Kemandirian, keunggulan dan adaptif diutamakan, karena dalam 10 tahun terakhir bukan hanya di Indonesia, tetapi di dunia banyak sekali terjadi perubahan ekonomi yang begitu dinamis.
“Jadi memang dibutuhkan bukan masalah ketahanan pasar saja, tapi ketahanan para petani berubah sesuai dengan perkembangan yang ada,” timpal dia.
Menurutnya, pasar di Taliabu aksesnya masih sangat terbatas lantaran belum adanya keseriusan dan perencanaan untuk pengembangan dan pemberdayaan masyarakat secara detail, terutama pemerintah daerah melalui bidang terkait.
Sashabila mengungkap, dirinya melihat badan promosi daerah belum bekerja secara maksimal. Padahal tugas mereka adalah memastikan bahwa produk-produk asli daerah bukan hanya soal tambang.
Potensi pertanian dan perikanan, lanjut dia, masih dibeli dengan harga tengkulak yang cukup rendah sehingga berdampak buruk terhadap perputaran ekonomi yang belum mengikuti harga pasar.
“Harga pasar tidak berlaku di Taliabu secara langsung, hal itu justru dilaksanakan di Luwuk atau di Kendari sebagai daerah penerima hasil alam dari Taliabu. Sehingga petani dan nelayan di Taliabu walaupun harga pasar tinggi, mereka tidak sejahtera karena harga yang dibeli tidak sesuai dengan harga pasar,” bebernya.
Untuk itu pula, dia menilai perlu adanya intervensi pemerintah atas kegagalan terhadap harga pasar dengan memprioritaskan peningkatan daya beli. Bukan hanya daya beli di pasar, tetapi juga daya beli para petani dan nelayan.
“Daya beli alat, daya beli pupuk, hal hal yang memang dibutuhkan untuk memastikan bahwa produktifitas dan kualitas para petani bisa di jaga,” ucapnya.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.