Oleh: Anwar Husen
Kolomnis/Tinggal di Tidore
_______
SAYA menyimaknya sambil sesekali senyum-senyum. Iya, ini adalah perang urat syaraf yang diasosiasikan sebagai pendukung bakal calon kepala daerah di kabupaten Halmahera Tengah, di sebuah grup Facebook bernama Nuansa Halmahera Tengah.
Grup ini terlihat intens dan paling menonjol mendiskusikan bakal calon kepala daerah di kabupaten kaya potensi tambang ini. Saking seriusnya, hingga terlihat mendominasi dan mengeliminir isu paling aktual di wilayah itu beberapa pekan terakhir, genangan air dan banjir bandang akibat curah hujan yang tinggi dan menggenangi pemukiman warga hingga fasilitas publik. Saya pernah berseloroh di sebuah komentar, anda bahas pemilihan kepala daerah terus hingga anda berenang. Maksudnya, dibawa hanyut oleh derasnya air yang sedang meluap tadi.
Di sebuah WAG, saya berkomentar agak sinis ketika membaca berita di sebuah media, paguyuban mahasiswa di sebuah kabupaten di Maluku Utara yang relatif jauh jarak geografisnya dari Halmahera Tengah, justru sedang menggelar diskusi membantu korban banjir ini. Di saat sama, tak ada informasi komunitas mahasiswa di wilayah terdampak banjir ini, melakukan hal sama, peduli pada korban banjir. Sedikit membuat saya jadi apriori juga karena rata-rata anggota grup publik di Facebook tadi adalah orang-orang yang teridentifikasi berusia muda dan bisa jadi sebagian dari mereka adalah mahasiswa. Jadi, konklusi saya, yang bisa jadi juga, tak sepenuhnya benar: mahasiswa dari wilayah lain sedang mendiskusikan upaya memberi bantuan kepada korban banjir tadi, sedangkan komunitas mahasiswa yang wilayahnya sedang terdampak banjir, yang boleh jadi korbannya adalah keluarga mereka sendiri, malah sedang serius mendiskusikan Pemilihan Kepala Daerah.
Lepas dari soal di atas, antusiasme warga Halmahera Tengah yang di wakili grup publik di Facebook tadi, memang pantas mendiskusikan bakal calon Kepala Daerah mereka. Terlebih, wacana calon yang muncul hingga saat ini, terafiliasi bahkan mungkin akan mengerucut pada pertarungan dua kutub kekuatan yang terasosiasi dari diskusi di grup tadi sebagai putra asli Fogogoru versus bukan putra asli Fogogoru. Fogogoru, sebuah idiom yang jadi lanskap entitas kesejarahan dan filosofi hidup yang melatari mereka.
Putra Asli Fogogoru diasosiasikan pada sosok Bupati sebelumnya yang kena jeda waktu untuk maju pada periode berikutnya karena regulasi Pemilihan Kepala Daerah langsung. Sedangkan yang Bukan Putra Asli Fogogoru di asosiasikan pada sosok Penjabat Bupati saat ini, yang sedang mengambil ancang-ancang untuk berkontestasi. Saya menyimak serius kualitas argumen dari dua kutub pendukung, atau mungkin penggembira, sambil sesekali senyum sendiri.
Paling tidak, ada beberapa simpul argumen yang saya baca dari seliweran dan ajang baku malawan mati ini. Yang pro calon berlatar Penjabat Bupati saat ini, yang instansi asalnya di sebuah kementerian di Jakarta ini, yang katanya di utus untuk mengawal Proyek Strategis Negara di wilayah ini, beralasan bahwa kesejahteraan warga daerah ini begitu terasa ketika selang dua tahun di pimpinnya. Aparatur Sipil Negara di pemerintahannya hingga anggota DPRD, konon ikut menikmati berkah itu. Punya jaringan kerja di pemerintahan pusat yang kuat.
Kelompok sebelahnya tak mau kalah. Mereka justru mencemoh bahwa kalau ada target mau berkontestasi, siapapun dia, pasti akan memanfaatkan kekuasaannya dengan segala cara untuk menyenangkan warganya, calon pemilihnya nanti. Dengan potensi jaringan kerjanya, banyak sumber daya bisa dikerahkan untuk menunjang kinerja hingga mencitrakan keberhasilannya. Kecuali jika dia tak berniat berkontestasi baru bisa di ukur dedikasi dan motivasi kinerjanya. Sampai di sini, saya sedikit tertegun. Ternyata hebat juga orang-orang ini berargumen. Belum lagi alasan mereka tentang kinerja bakal calon Putra Asli yang didukung, bahwa di jeda sekitar dua tahun di landa wabah Covid-19 lalu, yang menyita begitu besar sumber daya dan keuangan daerah, banyak juga kegiatan dan proyek infrastruktur mercusuar yang di bangun. Andai tak ada Covid, mungkin juga Halmahera Tengah tambah menyala. Mungkin akselerasi pembangunannya makin kencang maksudnya. Kelompok ini terkesan masih menebar optimisme bahwa jika calon mereka di beri kesempatan kedua kalinya, akan ada lompatan kemajuan yang signifikan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.