Oleh: Herman Oesman

Dosen Sosiologi FISIP UMMU

_______

“…selama RRI terus mampu mendengar denyut masyarakat…, gelombang republik akan terus mengudara…”

11 September 1945 bagi bangsa Indonesia, merupakan hari yang tak terlupakan.

87 tahun lalu, lembaga ini teguh menjaga suara Indonesia, dengan kondisi yang tak menentu.

11 September, tidak hanya memperingati Hari Radio Nasional, tetapi di titik ini, tanggal ini, RRI ini lahir, menjaga, merawat suara Indonesia hingga di usianya ke 87.

RRI genap berusia 87 tahun, sebuah perjalanan panjang yang menjadikan radio bukan sekadar media penyiaran.

RRI telah menjadi saksi sejarah, penjaga memori kolektif, dan penghubung suara Indonesia dari kota besar hingga pulau-pulau terluar.

Di tengah derasnya arus media sosial, podcast, dan kecerdasan artifisial (akal imitasi), masih relevankah radio?

Radio justru makin menarik. Radio tidak mati; ia bertransformasi.

RRI membuktikan, kekuatan suara tetap memiliki tempat yang istimewa dalam kehidupan masyarakat modern.

RRI lahir dari semangat kemerdekaan
RRI berawal dari situasi genting setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Ketika siaran radio Jepang (Hoso Kyoku) dihentikan pada 19 Agustus, masyarakat kehilangan sumber informasi resmi.

Di saat yang sama, radio-radio asing menyiarkan kabar, sekutu akan kembali menguasai Indonesia.

Kondisi itu mendorong para tokoh penyiar berkumpul bersama pemerintah di Pejambon, Jakarta, pada 11 September 1945.

Delapan tokoh, di antaranya Dr. Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Maladi, dan Soehardi, menyepakati.

Radio Republik Indonesia harus dibentuk sebagai alat komunikasi negara dengan rakyat.

Malam harinya, di tengah situasi tak menentu, rapat tetap dilanjutkan.

Dan, Abdulrahman Saleh ditetapkan sebagai pemimpin pertama RRI.

Momentum itulah yang kemudian dikenang sebagai hari lahir RRI sekaligus Hari Radio Nasional.

Sejak awal, RRI lahir bukan untuk kepentingan bisnis.

RRI dibangun di atas idealisme: menyebarkan informasi yang benar, memperkuat persatuan bangsa, dan menjadi suara republik yang baru merdeka.

Di masa revolusi fisik, masa perjuangan, radio merupakan senjata yang tak berbentuk.

Melalui gelombang udara, kabar perjuangan, pidato pemimpin bangsa, hingga semangat mempertahankan kemerdekaan disampaikan kepada rakyat.

Banyak daerah, masyarakat berkumpul mengelilingi radio untuk mendengar perkembangan perang dan arah perjuangan nasional.

Peran itu kemudian berkembang.

Dan di Era pembangunan, RRI kemudian bertransformasi menjadi ruang pendidikan publik.

Program pertanian, nelayan, kesehatan, kebudayaan, sastra, hingga sandiwara radio menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

RRI hadir bukan hanya sebagai penyampai berita, tetapi juga sebagai guru, sahabat, dan hiburan keluarga.

Bagi wilayah kepulauan, RRI memiliki makna yang lebih dalam.

Ketika internet belum menjangkau seluruh desa, RRI tetap mampu menembus laut, gunung, dan pulau-pulau kecil. Dan kemudian melahirkan figur-figur terkenal Om Desa, Bibi Desa, dan Om Kota.

RRI menjadi media yang paling demokratis karena dapat didengar siapa saja tanpa biaya langganan yang mahal.

Memasuki abad ke-21, lanskap media berubah drastis.

Kehadiran YouTube, Spotify, TikTok, dan berbagai platform digital mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi.

Generasi muda lebih banyak menggunakan telepon pintar dan media sosial dibanding radio konvensional.

RRI tak goyah. RRI memilih beradaptasi daripada bertahan secara pasif.

Siaran kini tidak hanya hadir melalui frekuensi FM dan AM, tetapi juga melalui streaming, aplikasi RRI Digital, podcast, serta distribusi konten di media sosial.

Pendengar tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis; warga Indonesia di luar negeri pun dapat menikmati siaran RRI secara langsung.

Transformasi digital ini menabalkan esensi radio bukan terletak pada perangkatnya, melainkan pada kemampuan membangun kedekatan melalui suara.

Teknologi berubah, tetapi kebutuhan manusia akan informasi yang terpercaya tetap sama.

Kepercayaan merupakan modal utama.

Dalam teori media, dijelaskan Manuel Castells (2010), masyarakat jaringan membutuhkan institusi yang mampu membangun trust di tengah banjir informasi.

Kepercayaan menjadi mata uang paling berharga dalam ekosistem digital, demikian Castells.

Pandangan tersebut sangat relevan bagi RRI.

Menguatnya era hoaks dan disinformasi, RRI sebagai lembaga penyiaran publik memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan informasi yang telah diverifikasi.

RRI tidak bersaing menjadi yang paling cepat, melainkan yang paling dapat dipercaya.

John Durham Peters dalam Speaking into the Air (1999) menegaskan, media suara memiliki kemampuan unik menciptakan rasa kehadiran dan kedekatan emosional meskipun pendengar berada di tempat yang berjauhan.

Inilah kekuatan RRI yang sulit digantikan media visual sekalipun.

Salah satu kekuatan terbesar RRI adalah jaringannya yang menjangkau hampir seluruh Indonesia.

Stasiun-stasiun daerah tidak sekadar menjadi relay berita nasional, tetapi juga merekam identitas lokal. Mulai bahasa daerah, musik tradisional, cerita rakyat, hingga dinamika sosial masyarakat setempat.

RRI memiliki posisi strategis dalam mendokumentasikan budaya, mengangkat tradisi lokal, mendukung literasi, serta menjadi ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat kepulauan.

RRI memberi panggung bagi suara yang acapkali tidak memperoleh ruang di media arus utama.

Keberadaan RRI sebagai lembaga layanan publik juga ikut memperkuat komunikasi kebencanaan.

Saat jaringan internet terganggu akibat cuaca ekstrem atau bencana alam, siaran radio tetap menjadi media yang paling tangguh untuk menyampaikan informasi darurat kepada masyarakat.

RRI 87 tahun merupakan simbol ketahanan sebuah institusi yang terus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

RRI telah melewati masa kolonial, revolusi, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, hingga era digital.

Setiap periode menghadirkan tantangan berbeda, tetapi satu hal tetap bertahan. Komitmen menyuarakan kepentingan publik.

Di tengah ledakan informasi digital, bangsa ini memerlukan media yang independen, kredibel, dan dekat dengan rakyat.

RRI memiliki modal sejarah, jaringan, dan kepercayaan untuk menjalankan peran tersebut.

Selama Indonesia masih membutuhkan suara yang mempersatukan, radio akan tetap hidup.

Selama RRI terus mampu mendengar denyut masyarakat sekaligus menyuarakan harapan mereka, gelombang republik akan terus mengudara—dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, termasuk pulau-pulau kecil yang menjadi wajah sejati Indonesia. (*)