Oleh: Sofyan A. Togubu

Pegiat Literasi

_______

SECARA umum, kita mengenal Raden Ajeng (RA) Kartini sebagai tokoh yang memperjuangkan kesetaraan dan pendidikan bagi perempuan. Namun, jika melihat lebih jauh perjalanan pemikirannya, Kartini juga merupakan sosok yang menanamkan semangat literasi. Pendidikan bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan jalan untuk membuka pikiran, membangun kesadaran, dan melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas.

Buku menjadi salah satu jendela yang digunakan Kartini untuk mengenal dunia. Ia membaca berbagai bacaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Dari buku-buku yang dibacanya, lahir pertanyaan, kegelisahan, sekaligus gagasan tentang pendidikan, kebebasan berpikir, kesetaraan, dan perubahan sosial.

Tidak hanya membaca, Kartini juga menulis. Surat-surat yang ditulisnya kemudian menjadi warisan pemikiran yang penting. Gagasan-gagasannya dibukukan dan dikenal luas melalui Habis Gelap Terbitlah Terang. Dari perjalanan Kartini, kita belajar bahwa tulisan tidak selalu berhenti sebagai rangkaian kata. Tulisan dapat menjadi suara, kritik, gagasan, bahkan menjadi kekuatan untuk mendorong perubahan.

Jejak Kartini menunjukkan bahwa literasi sesungguhnya tidak berhenti pada aktivitas membaca. Literasi juga berarti keberanian untuk berpikir, menyampaikan gagasan, menulis kegelisahan, dan mendokumentasikan pengalaman agar tidak hilang ditelan zaman.

Semangat itulah yang relevan untuk kita lihat di Maluku Utara hari ini. Di tengah tantangan dalam membangun budaya membaca dan memperkuat ekosistem literasi, hadir sebuah ikhtiar melalui Festival Buku atau BookFest Maluku Utara 2026. Kegiatan yang digagas Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Maluku Utara, Komunitas Faduli Buku, dan Jakofi Pustaka ini akan berlangsung di Benteng Oranje, Ternate pada 11-12 September 2026.

Festival yang sebelumnya direncanakan berlangsung selama tiga hari tersebut kemudian dipadatkan menjadi dua hari, dengan tetap mempertahankan sejumlah agenda utama. BookFest bukan sekadar menghadirkan buku dan penulis, tetapi menjadi ruang bertemunya gagasan, pembaca, penulis, komunitas, dan generasi muda.

Sejumlah kegiatan produktif disiapkan, mulai dari diskusi buku, creative writing, teknik menulis sajak, musikalisasi puisi, pameran buku karya penulis Maluku Utara, hingga meet and greet, yakni ruang untuk bertemu dan berkenalan secara langsung dengan para penulis.

Dari berbagai agenda tersebut, ada satu sesi yang menarik perhatian. Meet and greet nantinya menghadirkan dua sosok perempuan dengan latar belakang dan pengalaman yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh semangat yang sama: menulis, berkarya, dan menjaga tradisi intelektual melalui literasi. Mereka adalah Marjorie Amal dan Syafitri Zahra Togubu.

Marjorie yang akrab disapa Atun, merupakan penulis, penyair, sekaligus pejabat publik yang telah melahirkan sejumlah karya. Sementara itu, Syafitri Zahra Togubu atau SZT merupakan penulis yang telah melahirkan puluhan buku dengan berbagai genre sastra. Konsistensinya dalam menulis juga pernah mendapat perhatian dari penulis Maluku Utara, Asghar Saleh, melalui tulisannya yang berjudul Bukan Penulis Perempuan Biasa.

Kehadiran dua penulis perempuan tersebut tentu bukan sekadar agenda untuk berbincang atau memperkenalkan karya. Lebih jauh, pertemuan ini dapat menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa tradisi menulis masih mungkin dirawat di tengah kesibukan, pekerjaan, keluarga, dan berbagai tuntutan kehidupan sehari-hari.

Di sinilah letak pentingnya keteladanan seorang penulis. Tetap menulis di tengah kesibukan merupakan sesuatu yang patut diapresiasi. Sebab, menulis membutuhkan ketekunan, disiplin, dan kemauan untuk terus merawat gagasan.

Persoalan dalam dunia literasi terkadang bukan semata-mata tidak adanya orang yang mampu membaca, tetapi belum tumbuhnya kebiasaan untuk membaca, berpikir, kemudian menuliskannya kembali menjadi sebuah gagasan. Karena itu, kehadiran penulis dan komunitas literasi menjadi penting. Mereka tidak hanya menghasilkan buku, tetapi juga memberikan contoh bahwa gagasan harus dirawat, pengalaman perlu dicatat, dan kegelisahan dapat diubah menjadi tulisan. Sebuah tulisan yang lahir hari ini mungkin saja menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi bagi orang lain bertahun-tahun kemudian.

Dengan demikian, menulis bukan sekadar aktivitas untuk menghasilkan buku. Menulis adalah cara merekam gagasan, merawat ingatan, menyampaikan kegelisahan, mengabadikan pengalaman, dan meninggalkan jejak pemikiran bagi generasi berikutnya.

Kartini telah memberikan teladan tentang hal tersebut. Ia membaca, berpikir, lalu menulis. Apa yang ditulisnya pada masa lalu kemudian menjelma menjadi warisan pemikiran yang terus dibaca hingga hari ini.

Kini, dari Jawa Tengah, semangat tersebut seperti menemukan gema baru di wilayah timur Indonesia, di Maluku Utara pada BookFest Maluku Utara 2026. Diharapkan masyarakat kembali membuka buku, pembaca mulai berani menulis, anak-anak muda terdorong untuk berkarya, dan para penulis terutama perempuan, semakin percaya diri untuk terus melahirkan karya. Ukuran yang lebih penting adalah jejak yang ditinggalkannya setelah kegiatan selesai.

Karena itu, dari Benteng Oranje, BookFest Maluku Utara 2026 diharapkan menjadi gerakan kecil yang menyalakan kembali keberanian untuk membaca dan menulis. Barangkali, dari satu buku yang dibaca, satu puisi yang ditulis, atau satu halaman yang diselesaikan, akan lahir penulis-penulis baru dari Maluku Utara.

Bahkan, bisa jadi akan lahir Kartini-Kartini baru dari Maluku Utara bukan untuk mengulang sejarah, melainkan untuk menulis sejarahnya sendiri. Sebab setiap zaman membutuhkan orang-orang yang mau membaca zamannya, berani menyuarakan pikirannya, dan meninggalkan jejak melalui tulisan. Dan dari situlah literasi menemukan maknanya: bukan hanya membaca dunia, tetapi ikut menuliskan masa depan. (*)