Tandaseru — Di Pulau Morotai, Maluku Utara, cerita tentang Putri Dehegila terdengar sayup, tetapi denyut kisah itu masih tersimpan dalam berbagai ingatan orang Morotai dan dengan versi yang berbeda-beda.
Temuan itu menjadi salah satu perhatian tim riset Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Khairun (Unkhair), yang selama sepekan melakukan penelitian cerita rakyat di Kabupaten Pulau Morotai.
Pada Selasa (18/8/2026), tim peneliti berkunjung ke kantor DPRD Kabupaten Pulau Morotai untuk menyampaikan perkembangan riset sekaligus mendiskusikan potensi pengembangan cerita rakyat, khususnya legenda Putri Dehegila, sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Morotai.
Setelah tujuh hari berada di Morotai, tim menemukan bahwa legenda tersebut masih dikenal oleh sebagian masyarakat. Namun, pengetahuan mengenai cerita itu tidak seragam. Sebagian masyarakat masih mampu mengingat tokoh-tokohnya, sementara sebagian lainnya hanya pernah mendengar nama Putri Dehegila atau Putri Dei dan Kapita Sopi tanpa mengetahui keseluruhan jalan ceritanya.
Temuan di lapangan juga memperlihatkan bahwa cerita rakyat berpotensi dikembangkan bersama berbagai sumber daya lokal. Salah satunya adalah kelapa. Komoditas yang selama ini lebih banyak dipandang sebagai sumber ekonomi masyarakat dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah seperti virgin coconut oil (VCO). Pada saat yang sama, pengembangannya dapat dihubungkan dengan narasi budaya yang terdapat dalam legenda, misalnya simbol kecantikan Putri Dehegila maupun kekuatan Kapita Sopi.
Dengan demikian, cerita rakyat tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan produk budaya dan ekonomi kreatif masyarakat.
Morotai dan Persoalan Identitas
Pertemuan dengan DPRD Morotai membuka persoalan yang lebih luas: siapa sebenarnya orang Morotai?
Dalam diskusi tersebut, salah seorang anggota DPRD menyampaikan masyarakat Morotai saat ini berasal dari berbagai kelompok etnis. Ia bahkan menyebut bahwa penduduk Morotai pada dasarnya merupakan pendatang, terutama dari Tobelo dan Galela, sementara masyarakat Morotai kini juga dihuni oleh berbagai kelompok seperti Bugis, Buton, Ternate, dan Tidore.
Pernyataan tersebut menunjukkan identitas Morotai tidak sederhana. Morotai merupakan ruang perjumpaan berbagai kelompok, sejarah migrasi, dan pengalaman sosial yang berbeda.
Dalam konteks seperti itu, cerita rakyat dapat menjadi penting bukan hanya sebagai objek kebudayaan, tetapi juga sebagai ruang untuk mempertemukan berbagai ingatan tentang masa lalu.
Salah satu anggota DPRD dalam pertemuan tersebut juga menyampaikan versi lain mengenai sosok Kapita Sopi. Ia menyebut Kapita Sopi dikenal dengan nama Tabatuku, sosok bertubuh raksasa. Istilah “sopi”, menurut penuturan tersebut, berkaitan dengan “seppi” yang dahulu merujuk pada batas atau perbatasan. Ia juga mengaitkan kelompok Sopi dengan orang Galela yang datang dari Kesultanan Ternate bersama keluarganya ke Morotai untuk mencari penyu.
Informasi tersebut menjadi penting bagi penelitian karena memperlihatkan bahwa satu legenda dapat menyimpan lapisan sejarah migrasi, hubungan antarkelompok, ruang kekuasaan, dan mobilitas masyarakat di kawasan Maluku Utara.
Dengan kata lain, cerita rakyat dapat menjadi semacam arsip ingatan masyarakat—bukan arsip dalam pengertian dokumen tertulis, melainkan arsip yang hidup melalui tuturan.
