Oleh: Asghar Saleh

_______

JIKA menetap di Ternate, pernahkan anda membayangkan jika kain kafan tidak tersedia saat akan melakukan pemulasaran jenazah? Saat kita dihadapkan pada suasana duka dan perintah “bergegaslah”, kain kafan jadi kebutuhan primer. Apa yang pertama kali terlintas di ingatan?

Sore kemarin selepas berbagi kiat menulis esai kepada puluhan anak muda di kampus IAIN Ternate, saya menyusuri jalan Pahlawan Revolusi dari ujung utara. Jalanan padat seperti biasa. Bunyi klakson bersahutan. Di sisi barat, benteng Oranje berdiri kokoh dengan latar gunung Gamalama yang cerah. Langkah kaki terhenti pada sebuah bangunan tua. Nyaris tertutup dagangan kaki lima di depannya.

Tak ada modernitas di situ. Struktur bangunan didominasi gaya lama dengan jendela berterali besi dan pintu dari kayu yang kokoh. Cat dindingnya sudah pudar dan dipenuhi tempelan beragam stiker. Sekilas tak ada yang istimewa. Mata saya kemudian terpaut pada sebuah plang sangat kecil di atas pintu masuk yang jadi penanda. Nama toko ini terekam dalam memori orang ramai selama puluhan tahun. Toko Ambon.

Sebelum melangkah masuk ke dalam toko yang penuh dengan sembako, sejenak saya membayangkan sebuah masa ketika garis pantai masih sepelemparan batu dari halaman benteng. Di timur, sebuah rumah sakit tinggalan Belanda masih melayani meski sebagian ruangannya berantakan dengan atap dan dinding yang bolong. Pasar sayur di sebelahnya penuh dengan jualan pedagang lokal yang digelar di atas tanah. Terminal belum ada. Di ujung bagian utara depan benteng, sebuah lapangan basket jadi tempat bermain anak-anak muda Ternate masa itu.

Jejak toko Ambon berkelindan dengan kiprah Haji Hosein Sahib. Lahir di Ambon, 9 Oktober 1907 – Hosein adalah putera dari seorang saudagar India yang datang ke Ambon untuk berdagang dan kemudian menikah dengan seorang perempuan bermarga Kiat. Mereka menetap di kawasan Waihaong. Saya mendapat foto silsilah keluarga besar Hosein Sahib yang memperkuat status keluarga ini memang berasal dari India. Fotonya dikirim teman sekolah semasa SMP, Fifi Sahib – putri dari dokter Saleh Sahib. Hosein sendiri bukan anak tunggal. Ia memiliki saudara perempuan bernama Hamidah Sahib yang belakangan menikah dengan Ibrahim Maricar.

KS Sandhu dan A Mani dalam buku “Indian Communities in Southeast Asia” menyebut gelombang migrasi India pertama masuk ke Indonesia dan menetap di Sumatera Utara pada periode antara 1870-1890. Mereka bekerja sebagai buruh di perkebunan dan industri susu. Sebagian lagi bertugas sebagai penjaga keamanan. Mayoritas berasal dari suku Tamil dan Sikh.

Migrasi kedua terjadi pada awal abad 20 atau awal tahun 1900an. Gelombang migrasi kali ini masuk ke Batavia dengan konsentrasi tempat tinggal di kawasan Priuk. Nama Koja bahkan diberikan oleh komunitas ini. Kebijakan “Open Deur Politiek” dari Belanda mempermudah masuknya orang-orang India. Mereka umumnya berasal dari kawasan Punjab di India bagian Utara yang berbatasan langsung dengan Pakistan. Saya menduga, ayah dari Hosein adalah bagian dari migrasi gelombang kedua yang datang ke Indonesia. Dari Jakarta, mereka kemudian berdagang hingga ke Ambon dan wilayah timur lainnya.

