Oleh: Herman Oesman

Dosen Sosiologi FISIP UMMU

_______

“…Dua orang yang membuat perjalanan hidup terasa lebih ringan, lebih hangat, dan lebih bermakna…”

TERUS terang, ada tahun-tahun yang berlalu bagai semilir angin. Ia datang, singgah sebentar, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak yang terlalu dalam.

Tetapi ada pula tahun yang menetap di dada, menjadi penanda, menjadi kesedihan mendalam, bahwa hidup telah berubah selamanya.

Bagi saya, adik-adik, dan anak-anak kami, tahun 2026 merupakan tahun penuh kejutan yang tak disangka. Tahun ketika dua sayap kehidupan terlepas dalam rentang waktu yang begitu dekat. 15 Februari 2026, Uwa, kakek bagi anak-anak kami berpulang. Lalu, pada 19 Juli 2026, Indo menyusul meninggalkan dunia dengan penuh senyum.

Hanya hitungan lima bulan, langit kehidupan kami terasa kehilangan dua cahaya yang selama ini diam-diam menerangi langkah kami.
Kehilangan selalu datang membawa sunyi. Ia tidak mengetuk pintu, tidak meminta izin, dan tidak pernah memberi kesempatan bagi manusia untuk benar-benar siap. Inilah rahasia Ilahi yang sudah ditetapkan di lauhulmahfuz.

Kematian memang sebuah kepastian, tetapi ketika ia menyapa orang-orang yang paling kita cintai, kepastian itu berubah menjadi kenyataan yang sulit dibayangkan. Di situlah duka bekerja, perlahan, diam-diam, namun begitu dalam.

Uwa bukan sekadar seorang ayah, kakek, dan anggota keluarga inti. Ia merupakan tempat pulang bagi banyak kenangan. Sosok yang menghadirkan kehangatan dalam kesederhanaan.

Dari dirinya, hidup mengajarkan bahwa kasih sayang tidak selalu diwujudkan melalui kata-kata besar, melainkan melalui perhatian kecil yang dilakukan berulang kali.

Kehadirannya merupakan peneduh. Ketika ia wafat pada 15 Februari 2026, seakan satu tiang penyangga kehidupan runtuh tanpa suara.
Belum sempat hati benar-benar berdamai dengan kehilangan pertama, duka kembali mengetuk pintu.

Pada 19 Juli 2026, Indo, ibu, nenek dari anak-anak kami berpulang. Rasanya seperti kehilangan pelabuhan terakhir tempat segala lelah ingin disandarkan. Seorang ibu tidak hanya melahirkan tubuh seorang anak, tetapi juga membentuk jiwa, keberanian, dan harapan.

Ketika seorang indo, ibu, nenek, pergi, yang hilang bukan sekadar sosok manusia, melainkan ruang yang selama ini dipenuhi doa-doanya. Indo, ibu acap digambarkan sebagai akar kehidupan. Dari akarnya tumbuh batang yang kokoh, ranting yang menjulang dan menjurai, serta daun-daun yang memberi teduh. Tatkala akar itu tiada, pohon tetap berdiri, tetapi ia harus belajar mencari kekuatannya sendiri.

Begitulah rasanya kehilangan Indo, ibu. Dunia masih berputar, pekerjaan tetap berjalan, orang-orang tetap tertawa, tetapi ada ruang dalam diri yang tidak lagi sama. Kami kemudian menyadari, manusia tidak pernah benar-benar siap menghadapi kehilangan. Yang dapat dilakukan hanyalah belajar hidup berdampingan dengan kenangan. Kenangan bukan untuk mengikat langkah pada masa lalu, melainkan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan ke depan.

Setiap nasihat Uwa, setiap doa Indo, akan tetap hidup selama masih dikenang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Secara psikologi, proses berduka bukan sekadar melepaskan orang yang telah tiada, tetapi juga membangun kembali makna hidup setelah kehilangan. Duka merupakan perjalanan untuk menyusun ulang identitas diri ketika seseorang yang begitu berarti tidak lagi hadir secara fisik (Neimeyer, 2012).

Karena itu, kehilangan bukan hanya tentang air mata, melainkan juga tentang bagaimana seseorang belajar melanjutkan hidup tanpa mengkhianati cinta yang pernah dimiliki.

Ikatan emosional dengan orang yang telah wafat, telah pergi, tidak pernah benar-benar berakhir. Hubungan itu berubah bentuk, dari kehadiran fisik menjadi kehadiran dalam ingatan, nilai-nilai, dan warisan kehidupan (Parkes, 2013).

Barangkali itulah sebabnya mengapa Uwa dan Indo tetap terasa dekat. Mereka tidak lagi dapat dipeluk, tetapi petuah, senyum, dan kasih sayang mereka terus hidup dalam setiap keputusan yang diambil.

Tahun 2026 mengajarkan bahwa hidup sesungguhnya bukan tentang seberapa lama seseorang hidup, melainkan seberapa besar makna yang ia tinggalkan. Banyak orang hadir hanya sebagai nama dalam silsilah keluarga. Namun, ada pula yang menjadi sejarah, menjadi pelajaran, menjadi cahaya yang tidak padam meski raganya telah tiada. Uwa dan Indo termasuk di antara mereka.

Duka memang tidak dapat dihapus. Ia hanya berubah bentuk. Pada awalnya menjadi tangis, kemudian menjadi rindu, lalu perlahan menjelma menjadi doa. Barangkali itulah bahasa cinta yang paling tulus setelah kepergian, setelah kematian. Setiap kali nama mereka disebut dalam doa, setiap kali pula kisah mereka diceritakan kepada anak, cucu, dan cicit, sesungguhnya mereka tetap hidup dalam ingatan keluarga. Kami percaya bahwa kehilangan bukanlah akhir dari hubungan. Ia merupakan perubahan cara mencintai.

Dahulu cinta diwujudkan dengan menemani, berbincang, atau menggenggam tangan. Kini cinta diwujudkan dengan mendoakan, mengenang, dan meneruskan nilai-nilai kehidupan yang telah diwariskan. Selama kasih sayang itu masih hidup, sesungguhnya kepergian, kematian tidak pernah benar-benar memisahkan. Maka, ketika kelak kami mengenang tahun 2026, yang terlintas bukan hanya tanggal 15 Februari atau 19 Juli. Kami akan mengingatnya sebagai tahun ketika Ilahi Rabbi memanggil pulang dua sosok yang selama ini menjadi sayap kehidupan. Dua orang yang membuat perjalanan hidup terasa lebih ringan, lebih hangat, dan lebih bermakna.

Selamat jalan, Uwa. Selamat jalan, Indo.
Air mata mungkin akan mengering, tetapi rindu akan tetap menemukan jalannya. Waktu mungkin akan mengajarkan ketabahan, tetapi cinta tidak pernah mengenal kata selesai. Kalian telah pulang kepada Sang Pemilik Kehidupan. Sementara kami yang masih berjalan di bumi akan terus membawa nama, doa, dan teladan kalian dalam setiap langkah.

2026 akan selalu dikenang sebagai tahun duka, tahun penanda kesedihan mendalam (annus maeroris). Dan, dari duka, dari kesedihan mendalam itu, lahir kesadaran, kasih sayang tidak pernah mati. Ia hanya berpindah tempat: dari pelukan menjadi kenangan, dari tatapan menjadi doa, dan dari kehadiran menjadi keabadian di dalam hati. (*)