Tandaseru — Desa kecil itu bernama Buli. Letaknya di kecamatan Maba, kabupaten Halmahera Timur, provinsi Maluku Utara. Siapa sangka, desa yang awalnya terlihat biasa saja itu berpotensi menjadi pusat teknologi daur ulang baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pertama di Indonesia.
Kekayaan mineral di kawasan Buli dan sekitarnya telah terendus sejak lama. Kawasan ini kaya akan nikel, kobalt, besi, kromium, hingga mangan. Pada tahun 1997, PT Aneka Tambang (Antam) mulai menambang nikel di Pulau Gee, sebuah pulau di depan Buli. Nama Buli kian melejit usai Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 56 Tahun 2018 yang menetapkan Kawasan Industri Buli masuk Proyek Strategis Nasional (PSN). Lalu melalui Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 9 Tahun 2022, peran Kawasan Industri Buli dipertegas sebagai pendukung ekosistem baterai kendaraan listrik nasional.
29 Juni 2025 menjadi hari bersejarah bagi masyarakat Buli. Hari itu, peletakan batu pertama megaproyek pembangunan Kawasan Industri Buli dimulai. Groundbreaking Project Dragon itu dilakukan secara virtual oleh Presiden Prabowo Subianto dengan nilai mencapai USD 5,9 miliar (sekitar Rp96 triliun). Antam Group, melalui PT Feni Haltim (FHT), menjadi pelaksana proyek. Secara keseluruhan, proyek ini didanai Ningbo Contemporary Brunp Lygend (CBL), PT Antam, dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
CBL didirikan pada Oktober 2020 melalui kerja sama antara CATL (Contemporary Amperex Technology Limited), Brunp Recycling, dan Lygend Resources. Konsorsium ini berkomitmen membangun rantai industri baterai energi baru secara menyeluruh, mencakup pengembangan sumber daya mineral, peleburan logam non-ferro, produksi material baterai litium, manufaktur baterai daya, hingga daur ulang sumber daya.
“Di bawah kebijakan ‘Belt and Road Initiative’, CBL menggabungkan keunggulan masing-masing pemegang saham dan bekerja sama dengan mitra internasional untuk mengembangkan proyek rantai industri baterai daya di Indonesia,” ungkap Ready Advancer, Direktur Sumber Daya Manusia PT FHT, dalam Media Gathering di Ternate, Rabu (30/9/2026).
Di sisi lain, CATL, kata Ready, merupakan perusahaan teknologi inovatif di bidang energi baru terkemuka di dunia. Perusahaan ini menempati posisi pertama global dalam penjualan baterai daya selama delapan tahun berturut-turut, serta pengiriman baterai penyimpanan energi selama empat tahun berturut-turut.
“Sementara Brunp adalah perintis daur ulang baterai bekas terkemuka di dunia dengan ratusan hak paten di bidang ini. Tingkat pemulihan nikel, kobalt, dan mangan dari baterai bekas mencapai 99,6%, serta tingkat pemulihan litium mencapai 91%. Jadi isi Brunp ini orang-orang memang yang background-nya sains. Metalurgi, kimia, dan seterusnya. Lalu ada Lygend yang merupakan penyedia layanan rantai industri nikel terintegrasi terkemuka di dunia. Proyek HPAL di Pulau Obi adalah proyek pertama yang mulai beroperasi di Indonesia,” jabarnya.
Selain itu, ada PT Antam. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berusia 58 tahun tersebut adalah perusahaan terkemuka yang terdiversifikasi secara vertikal dan berbasis sumber daya alam. Produk dan bisnis utamanya mencakup bijih nikel, feronikel, emas, perak, bauksit, alumina, serta pengolahan dan pemurnian logam mulia, dengan pengalaman lebih dari 55 tahun di bidang pertambangan.
“PT Antam merupakan anggota dari MIND ID dan memiliki cadangan bijih nikel serta bauksit berkualitas tinggi dalam jumlah besar. Fasilitas pengolahan dan pemurnian logam mulia ANTAM adalah satu-satunya di Indonesia yang bersertifikat dari London Bullion Market Association (LBMA),” papar Ready.
Sedangkan IBC atau PT Industri Baterai Indonesia merupakan perusahaan patungan yang didirikan pada 21 April 2021 oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui empat BUMN pertambangan dan energi, yaitu PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero), PT Antam, PT Pertamina Power Indonesia, dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).
“Perusahaan ini didirikan sebagai induk (holding company) untuk mengelola ekosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi dari hulu hingga hilir. Ini yang digadang-gadang akan menjadi inisiator industri baterai nasional,” sambung Ready.
Proyek Dragon
Proyek Dragon merupakan langkah strategis Indonesia menuju ekosistem baterai kendaraan listrik kelas dunia. Industri baterai terintegrasi terbesar di Asia ini merupakan inisiatif investasi berskala besar yang menjadi bagian penting dari transformasi industri energi baru di Indonesia.
