofi Putri Dehegila dan Kapita Sopi.
Demikian pula dengan ruang-ruang pemerintahan. Dinding kantor tidak hanya dipenuhi foto kegiatan dan piagam penghargaan, tetapi juga dapat menghadirkan ornamen, motif, artefak, dan visual yang merepresentasikan identitas budaya Morotai serta menyimpan narasi mengenai masyarakat dan sejarah lokalnya.
Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa riset cerita rakyat tidak sebatas pada upaya mendokumentasikan masa lalu. Lebih jauh, riset diarahkan untuk menjadikan kebudayaan sebagai sumber pengetahuan, identitas, kreativitas, dan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Melalui kolaborasi BRIN dan FIB Unkhair, Legenda Putri Dehegila diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk menggali kembali kekayaan cerita rakyat Morotai sekaligus menghubungkannya dengan pengembangan ekonomi kreatif dan pembangunan berbasis kebudayaan.
Dengan demikian, Morotai dapat dikenal bukan hanya sebagai salah satu kawasan penting dalam sejarah Perang Dunia II, tetapi juga sebagai wilayah yang memiliki kekayaan narasi, tradisi, alam, dan kreativitas masyarakat yang dapat membentuk identitas Morotai di masa depan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.