Dalam buku “The Sikh Diaspora, The Search for Statehood”, Darshan Singh Tatla menyebut, suku Sikh dan Punjabi yang beragama Islam sebenarnya pertama kali mendatangi Malaysia. Koloni Inggris yang merekrut langsung mereka dari Punjab dengan tujuan menghentikan “pemberontakan” Tionghoa di pertambangan timah yang ada di Perak. Fifi mengakui jika semasa kecil, keluarganya sering terhubung dengan keluarga yang ada di Malaysia.

Migrasi ketiga terjadi antara tahun 1945-1950. Banyak dari mereka masuk dan menetap di Surabaya dan Madiun. Ada satu epos yang tak bisa dipisahkan dengan heroisme pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Saat sekutu di bawah pimpinan jenderal Mallaby mendarat di kota itu untuk melucuti tentara Jepang sekaligus mengembalikan kekuasaan Belanda, mereka diperkuat oleh British Indian Army yang isinya tentara dari muslim asal Punjab dan Pakistan. Saat perang meletus, tentara-tentara ini mendengar suara adzan dan takbir yang diteriakkan pasukan Republik. Sontak para tentara muslim ini melakukan pembelotan massal karena tak ingin berperang melawan saudaranya sesama muslim.

Tercatat sekitar 600 personel yang berbelot dan kemudian berjuang bersama pasukan Republiken – kembali melawan komando Inggris. Salah satu pembelot yang tercatat adalah Zia Ul Haq, komandan muda yang kelak menjadi Presiden Pakistan. Usai perang, sebagian besar pasukan ini memilih menetap di Surabaya dan menikah dengan perempuan lokal. Dengan alasan keamanan dan perdagangan, kelak mereka kemudian berpindah lagi ke kawasan Pasar Baroe di Jakarta. Menetap hingga kini sambil berbisnis tekstil.

Tahun 1930an, Hosein muda memilih pindah ke Ternate seturut naluri berdagang yang dimilikinya. Semula ia membuka dagangan kaki lima di kawasan Gamalama. Hosein mengontrak sebuah kamar di rumah keluarga Dokter Najib – lokasi yang saat ini jadi tempat parkir jamaah dari Habib Abubakar. Sikap rendah hati dan kejujuran membuat dagangannya cepat berkembang. Merasa mulai mapan dan punya keluarga kecil, ia kemudian membeli sebuah rumah di sebelahnya.

Hosein menikah dengan Maryam Afiffudin, perempuan asal Banda Neira. Keduanya dikaruniai dua putra dan satu putri. Sulung bernama Uzeir Sahib meninggal saat masih anak-anak. Anak keduanya, Saleh Sahib yang lahir di Ternate, 16 November 1935 dikenal sebagai dokter yang sangat berjasa dalam dunia kesehatan di Maluku Utara.

Dokter Saleh menurut Saiful Bahri Ruray dalam bukunya “Merambah Episentrum Baru – Sebuah Ontologi Dari Negeri Rempah” adalah salah seorang inisiator yang memperjuangkan berdirinya Universitas Khairun bersama Adnan Amal, Baharuddin Lopa, AH Drakel dan kawan-kawan pada tahun 1964.

Anak ketiga pasangan Hosein dan Maryam, Noorjean Sahib menikah dengan Ishak Maricar – putra dari pasangan Hamidah dan Ibrahim, sebuah perkawinan keluarga karena keduanya berstatus sepupu. Sewaktu kecil, kami lebih akrab memanggil Ishak dengan sebutan Om Cak, yang saban hari ditemui saat berbelanja di toko Lease. Toko yang berjualan pakaian termasuk seragam pramuka dan bermacam alat olahraga ini didirikan oleh Hosein. Terletak di deretan pertokoan sebelah utara kantor Pos Ternate, nama ”Lease” merujuk pada memori tentang masa kecil Hosein di Maluku.

