Oleh: Syamsul Bahri Abd. Rasyid

Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Pattimura

 _______

MATA saya terbelalak. Saya sampai mengucek-nguceknya beberapa kali ketika membaca berita bertanggal 30 Maret 2026 bahwa Maluku Utara peringkat 4 sebagai provinsi dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi di Indonesia. Saya juga tidak heran bila daerah-daerah yang selama ini dianggap sebagai pusat pendidikan, misalnya Jogja yang dikenal sebagai Kota Pelajar, tidak masuk 10 besar. Toh, pendidikan tidak otomatis melahirkan kebiasaan membaca, sebagaimana memiliki perpustakaan tidak otomatis membuat buku-bukunya disentuh.

Tapi, yang lebih menarik daripada peringkat itu adalah kecenderungan kita menyulap angka menjadi kenyataan. Begitu survei ini keluar, barangkali sebagian dari kita akan buru-buru menepuk sambil membusungkan dada seraya berseru, “Kita daerah paling literat!”

Saya sama sekali tidak meragukan kemampuan para penyusun data. Mereka pasti bekerja dengan metodologi yang rumit, angka-angka yang rapi, dan tabel-tabel yang membuat orang awam seperti saya cepat merasa bodoh. Yang membuat saya heran justru kenyataan sehari-harinya.

Saya hidup di tengah masyarakat yang, kalau membaca sebuah pengumuman sepanjang lima baris, akan langsung bertanya pada baris keenam tentang apa yang tertulis di baris pertama. Di dunia seperti ini, bahkan teks yang sudah dibuat sesederhana mungkin, pun masih harus menjalani ujian tambahan. Namanya ujian kesabaran pembaca.

Ambil contoh, ada unggahan di Facebook dari Lurah atau Kepala Desa. Biasanya ditulis dengan niat yang sangat mulia, seolah-olah ingin memastikan tidak ada satu pun warga yang tertinggal informasi. Kalimatnya rapi, lengkap, bahkan kadang sudah disertai salam pembuka agar tidak ada yang tersinggung oleh huruf pertama.

Unggahannya, misalnya begini:

Assalamu’alaikum wr. wb.

Diberitahukan kepada seluruh warga bahwa besok pukul 08.00 WIT akan diadakan kerja bakti bersama di Lapangan Merdeka dalam rangka kebersihan lingkungan menjelang perayaan hari besar. Dimohon kehadirannya.”

Secara teori, ini sudah termasuk kategoritidak mungkin salah paham”. Secara praktik, ini baru permulaan. Karena, tidak lama setelah unggahan itu muncul, kolom komentar mulai bekerja seperti ruang konsultasi darurat.

Kerja apa?”

“Di mana itu?”

“Jam berapa?”

Besok atau hari ini?”

Ada juga yang datang dengan tingkat kehati-hatian lebih tinggi.

Ini wajib atau tidak?”

Padahal semua informasi itu tidak hanya tertulis, tetapi nyaris berteriak di dalam teks yang sama. Kadang saya justru kasihan kepada orang yang membuat unggahan itu. Ia sudah menyusun kalimat sebaik mungkin, memilih diksi yang sederhana, memastikan tidak ada salah ketik, bahkan menambahkan gambar pendukung. Namun semua usaha itu kandas di hadapan satu tradisi besar yang tampaknya mulai mengakar, bertanya tanpa membaca.

Fenomena ini tidak hanya terjadi sekali dua kali. Ia hadir di mana-mana dan intens. Ada orang yang membagikan tautan berita hanya karena judulnya. Kolom komentarnya lebih parah, karena bertanya, Ini kejadian di mana? Ada orang menulis penjelasan panjang. Komentarnya berbunyi, Kesimpulannya apa? Padahal penulis sudah menaruh kesimpulan di paragraf pertama karena sadar bahwa sebagian pembaca tidak akan sampai ke paragraf kedua.

Ada pula orang yang begitu percaya diri menyanggah sebuah tulisan yang tampaknya memang belum pernah ia baca. Ia hanya membaca komentar orang lain yang juga belum membaca tulisan itu. Lalu keduanya berdebat dengan semangat tinggi mengenai sesuatu yang sama-sama tidak mereka ketahui. Sebagai orang awam yang setiap hari melihat bagaimana sebuah pengumuman sederhana bisa berubah menjadi sesi tanya jawab tanpa akhir, saya merasa ada sesuatu yang belum selesai dijelaskan. Terlalu sering saya melihat orang merasa sudah mengetahui sesuatu yang bahkan belum pernah ia baca.

Barangkali, orang tua-tua sudah lama punya jawabannya.

Orang tua-tua percaya bahwa ada kalimat tertentu yang dapat mengubah sesuatu. Ada yang dipakai untuk meluluhkan hati, ada yang dipakai untuk meredakan amarah, ada pula yang dipercaya bisa membuat orang sakit-sakitan. Ia bekerja bukan dengan logika, tapi sugesti. Orang percaya, lalu sesuatu terjadi.

Belakangan, saya seperti melihat sesuatu yang mirip. Semacam mantra yang membuat orang merasa sudah membaca sesuatu yang belum pernah ia baca. Semacam sugesti yang membuat seseorang merasa sudah memahami hanya karena melihat judul.

Karena itu, saat membaca kabar bahwa Maluku Utara berada di peringkat empat provinsi dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi di Indonesia, saya memilih untuk tidak membantah.

Saya hanya teringat pada satu istilah lama yang sudah akrab di telinga orang-orang Maluku Utara.

Barangkali, yang dimaksud bukan gemar baca, tapi baca-baca(*)