“Fasilitas utama proyek ini dibangun di Kawasan Industri FHT, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, serta Kawasan Industri Karawang (Proyek Manufaktur Baterai) dan kawasan industri terkait lainnya di Indonesia,” jelas Ready.
Visi utama Proyek Dragon adalah membangun kawasan terintegrasi berskala kelas dunia untuk rantai pasok baterai energi baru, sekaligus mendorong percepatan dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik secara menyeluruh di Indonesia. Megaproyek ini ditargetkan tuntas pada 2029 untuk tahap awal dengan luasan wilayah mencapai 2.000 hektare.
Proyek Dragon dirancang secara terintegrasi dari hulu hingga ke hilir yang mencakup 6 sub-proyek utama, yaitu Pengembangan Tambang Nikel Laterit – Penyediaan bahan baku utama nikel, Peleburan Pirometalurgi – Pengolahan nikel tahap awal, Peleburan Hidrometalurgi – Pengolahan nikel tingkat lanjut untuk bahan baterai, Produksi Material Baterai – Pembuatan bahan baku komponen baterai, Manufaktur Baterai – Pembuatan sel dan pack baterai kendaraan listrik, serta Daur Ulang Baterai – Pengelolaan kembali baterai bekas untuk mendukung prinsip keberlanjutan.
“Kita mulai dari hulu, yakni dari pertambangan yang digarap PT SDA (Antam Group). Tahun ini kuota RKAB-nya kurang lebih 3 sampai 4 juta. Pada saat proyek ini jalan, pada saat pabrik beroperasi, dia akan butuh 2,5 kali lipat lebih untuk produksi ore-nya untuk menjamin bahwa pabriknya itu berjalan. Nah, ini yang mungkin beberapa entitas smelter tidak terintegrasi, sehingga smelternya tutup. Sulit mencari ore. Kita sudah mengamankan persediaan ore-nya, sehingga pabrik kita berjalan, usia pabrik kita bisa panjang, usia tenaga kerja yang bekerja di pabrik juga bisa panjang,” jelas Ready.
Dengan integrasi dari penambangan, pengolahan, hingga daur ulang, Proyek Dragon menjadi tonggak penting memperkuat rantai pasok kendaraan listrik nasional dan global.
Ke depan, Kawasan Industri Buli bakal memproduksi feronikel melalui pirometalurgi sebanyak 88.000 ton. Angka ini merupakan kapasitas produksi terbesar Antam jika terwujud.
“Antam Pomala itu maksimal 24.000 ton feronikel. Yang sekarang ada di Obi pun itu maksimal 33.000. Jadi 88.000 ini cukup besar. Dan dari 88.000 ini, ada teknologi baru yang akan kita gunakan. Nah, ini yang salah satunya membedakan pirometalurginya Proyek Dragon dengan proyek-proyek lainnya,” ungkap Ready.
Mengusung visi utama membawa manfaat energi baru kepada masyarakat dunia, visi Proyek Dragon ini ditopang oleh tiga pilar strategis:
- Posisi Dominan Global: Mewujudkan posisi dominan Indonesia dalam industri energi baru kelas atas di tingkat global melalui penggabungan ekosistem industri, sumber daya, dan produk.
- Transformasi Industri & Ekonomi Hijau: Mewujudkan pembangunan industri energi baru dan elektrifikasi Indonesia, serta membangun ekonomi hijau yang rendah karbon dan berkelanjutan.
- Ekosistem & Klaster Terintegrasi: Membangun klaster industri dan mewujudkan integrasi rantai industri yang menyeluruh dengan mengintegrasikan keunggulan pertambangan – peleburan – material baterai – manufaktur baterai – daur ulang baterai. Proyek Buli diperkirakan menghasilkan nilai output sebesar 7 miliar USD.
“Pada 2031, Kawasan Industri Buli direncanakan sudah mulai melakukan proses daur ulang baterai kendaraan listrik. Nanti teknologinya dibawa oleh Brunp,” terang Ready.
Proyek Dragon mencakup 6 sub-proyek utama yang terintegrasi secara end-to-end:
1. Proyek Pertambangan Nikel (Nickel Mining Project)
Produk Proyek: Bijih Nikel
Rencana Produksi:
Bijih Saprolit: 7 juta WMT
Bijih Limonit: 3 juta WMT
Waktu Produksi: Tahun 2023
Highlight Proyek: Cadangan nikel berlimpah dengan kadar tinggi, dengan rincian cadangan bijih saprolit 1,58 juta WMT (kadar Ni 1,8–1,9%) dan cadangan bijih limonit 695 ribu WMT (kadar Ni 1,3–1,4%).