Berbekal DNA saudagar India dengan feeling bisnis yang melampaui zaman, Hosein kemudian membeli sebidang “laut” dekat pasar sayur Ternate. Akhir tahun 1960an, saat kondisi ekonomi Indonesia belum stabil dan desas-desus politik lebih dominan, lahan itu mulai ditimbun. Lalu sebuah toko dibangun dengan konstruksi dominan dari kayu. Namanya toko “Ambon”. Bangunan ini sekaligus jadi rumah bagi Hosein yang menikah untuk kedua kalinya setelah isterinya Hajjah Maryam meninggal dunia di Ambon.

Dari perkawinan dengan Mihir Fabanyo, perempuan Tidore kelahiran 8 April 1925, lahirlah putera tunggal yang diberi nama Abdurahman “Man” Sahib. Ini generasi kedua yang lahir di Ternate sama seperti Dokter Saleh. Man lahir pada 11 Desember 1964. Ia bersekolah di Ternate dan Makassar. Lulusan Universitas Hasanuddin ini kemudian diterima bekerja di kantor statistik. Karirnya tergolong sukses karena sempat memimpin BPS Ternate sebelum pensiun setahun lalu.

Selama Man berada di luar Ternate, toko Ambon dikelola sendiri oleh Hajjah Mihir. Dulu toko ini dijaga saban hari oleh Ustaz Fauzi Aziz saat masih muda. Orang ramai mengira toko ini adalah milik Ustaz Fauzi. Haji Hosein meninggal di Jakarta pada 12 Desember 1985. Man kemudian memutuskan pulang ke Ternate pada awal tahun 90an untuk menemani ibunya – bekerja sebagai ASN sambil mengurus toko.

Dari Man, saya mendapat banyak nasehat yang jadi pedestal hidup sebagaimana warisan Hosein. Tahun 1970an, Toko Ambon memilih berjualan sembako meski sempat juga di periode awal menjual tekstil. Salah satu yang dijual adalah sesuatu yang tidak biasa. Kain kafan. “Papa memilih ini karena belum ada di Ternate saat itu, tujuannya untuk membantu orang”. Tak ada kepentingan bisnis. Saya malah melihat visi besar yang berkaitan dengan syiar Islam yang diwariskan Hosein ke keluarganya.

Hosein tidak berdagang untuk keluarganya semata. Ia berdiri bukan untuk dirinya. Dia melihat keadaan rumpang di sekitarnya tanpa merasa menjadi lebih hebat. “Papa berpesan boleh bisnis apa saja, toko boleh jual apa saja tapi kain kafan harus tetap ada”. Karena pesan itu, Man dan keluarganya tak beralih fokus. Kadang ada pembeli yang datang dengan duit yang kurang tetap dilayani. Yang tak punya uang sama sekali karena tidak mampu juga tetap diberikan kain kafannya.

Perkara kain kafan bagi umat muslim memang tergolong urusan super penting meski pemulasaran jenazah masuk ranah fardhu kifayah. Kain berwarna putih jamak digunakan mengikuti sunnah Rasulullah. Tak ada kemewahan di situ. Hanya selembar kain yang menjadi penanda saat pemakaman. Ia menghilangkan status sosial dan mengembalikan fitrah manusia pada posisi kefanaan.

Banyak testimoni warga yang mengakui kontribusi tanpa batas toko Ambon dalam menyediakan kain kafan. Paketnya yang lengkap termasuk kapas dan tikar membawa kepuasan tersendiri. Toko ini beroperasi 24 jam. Tengah malam saat datang, penghuni toko akan bergegas melayani dengan senyum jika mendengar ketukan di pintu yang biasanya menggunakan batu kecil. Perihal yang ditanyakan adalah jenazahnya orang dewasa atau anak-anak. Setelah itu transaksi dilakukan dan pembeli pulang. Pelayanan ini tak hanya di Ternate tapi juga diberikan untuk mereka yang datang dari Tidore dan Halmahera.