Dari Potensi Konflik Menjadi Perekat Sosial
Keragaman etnis Morotai sekaligus menghadirkan tantangan. Ketika berbagai kelompok memiliki ingatan, asal-usul, dan klaim identitas yang berbeda, sejarah masa lalu dapat menjadi sumber perbedaan apabila tidak dikelola secara dialogis.
Dalam pertemuan tersebut, pihak DPRD memandang penelitian cerita rakyat yang dilakukan BRIN dan Unkhair memiliki arti strategis dalam konteks tersebut. Penulisan sejarah lokal yang berangkat dari cerita rakyat dinilai dapat menjadi salah satu jalan untuk mempertemukan berbagai identitas yang hidup di Morotai. Cerita rakyat dapat menjadi ruang dialog mengenai masa lalu, bukan sekadar alat untuk menegaskan siapa yang paling asli atau paling berhak atas sebuah identitas.
Di titik inilah riset cerita rakyat memperoleh relevansi sosial yang lebih luas. Cerita tentang Putri Dehegila, Putri Dei, Kapita Sopi, atau Tabatuku tidak semata-mata berbicara tentang tokoh dalam legenda. Di baliknya terdapat pertanyaan mengenai migrasi, perjumpaan etnis, batas wilayah, hubungan kekuasaan, sumber daya alam, dan cara masyarakat membangun identitas bersama.
Ketika Infrastruktur Belum Menjadi Kesejahteraan
Persoalan kebudayaan tersebut juga berkelindan dengan persoalan pembangunan. Dalam diskusi dengan DPRD, muncul kritik bahwa pembangunan ekonomi di Morotai sejauh ini masih banyak bertumpu pada pembangunan infrastruktur. Infrastruktur memang penting, tetapi pembangunan fisik tidak otomatis menghasilkan peningkatan ekonomi masyarakat apabila tidak diikuti dengan pengembangan kapasitas, produk lokal, dan ekosistem ekonomi yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Karena itu, pengembangan cerita rakyat sebagai sumber ekonomi kreatif menjadi salah satu kemungkinan yang perlu dikaji lebih lanjut. Legenda dapat diolah menjadi bahan narasi pariwisata, produk kreatif, pertunjukan, film, buku, permainan, suvenir, hingga berbagai produk berbasis budaya. Potensi alam seperti kelapa juga dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi yang memiliki identitas budaya.
Dengan pendekatan tersebut, kebudayaan tidak ditempatkan sebagai ornamen pembangunan, melainkan sebagai salah satu fondasi pembangunan ekonomi masyarakat.
DPRD Dorong Sinergi dengan Pemkab
DPRD Kabupaten Pulau Morotai menyambut baik riset BRIN dan Unkhair tersebut. DPRD juga mendorong Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, terutama Dinas Pariwisata, agar mendukung dan memfasilitasi penelitian serta pengembangan hasil riset. DPRD menyatakan akan mendiskusikan lebih lanjut hasil pertemuan tersebut agar penelitian dapat bersinergi dengan berbagai pihak di Morotai.
Harapannya, riset tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Bagi tim peneliti, dukungan tersebut membuka kemungkinan lebih besar untuk menghubungkan penelitian bahasa, sastra, dan cerita rakyat dengan agenda kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan pembangunan daerah.
Sebab, pada akhirnya, legenda Putri Dehegila bukan hanya persoalan bagaimana sebuah cerita dari masa lalu diselamatkan dari kepunahan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana cerita itu dapat membantu masyarakat Morotai membaca kembali dirinya sendiri: dari mana mereka datang, bagaimana berbagai kelompok bertemu, bagaimana identitas dibentuk, dan bagaimana kekayaan budaya yang mereka miliki dapat diubah menjadi kekuatan untuk membangun masa depan.
Di sebuah pulau yang dihuni banyak etnis dan menyimpan banyak versi tentang masa lalu, mungkin justru bukan satu cerita yang paling dibutuhkan Morotai. Yang dibutuhkan adalah ruang untuk mempertemukan berbagai cerita menjadi satu kesadaran bersama tentang siapa mereka sebagai masyarakat Morotai.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.