2. Proyek Pirometalurgi (RKEF Project)
Produk Proyek: Refined Nickel Alloy
Rencana Produksi: 88.000 ton/tahun
Highlight Proyek: Proses penyulingan teratomisasi drastis memangkas penggunaan energi, menjadi ukur global yang baru dalam peleburan yang berkelanjutan.
3. Proyek Hidrometalurgi (HPAL Project)
Produk Proyek: MHP (Mixed Hydroxide Precipitate)
Rencana Produksi: 55.000 ton/tahun
Waktu Produksi: Tahun 2028
Highlight Proyek: Generasi ketiga, penataan topografi, dan evolusi aliran material.
4. Proyek Bahan Baterai (Battery Materials Project)
Produk Proyek: Bahan Katoda NCM
Rencana Produksi: 30.000 ton/tahun
Waktu Produksi: Tahun 2028
Highlight Proyek: Mengintegrasikan proses hidrometalurgi, ko-presipitasi, dan kalsinasi oksigen tinggi. Konsumsi energi rendah, emisi karbon rendah, serta kinerja tinggi.
5. Proyek Sel Baterai (Battery Cell Project)
Produk Proyek: Sel Baterai & Packs Baterai
Rencana Produksi: [X] GWh/tahun
Highlight Proyek: Mengadopsi teknologi canggih untuk menawarkan performa dan siklus hidup baterai yang optimal.
6. Proyek Daur Ulang Baterai (Battery Recycling Project)
Produk Proyek: Nikel Kobalt Mangan Sulfat & Litium Karbonat
Rencana Produksi: 20.000 ton/tahun
Waktu Produksi: Tahun 2031
Highlight Proyek: Teknologi Sirkulasi Terarah yang dikembangkan Brunp dengan tingkat pemulihan logam komprehensif lebih tinggi.
Road Map CSR
Dalam mengelola Kawasan Industri Buli, PT Feni Haltim telah menyiapkan Peta Jalan (Road Map) Corporate Social Responsibility (CSR) periode 2026–2030. Langkah ini dirancang untuk mendukung pembangunan berkelanjutan serta menjadi bagian dari ekosistem industri baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Manager External Relations & CSR PT FHT, Subarwan Sakoy, menyampaikan perusahaan telah menyusun pemetaan masalah dan solusi (Problem-Solution Mapping) untuk menjawab tantangan daerah.
“Road Map CSR PT Feni Haltim (FHT) 2026–2030 mencerminkan komitmen perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan di Halmahera Timur sebagai bagian dari ekosistem industri baterai kendaraan listrik Indonesia, dengan berfokus pada penciptaan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang positif,” ujar Subarwan.
Subarwan menjelaskan, program pengembangan masyarakat tersebut berpijak pada kerangka regulasi seperti Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 Pasal 74, Peraturan Nomor 47 Tahun 2012, Asta Cita ke-3, ke-4, dan ke-5 Pemerintah RI, Studi Kelayakan (Feasibility Study), AMDAL, serta Studi ESIA oleh ERM. Program ini diselaraskan dengan RPJMD Provinsi Maluku Utara, RPJMD Kabupaten Halmahera Timur, RJPP ANTAM, dan Rencana Jangka Panjang Perusahaan.
Terdapat 5 Pilar Strategis CSR PT FHT yang dihadirkan:
1. Pendidikan dan Pengembangan Keterampilan: Program STEM untuk siswa SMA/SMK, beasiswa bidang teknik, kimia, dan logistik, pelatihan vokasi industri EV untuk pemuda, serta School Development Program (SDP – Ekosistem Industri EV) seperti pengajaran bahasa Mandarin.
2. Pengembangan Ekonomi Lokal: Inkubasi UMKM yang terhubung dengan rantai pasok, dukungan untuk koperasi desa dan wirausaha perempuan, serta peningkatan kapasitas bisnis lokal.
3. Lingkungan dan Keberlanjutan: Rehabilitasi mangrove dan konservasi air, edukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah dan energi bersih, serta proyek hijau bersama sekolah dan desa.
4. Kesehatan dan Kesejahteraan: Klinik keliling dan pemeriksaan rutin, program gizi keluarga dan kesehatan ibu, dukungan kesehatan mental masyarakat, edukasi dan kesadaran asuransi kesehatan, serta kesadaran kesehatan dan perlindungan anak.
5. Tata Kelola Sosial dan Harmoni: Forum komunikasi masyarakat dan saluran umpan balik transparan, keterlibatan pemuda dan tokoh adat dalam perencanaan, serta pelatihan resolusi konflik dan literasi hukum.
“Melalui empat tujuan utama Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM)—yakni menyusun arah kebijakan dan pedoman, menyusun rencana sistematis bersinergi dengan stakeholders, menyusun road map PPM terukur, dan berkontribusi menciptakan masyarakat yang mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan—PT FHT berkomitmen memberikan kontribusi nyata bagi Halmahera Timur,” tandasnya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.