Oleh: Agus SB

Pengajar Antropologi, FUAD – IAIN Ternate

_______

HARI-hari ini kita, sivitas akademika, merayakan 60 tahun usia Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate. Kita, tentu saja, tidak sedang merapalkan atau menyanyikan sebuah elegi untuk ‘masa lalu. Jika semua elemen sivitas akademika memiliki harapan yang sama, kita berharap ini bukan suatu tindakan nostalgia yang tidak produktif. Perayaan ini memang dimaksudkan “mengingat” peristiwa 60 tahun silam yang mengantar eksistensi IAIN Ternate saat ini. Tetapi kita nyaris sama sekali tidak memiliki ingatan kolektif tentang peristiwa itu. Ingatan kita sedikit terbantu (jika anda membacanya) hanya oleh 20an lembar dokumen catatan yang ditulis dengan mesin ketik oleh (alm) Sulaiman L. Azis (Al-Fatihah untuk almarhum….amiiin ya Rabb) tentang peristiwa peresmian Fakultas Tarbiyah di Ternate sebagai bagian dari (Filial) IAIN Ujungpandang tahun 1966. Namun, aspek penting dari merayakan Dies Natalis Institut adalah sebuah tindakan kolektif yang dilatari kesadaran tidak hanya mengenai kehadiran IAIN” Ternate sebelum mencapai usia 60 tahun, tetapi juga seperti apa atau bagaimana keberlanjutan eksistensinya setelah berusia 60 tahun. Ini bukan perkara sederhana dan mudah seperti membalikkan telapak tangan.

Kesadaran kolektif kita (jika memang semua “kita”) dicetuskan oleh objek fisik yang kita lihat dan sentuh pada masa kini, seperti tanah yang kita tapaki di atasnya pada setiap waktu kerja, gedung perkuliahan dan bangunan Rektorat yang berdiri di atas lahan yang menyusun kompleks kampus IAIN Ternate. Kompleks objek-objek dan lanskap kampus saat ini bukan tanpa masa lalu. Jika anda menyadarinya, kompleks yang dinamakan kampus IAIN Ternate “berbicara” (baca: remembrance:pengingat) tentang kehadiran sebelum kehadirannya saat ini, dan setelah ini. Kehadiran kompleks ini, tentu saja, tidak muncul dari dalam bumi atau hadir dalam ruang hampa. Itu adalah hasil karya manusia yang hadir sebelum kehadiran kita. Jika anda kebingungan atas penjelasan ini, bayangkanlah kompleks pekuburan. Meskipun anda tidak mengenal atau mengetahui siapa penghuninya, secara subyektif anda mengetahui kompleks itu terdiri atas deretan (objek) makam dimana manusia yang pernah hidup kemudian meninggal dan dimakamkan di dalamnya.

Sebagai manusia, kita memiliki kesadaran waktu rangkap tiga: masa kini adalah masa depan dari masa lalu, dan masa kini adalah masa lalu dari masa depan. Kebermaknaan masa lalu, 60 tahun silam, terekspresikan dengan sendirinya oleh eksistensi kompleks kampus IAIN Ternate saat ini. Tetapi merayakan usianya bukan berarti merayakan masa lalu itu sendiri. Perayaan, karena itu, mengatakan dan mengingatkan bahwa, kita berutang jasa kepada mereka yang di masa lalu telah menghadirkan institut ini. Utang jasa yang takkan pernah dapat dilunasi oleh siapapun, sebagaimana imbalan pahala terhadap amal jari’ah mereka takkan pernah selesai, sejauh Institut ini survive di tengah persaingan perguruan tinggi saat ini dan di masa depan.

Kerap kali dikatakan bahwa masa depan tidak dapat diduga atau bahkan tidak dapat direncanakan. Keberadaan dan perayaan 60 tahun Institut saat ini menunjukkan sebaliknya. Masa kini yang merupakan masa depan dari masa lalu justru direncanakan dan diwujudkan 60 tahun silam, apapun gambaran pikiran atau visi yang dimiliki para pendiri saat itu. Keberadaannya saat ini telah melewati kurun tahun 1966 (Fakultas Tarbiyah), 1997 (STAIN Ternate) dan 2013 (IAIN Ternate), dan mereka yang mengabdikan hidupnya pada ilmu pengetahuan di institut ini silih berganti. Dalam setiap periode di atas, selalu ada jerih orang-orang berdedikasi yang keras kepala, menerjang hambatan, meraih peluang dalam mentransformasi institut.

Semua kita di hari-hari ini, sekali lagi, berutang jasa terhadap mereka yang berdedikasi mentransfromasi institut hingga wujudnya saat ini. Utang jasa hanya dapat dibayar dengan jasa yang didedikasikan terhadap institut. Ini tidak mudah, tentu saja. Keberlanjutan Institut tidak dapat dipikul satu orang, meskipun ada satu orang yang diserahi dan mengambil tanggung jawab untuk menyatukan semua elemen sivitas akademika dalam suatu gerak orkesrasi yang harmoni di bawah visi masa depan institut. Apapun retorika visinya, kebajikan adalah substansinya. Masa depan institut sesungguhnya direncanakan dan diwujudkan saat ini melalui ikhtiar dan komitmen dari semua elemen sivitas akademika dengan prinsip keteguhan: pele putus malintang patah (sic!). Tak ada di antara kita yang ingin menjadi saksi kematian Institut akibat penyakit malas berpikir secara kolektif di tengah persaingan di antara perguruan tinggi. Kepada semua kita berlaku pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.

Selamat merayakan 60 Tahun IAIN Ternate. Enam puluh tahun telah dan berkelanjutan berkhidmat kepada kebajikan! (*)