Oleh: Alfajri A. Rahman

_______

SELAMAT jalan, senior…

Kabar duka menyelimuti dunia jurnalistik Maluku Utara. Mantan Sekretaris PWI sekaligus wartawan senior, Adnan Ways, berpulang ke Rahmatullah di Rumah Sakit Dharma Ibu, Kota Ternate, Selasa (11/8/2026).

Pria yang dikenal di kalangan aktivis media ini sangat sopan dan tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan rekan-rekan jurnalis. Sosoknya dikenal lewat karya-karya tulisan yang nikmat dibaca serta mudah dipahami dari untaian kata yang dirangkainya. Redaksi media Aspirasi pun merasa sangat kehilangan sosok penyabar yang tidak pernah marah ini.

Di tangannya, setiap peristiwa yang ia temukan berubah menjadi tulisan yang apik dan indah saat dituangkan dalam bentuk feature bernarasi halus dan mudah dibaca.

Almarhum mengembuskan napas terakhir sewaktu menjalani perawatan dan berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Kabar kepergian tersebut menjadi duka mendalam bagi para kolega. Ko Nan—sapaan akrabnya—adalah sosok yang ramah dan mudah ditemui kapan saja serta di mana saja, termasuk saat rekan-rekan ingin berjumpa dengannya di alamat TKP (basecamp) samping Masjid Al-Munawwar.

Bagi kami, kepergian Ko Nan adalah perpisahan untuk selamanya. Di mata kawan-kawan jurnalis, Ko Nan adalah guru, orang tua, sekaligus kakak yang terus memberikan perhatian serius terhadap kemerdekaan pers di Maluku Utara.

Penulis teringat suatu peristiwa ketika terjadi aksi pemukulan oleh oknum polisi terhadap seorang jurnalis. Saat itu, melalui grup WhatsApp, seluruh jurnalis PWI langsung berkumpul di kantor Indotimur.com yang berlokasi di Kelurahan Takoma, Kecamatan Ternate Tengah. Sosok tegas almarhum yang kala itu menjabat sebagai Wakil Ketua PWI langsung memberikan komando untuk menggelar aksi turun ke jalan esok harinya.

“Besok kita harus turun demo sebagai bentuk protes atas kekerasan terhadap jurnalis!” tegas Ko Nan saat itu.

Sepanjang kariernya sebagai wartawan senior, Adnan Ways dikenal memiliki kepedulian besar terhadap perkembangan pers di Maluku Utara. Kepeduliannya tidak sebatas pada pelaksanaan tugas-tugas jurnalistik, melainkan juga aktif mendorong agar pers tetap menjadi pilar penting yang terus menyuarakan kepentingan masyarakat. Di tengah pesatnya investasi tambang dan jeritan para petani kopra, di situlah hadir kepedulian nyata seorang Ko Nan.

Sikap tawaduk dan kritis selalu lahir dari pemikiran cerdas Adnan Ways. Meski usianya tak lagi muda, semangat jurnalistiknya tetap terus membara. Kepergian Ko Nan meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang pernah mengenalnya. Sebagai tokoh jurnalis, sosoknya akan selalu abadi dan dikenang oleh keluarga serta kawan sejawat.

Sebab, pada akhirnya, semua akan kembali kepada-Nya. (*)