Oleh: M. Guntur Alting

Dosen FISIP UIN/UMJ Jakarta

_______

MEMBACA “Cermin Retak Kehidupan” karya Anwar Husen seperti sedang duduk di beranda, menyeruput kopi, dan berbincang santai tentang nasib negeri.

​Ada semacam ketabahan dalam menatap retakan. Dalam Cermin Retak Kehidupan, Anwar Husen tidak sedang memoles realitas agar tampak berkilau.

Ia justru membiarkannya apa adanya: retak, pecah, dan mungkin tak lengkap. Ia sadar, seperti yang ia tulis dalam pengantarnya, bahwa hidup memang tidak akan pernah benar-benar utuh jika kita hanya sibuk dengan tumpukan kertas.

​Buku ini adalah kumpulan fragmen—percikan pemikiran yang ia pungut dari “tiris-tiris” percakapan di media sosial, dari dialektika grup WhatsApp yang riuh, hingga duka yang menyelip di sela-sela rutinitas.

Anwar melakukan sesuatu yang penting: ia berhenti sejenak, mengamati, dan kemudian menuliskannya. Ia tidak terjebak dalam jargon sosiologi yang berat, meski substansinya selalu menyentuh dasar-dasar perilaku manusia dan disharmoni dalam kehidupan sosial kita.

​Membaca Anwar adalah membaca upaya manusia untuk memindahkan gunung dengan membawa batu-batu kecil. Ia tahu bahwa perubahan besar—baik itu dalam manajemen sumber daya umat, politik, atau sekadar cara kita memandang sesama—selalu dimulai dari variabel-variabel kecil yang sering dianggap sepele.

Ada nada melankolis sekaligus kritis di sana; sebuah kesadaran bahwa kita sedang berada di persimpangan jalan, di mana sensitivitas terhadap hal-hal kecil mulai memudar.

​Pada akhirnya, buku ini adalah sebuah potret kecil tentang kita. Tentang bagaimana kita berpolitik, bagaimana kita beragama, dan bagaimana kita mencoba menjaga integritas di tengah dunia yang makin asing.

Anwar Husen tidak memberi jawaban mutlak atas semua retakan itu. Ia hanya memberikan cermin. Tergantung pada kita, apakah kita akan terus membiarkan cermin itu retak, atau mulai berani menatap wajah kita sendiri dengan lebih jernih dan jujur.

Inilah yang membuat buku ini begitu kuat. Buku ini bukan hanya tentang tumpukan kertas, melainkan tentang jejak pikiran yang disemai dengan empati.

​Di tengah zaman yang makin bising, di mana kebenaran sering kali jadi barang dagangan, Anwar Husen menawarkan jeda. Ia mengajak kita berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, dan barangkali memperbaiki retakan yang ada dengan hal-hal kecil yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita.

​Bagi siapa saja yang ingin memahami Indonesia—bukan lewat angka-angka di statistik pemerintah, melainkan lewat denyut nadi manusianya—buku ini adalah pintu masuk yang sangat jujur.

Selamat merenung lewat batu-batu kecil yang dikumpulkan Anwar dalam buku ini. (*)