Tandaseru – Dua nelayan Sulawesi Utara (Sulut) yang sempat terombang-ambing selama empat hari di laut setelah hanyut bersama rompong berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat di perairan Pulau Morotai, Maluku Utara, Jumat (10/7/2026) malam.
Keberhasilan evakuasi ini merupakan hasil kerja sama taktis antara Tim SAR Gabungan dengan dua kapal asing berbendera Bahama dan Singapura yang melintas di jalur internasional tersebut.
Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani, melalui Kasubsie Operasi dan Siaga, Ferdinando Jofandri, menjelaskan informasi mengenai hanyutnya kedua nelayan pertama kali diterima dari kru kapal LNG Jurojin berbendera Bahama.
“Pada Selasa, 7 Juli 2026, Kapal LNG Jurojin menerima panggilan darurat (mayday) menggunakan radio dari sebuah rumah nelayan atau rompong. Kapal tersebut sempat berputar-putar untuk mengawasi korban, namun tidak dapat melakukan evakuasi langsung karena cuaca ekstrem. Mereka kemudian meneruskan laporan ke Basarnas,” ujar Ferdinando.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Kantor SAR Ternate langsung berkoordinasi dengan Lanal Morotai untuk menggerakkan KAL Wayabula dan RIB 03 Tobelo. Namun, tingginya gelombang yang mencapai 2 hingga 3 meter sempat memaksa Tim SAR menghentikan pencarian sementara demi keselamatan.
Proses Intercept yang Menegangkan
Titik terang muncul pada Jumat (10/7) pukul 06.43 WIT. Basarnas menerima surat elektronik dari kapal kargo MV Stenia Colossus berbendera Singapura yang mengabarkan kedua korban telah berhasil dinaikkan ke atas kapal mereka. Komunikasi intensif kemudian dilakukan untuk menyepakati proses penjemputan (intercept) korban di tengah laut.
Rencana awal evakuasi di perairan selatan Pulau Morotai pada siang hari sempat tertunda dan harus digeser posisinya. Hal ini dikarenakan MV Stenia Colossus menghadapi hantaman angin kencang (Skala Beaufort 6 dari arah Barat Daya) serta gelombang laut setinggi 3 meter.
“Karena posisi awal terlalu jauh dan cuaca sangat buruk, kami berkoordinasi kembali dengan kapten kapal MV Stenia Colossus. Akhirnya disepakati titik lokasi intercept yang paling aman dipindahkan ke perairan Pulau Rao,” jelasnya.
Pada pukul 18.00 WIT, Tim Rescue Unit Siaga SAR (USS) Morotai bersama Pos SAR Tobelo dan Potensi SAR bergerak menggunakan RIB 03 Tobelo menuju titik aman di Pulau Rao. Proses pemindahan korban dari kapal kargo raksasa tersebut ke RIB milik Basarnas akhirnya berhasil dilakukan pada pukul 19.32 WIT.
Kedua nelayan tersebut langsung dibawa menuju Pelabuhan Daruba, Morotai, untuk diserahkan kepada tim medis guna mendapatkan pemeriksaan kesehatan lebih lanjut.
Berdasarkan data Basarnas, berikut adalah identitas kedua nelayan yang selamat:
- Yanto Bawole (50 tahun), warga Sulawesi Utara.
- Meytro Abas (26 tahun), warga Sulawesi Utara.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.