Tandaseru — Senyum hangat warga dan pelukan haru para ibu di depan Kantor Kecamatan Ibu Selatan, Halmahera Barat, Maluku Utara, menjadi akhir manis dari sebuah petualangan udara yang menegangkan. Hari itu, Kamis, 13 Agustus 2026, Shifa Damayanti menyentuh bumi Maluku Utara tidak hanya dengan parasutnya, tetapi juga dengan sebuah catatan sejarah baru.

Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (UI) angkatan 2025 itu resmi menjadi perempuan pertama yang sukses melakukan aksi hike and fly—mendaki puncak gunung lalu terbang turun menggunakan parasut—di Gunung Api Gamalama Ternate dan Gamkonora Halbar.

Anggota Mapala UI ber-NPA M-1087-UI ini melakoni aksi heroiknya sebagai bagian dari Ekspedisi Fly the Spice Islands. Berbekal lisensi pilot paralayang tingkat pertama yang dikantonginya sejak 2023, Shifa membuktikan batas eksplorasi ruang udara Indonesia masih sangat terbuka lebar bagi siapa saja, termasuk kaum perempuan.

Perjalanan bersejarah ini diawali dari Gunung Gamalama. Memulai pendakian melalui jalur Moya pada Jumat, 7 Agustus 2026, Shifa tiba di puncak dan bersiap terbang keesokan harinya. Percobaan lepas landas pertama sempat gagal akibat kondisi medan dan angin. Namun, tepat pukul 15.00 WIT, ia berhasil mengangkasa.

Ujian sejati datang saat ia mendekati titik pendaratan utama di Pantai Danau Tolire Kecil. Embusan angin kencang dari barat-selatan mengamuk hingga melebihi 30 km/jam, mendorong parasutnya menjauh. Mengandalkan ketenangan dan pembacaan situasi yang cepat, Shifa mengambil keputusan mandiri untuk mendarat darurat di area darat sekitar 1 kilometer dari target pendaratan awal. Aksi sigapnya ini berbuah manis—ia mendarat selamat dan langsung disambut antusias warga sekitar.

Tak berhenti di situ, tantangan berikutnya menanti di Gunung Gamkonora. Tim memulai pendakian via Desa Gamsungi pada Rabu, 12 Agustus 2026. Puncak antusiasme publik meletus pada Kamis, 13 Agustus 2026. Sejak pagi, warga Desa Talaga sudah berbondong-bondong berkumpul setelah mendengar pengumuman dari pengeras suara masjid desa. Mereka tak sabar menyaksikan atraksi udara yang belum pernah ada sebelumnya di kampung mereka.

Setelah dua kali percobaan take-off, Shifa akhirnya mengudara pada pukul 14.47 WIT. Di udara, ia kembali diadang angin selatan-barat berkecepatan 30–40 km/jam yang menghalanginya mendarat di lapangan bola desa. Tanpa panik, Shifa mengalihkan parasutnya dan mengeksekusi pendaratan darurat dengan mulus tepat di halaman kantor kecamatan.

Sorak-sorai warga pecah seketika. Momen haru tak terbendung saat beberapa ibu-ibu setempat langsung berlari memeluk dan mencium Shifa sesaat setelah kakinya memijak tanah. Momen emosional yang direkam warga tersebut bahkan viral di media sosial TikTok hanya dalam hitungan jam.

Aksi berani Shifa di bumi Moloku Kie Raha ini menuai apresiasi tinggi dari Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Pariwisata Zita Anjani. Menurutnya, ekspedisi ini menjadi contoh nyata bagaimana pemerintah, anak muda, dan komunitas dapat berkolaborasi memperkenalkan potensi pariwisata Indonesia, sekaligus membuktikan kesetaraan ruang eksplorasi bagi perempuan.

“Saya berharap ekspedisi ini dapat menjadi awal dari lebih banyak eksplorasi dan kolaborasi di Maluku Utara, sekaligus mendorong semakin banyak anak muda untuk mengenal Indonesia lebih jauh,” ujar Zita.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Ika Fuji Rahayu
Reporter