Tandaseru — Curah hujan tinggi di wilayah lingkar tambang sering kali menjadi tantangan besar bagi industri pertambangan. Air hujan yang membasahi area operasional tidak bisa begitu saja dilepaskan ke alam bebas. Di Halmahera Selatan, Harita Nickel membagikan resep dan komitmennya dalam mengolah air limpasan tambang sebelum kembali menyatu dengan perairan sekitar.
Langkah ini bukan sekadar rutinitas teknis, melainkan fondasi penting praktik pertambangan yang bertanggung jawab.
Mencegat Sedimen di 52 Kolam Pengendapan
Sistem pengelolaan air di kawasan operasional Harita Nickel bersandar pada keberadaan 52 kolam pengendapan (sediment pond). Seluruh fasilitas ini tersebar strategis di dua wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP):
- PT Trimegah Bangun Persada (TBP): Menampung 35 kolam pengendapan.
- PT Gane Permai Sentosa (GPS): Menampung 17 kolam pengendapan.

Di antara puluhan kolam tersebut, raksasa pengolahan air bernama Tuguraci (TG) 2 menjadi benteng pertahanan utama. Memiliki luas mencapai 43 hektare dan kapasitas tampung hingga 1,2 juta meter kubik, TG2 bertugas menampung air limpasan dari area hulu.
“Air limpasan dialirkan melalui beberapa kolam sehingga partikel sedimen memiliki waktu untuk mengendap (settling time). Setelah melalui proses pengendapan dan pengolahan hingga memenuhi baku mutu, air baru dialirkan ke badan air,” ujar Aryadhani Arihta Sembiring Milala, Hydrology Strategic Compliance Engineer Harita Nickel, Senin (20/7/2026).
Proses ini mengandalkan gaya gravitasi alami. Air limpasan ditahan sejenak agar partikel sedimen jatuh ke dasar secara alami, sebelum akhirnya diarahkan menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Tak hanya dibuang kembali ke alam, sebagian air jernih hasil olahan juga dimanfaatkan kembali untuk operasional perusahaan, menciptakan efisiensi penggunaan air.
Pengawasan Ketat: Kombinasi Otomatisasi SPARING dan Pengujian Manual

Pengolahan tak berhenti setelah air mengendap. Untuk memastikan kualitas air tetap terjaga, Harita Nickel menerapkan pengawasan berlapis setiap hari melalui pemantauan parameter utama:
- pH (Tingkat Keasaman)
- TSS (Total Suspended Solids)
- Tingkat Kejernihan
- Debit Air
1. Pemantauan Real-Time (SPARING)
Perusahaan memanfaatkan SPARING (Sistem Pemantauan Air Limbah Secara Terus-Menerus dan Dalam Jaringan). Sistem ini terhubung langsung ke server Kementerian Lingkungan Hidup.
Transparansi Data: Parameter seperti TSS, pH, dan debit air terkirim secara otomatis ke server kementerian setiap 2 menit sekali.
2. Uji Verifikasi Manual & Laboratorium Terkreditasi
Sebagai langkah verifikasi ganda, tim di lapangan rutin mengambil sampel air secara manual setiap 2 jam sekali. Pengujian ketat ini dilakukan langsung di laboratorium lingkungan yang telah mengantongi akreditasi ISO/IEC 17025.
Protokol Keselamatan: Jika pemantauan mendeteksi adanya indikasi parameter yang mendekati atau berpotensi melampaui baku mutu, pintu air keluar (outlet) akan segera ditutup sementara. Air akan ditahan di dalam sistem hingga pengolahan dinilai optimal.

Menjaga Keseimbangan Ekosistem dan Operasional
Fasilitas seperti TG2 tidak hanya berfungsi menampung dan membersihkan air limpasan. Di kala curah hujan melonjak, keberadaan kolam ini menjadi penahan erosi dan penangkal masuknya sedimentasi ke sungai maupun perairan pesisir di sekitar area tambang.
Geotech & Hydrology Superintendent Harita Nickel, Reza Febri, menegaskan pengelolaan air telah masuk ke dalam peta rekayasa sejak awal perencanaan tambang.
“Tujuannya bukan hanya memenuhi baku mutu, tetapi juga mencegah sedimen terbawa ke sungai atau perairan di sekitar area operasi. Karena itu, pengelolaan air sudah kami rancang sejak awal dalam setiap tahapan operasional tambang,” tegas Reza.
Bagi Harita Nickel, perlindungan lingkungan dan produktivitas tambang bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang. Dengan tata kelola air yang terintegrasi dari hulu ke hilir, keberlanjutan lingkungan sekitar dapat terus terjaga seiring berjalannya operasional pertambangan.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.