Mungkin karena melayani kebutuhan orang ramai dan lebih pada kerja sosial, menurut Man, selama ini tokonya belum pernah kekurangan persediaan. Kain putih biasanya dibeli dari Surabaya saat stok mulai menipis. Ia selalu menghitung ketersediaan dan kebutuhan yang rata-rata mencapai 40-50 pes per bulan. Data kematian di Ternate umumnya berkisar 6 persen lebih per 1.000 penduduk dalam satu tahun. Dengan penduduk saat ini yang mencapai lebih dari 200an ribu, boleh dibilang rata-rata tingkat kematian di Ternate mencapai 1.500-3.000an orang dalam setahun.

Jika Toko Ambon telah beroperasi sejak awal tahun 70an, maka dalam rentang waktu lebih dari 40 tahun, ratusan ribu kain kafan telah disediakan oleh toko ini. Sebuah angka yang sempat membuat Man terhenyak saat kami berdiskusi di rumahnya. Sebuah jejak kebaikan yang sangat panjang dan abadi. Mereka secara tidak sadar telah menyediakan surga untuk banyak orang tanpa pernah terpikir memperoleh surga untuk keluarganya sendiri. Ada nilai yang dipertaruhkan karena konsistensi dan keberlangsungan. Tak ada permainan harga.

Tentang kain kafan, sejarah negara ini punya cerita kelam. Semasa Presiden Soekarno, seorang Menteri Agama sempat terserempet korupsi kain kafan. Ceritanya, saat itu pemerintah India membantu pemerintah Indonesia sebagai bagian dari kerjasama dua negara. Indonesia pernah membantu beras. India balas mengirim beberapa ton kain kafan untuk dibagikan secara gratis. Maklum, banyak jenazah dimakamkan dengan menggunakan kain seadanya. Alih-alih membaginya ke masyarakat yang butuh, kain-kain berwarna putih itu dijual ke pasar Tanah Abang. Hasilnya masuk ke kantong pribadi.

Dari toko Ambon, kita jadi paham ada relasi antara pedagang India dan kontribusi mereka di level lokal yang sejatinya semakin memperjelas posisi Ternate sebagai episentrum dunia pada masa lalu. Pluralisme hidup berdampingan dengan kekuatan lokal seiring kedatangan banyak etnis lain dengan tujuan dagang dan kemanusiaan. Catatan tentang Ternate sebelumnya banyak menyebut pengaruh Cina dan Arab tapi sangat sedikit yang mencatat kontribusi orang-orang India. “Toko Ambon” membuka jalan untuk mengingat keberadaan etnis ini.

Sejarawan Anthony Reid dalam bukunya “Imperial Alchemy” memperkenalkan istilah “ethnie” yang berbeda dengan “nation”. Reid menyebut ethnie lebih punya solidaritas, kesadarannya sangat kuat karena punya ikatan yang sama, mitos leluhur yang sama, bahasa dan agama yang juga sama namun mereka tak mau terjebak pada “batas negara”. Karena itu mereka lebih mudah berbaur saat hidup di tempat yang baru.

Akademisi IAIN Ternate, Darsis Humah bercerita jika di Halmahera bagian Utara, hidup pula etnis asal India seperti klan Khan dan Baks. Mereka berbaur tanpa sekat. Secara populatif, orang-orang keturunan India saat ini tercatat sekitar 100an ribu orang. Sebagian besar telah menjadi WNI. Mereka hidup di atas tanah yang sama, meminum air yang sama dan juga membayar pajak yang sama. Jejak mereka terbentang dari barat ke timur Indonesia.

Di Ternate, entah sampai kapan toko Ambon akan terus ada dalam “laci ingatan” kolektif. Generasi ketiga turunan Hosein saat ini masih konsisten merawat “wasiat” dengan mata uang sosial yang terus disalurkan. Mereka dengan segala kesederhanaan membiarkan hidup mengalir dengan kejernihan iman. Tak ada laku yang berubah. Saya jadi ingat pesan Imam Syafi’i di abad ke 8: “Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan, jika mengalir akan menjadi jernih…” (*)