Oleh: Hudan Irsyadi
Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Maluku Utara
_______
FESTIVAL Buku Maluku Utara tahun 2026 adalah momentum untuk mengangkat Maluku Utara sebagai pusat peradaban literasi. Dahulu orang boleh mengenal Maluku Utara sebagai pusat peradaban rempah-rempah yang mengubah wajah dunia. Didatangi banyak orang, berdialog dan berinteraksi sampai dengan bertransaksi. Wajah Maluku Utara pun dikenal (baca: Maluku) melalui Ternate, Tidore, Moti dan Makian, yang belakangan adalah empat kesultanan. Seiring waktu berjalan, romantisme masa lalu tidak serta-merta tereduksi. Ia masih tumbuh subur di ruang-ruang diskusi sebagai alat untuk melegitimasi kekuasaan. Dahulu rempah begitu digdaya mengubah dunia, lalu kenapa hari ini buku dari Maluku Utara belum banyak berbicara?
Digelarnya Festival Buku Maluku Utara tahun 2026, hemat saya adalah jawaban yang relevan. Kolaborasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Maluku Utara dengan Komunitas Faduli Buku, serta melihat orang-orang yang berkecimpung di dalamnya seakan memancarkan rasa optimis yang tinggi bahwa festival ini bukanlah sekadar perayaan bagi para pencinta buku yang ada di Maluku Utara. Ini adalah momentum untuk menakar sejauh mana festival tersebut mampu mengubah warisan sejarahnya menjadi warisan literasi. Meskipun festival buku dengan skala yang besar baru pertama dilaksanakan tetapi geliatnya menyeruak. Kota Ternate menjadi lokus dengan pemilihan Benteng Oranje sebagai arena pelaksanaan Festival Buku Maluku Utara. Sebuah daerah tidak hanya besar karena apa yang pernah dimilikinya, tetapi karena apa yang mampu ia wariskan.
Berburu Buku
Setiap pelaksanaan festival buku, yang terbesit bagi para pencinta buku adalah berburu buku. Baik itu buku bestseller, buku referensi, fiksi, non fiksi dan lain-lain tentu tersedia. Dan yang pasti harganya pun terjangkau. Dalam konteks Maluku Utara, untuk mencari buku-buku masih tergolong sulit. Apalagi untuk buku bacaan anak-anak sekolah dan mahasiswa. Kalaupun untuk membeli kita harus memesan. Baik itu melalui orang yang sedang berada di kota besar (Jakarta, Bandung dan Yogyakarta) ataupun melalui aplikasi. Untuk aplikasi malah kena ongkos kirim yang terkadang melebihi harga buku. Hal ini yang kemudian membedakan kita di Maluku Utara dengan sebagian orang di pulau Jawa. Bagi kami di Maluku Utara, buku masih harus diperjuangkan. Menjelang pembukaan Festival Buku Maluku Utara (11/09/2026), alangkah baiknya kita tidak hanya membicarakan diskusi buku, diskusi panel dan kelas menulis, tetapi bagaimana para pengunjung yang datang bisa berburu buku lebih mudah dan murah. Setidaknya, dengan adanya Festival Buku Maluku Utara bisa menjembatani warganya yang selama ini kesulitan menjangkau buku. Sejatinya, festival buku adalah akses yang adil bagi para pemburu buku. Sebab dari buku yang diperjuangkan itulah lahir generasi baru Maluku Utara yang tidak hanya mengenal rempah masa lalu tetapi juga mampu menuliskan masa depan.
Ruang Perjumpaan
Sudah saatnya kita memandang Festival Buku Maluku Utara bukan sekadar sebagai ajang seremonial, tetapi lebih dari itu. Festival buku adalah ruang perjumpaan antara pembaca, penulis, penerbit maupun komunitas. Ruang di mana berbagai pihak yang selama ini terpisah oleh jarak, biaya dan keterbatasan dapat bertemu, berbicara, berdiskusi dan merancang masa depan literasi Maluku Utara. Olehnya Festival Buku Maluku Utara amatlah penting dikelola dengan baik dan diagendakan setiap tahun dengan tidak berpusat pada satu tempat (baca: kabupaten/kota). Festival buku sebagai ruang perjumpaan tentu para pecinta buku bisa bertemu langsung dengan penulisnya. Semisal, festival ini tentu banyak penulis Maluku Utara yang akan hadir sehingga berkesempatan bagi penulis pemula untuk bisa bertemu secara langsung yang mungkin selama ini hanya ia sapa lewat media sosial. Para komunitas literasi pun bisa bertemu dan berbagi cerita. Belum lagi penerbit ternama (LP3S) yang turut hadir yang kita hanya tahu ketika membaca buku-buku hasil cetakannya. Dan masih banyak lagi cerita di balik perjumpaan itu. Setidaknya, perjumpaan-perjumpaan kecil inilah yang sejatinya menghidupkan sebuah festival.
Melalui ruang perjumpaan, festival buku menemukan maknanya. Ruang perjumpaan dalam festival buku di samping perjumpaan secara fisik tentu juga perjumpaan secara gagasan. Di mana ia menjadi ruang untuk berdiskusi, berdebat dan bertukar pikiran. Di sini bukan hanya membicarakan soal buku apa yang bagus, tetapi literasi bisa menjadi alat berpikir kritis.
Pada akhirnya, Festival Buku Maluku Utara bukan tentang buku semata. Ia tentang manusia. Tentang berburu buku dan ruang perjumpaan. Dari titik inilah yang nantinya akan mengubah cara kita memandang dunia. Festival Buku Maluku Utara 2026 mempunyai peluang untuk menjadi ruang perburuan dan perjumpaan yang bermakna. Ada harapan, kebersamaan dan cita-cita serta semangat untuk memajukan literasi di bumi para raja. Mari sukseskan Festival Buku Maluku Utara tahun 2026. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.