Oleh: Asghar Saleh
_______
ANIES Baswedan dalam pengantarnya menulis kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya menghubungkan peristiwa dengan makna. Ada relevansi antara gagasan penulis dengan caranya memandang semua peristiwa yang terlintas dalam ruang hidupnya. Ia ”memaksa” kita berhenti sejenak – melihat lintasan beragam isu dan memahami makna di baliknya dengan lebih jernih.
Dengan begitu saya mencoba memahami pilihan judul “Seismograf Keadilan”, sebuah padanan diksi yang tak biasa. Seismograf selalu dipahami sebagai sebuah instrumen yang mendeteksi, mengukur dan mencatat getaran atau pergerakan tanah yang disebabkan oleh gempa bumi tektonik maupun vulkanik atau sebuah ledakan besar. Ada sensor yang bekerja mengubah getaran itu menjadi angka-angka yang tercetak. Lalu diteruskan menjadi peringatan.
“Sensor” – sebuah sistem peringatan diubah menjadi mekanis akal sehat yang ditransformasi Anwar Husen, penulis buku ini dengan amplifikasi yang mengajak kita untuk “ikut berdiskusi” dan kemudian melahirkan cetakan-cetakan pemahaman dan gagasan solutif.
Anwar adalah mantan pejabat yang sedang menikmati masa purnanya dengan banyak menulis. Lahir di Tidore, 7 Maret 1968, semua jenjang sekolah diselesaikan di tanah kelahirannya, sebelum pindah ke Manado untuk kuliah dan ke Makassar saat menyelesaikan kelas magisternya. Di Manado, ia bergabung dengan HMI dan aktif sebagai jurnalis. Jejak berorganisasinya makin terasah saat bergabung dengan KNPI. Ia saat ini dipercaya sebagai Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara.
Mantan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Tidore serta sempat dipercaya sebagai Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Maluku Utara ini produktif berkarya dengan pilihan perspektif yang variatif. Tulisannya melintasi batas. Gaya menulisnya simpel dengan pilihan kata-kata yang mengalir. Ia reaktif terhadap sebuah kejadian yang memicu rasa ingin tahu. Sebuah potongan informasi yang viral ditulisnya dengan narasi yang tak berpihak. Orang ramai menikmati.
Buku “Siesmograf Keadilan” adalah buku keempat yang ditulisnya sejak ia berhenti melayani sebagai seorang ASN – seolah ini adalah “hidup kedua” seorang jurnalis dan aktivis yang dulu begitu akrab dengan notes, pena dan mesin tik. Tiga buku sebelumnya adalah “Inspirasi Indonesia – Sosok dan Kiprah”, “Cermin Retak Kehidupan” dan “Klik Sisi Lain”. Ada kelindan yang selalu menghubungkan setiap tulisannya yang 160 di antaranya telah dijadikan buku di mana manusia sebagai titik pusat utama yang selalu terdampak dari setiap peristiwa yang terjadi.
Dalam buku kali ini, 41 tulisan yang dipilih juga berkaitan dengan manusia yang tidak mengalami abyektifitas antara “diri” dan “bukan diri”. Abyeksi di sini lebih pada upaya mendorong semua elemen semisal politik, agama, birokrasi, demokrasi, penanganan bencana dan pemberantasan korupsi agar mendahulukan dan memelihara kemanusiaan. Karena itu, buku ini tak membedakan pilihan isu berdasarkan geografis sebagaimana seismograf membaca getaran secara lokal. Buku ini menjangkau apa yang terjadi di Jakarta, Jawa Barat, Makassar, Ternate dan Tidore dalam rangkaian kalimat yang egaliter.
Anwar menulis semua yang terjadi tanpa memaksa kita untuk berpihak. Ia hanya menyajikan setumpuk data dan kitalah yang memutuskan cara pandang dan alternatif solusi dari posisi kita berdiri secara personal. Ia hanya berharap tulisan-tulisan jadi bahan pertimbangan. sebuah opsi untuk mendorong perubahan yang lebih konstruktif dalam mengelola kehidupan bangsa.
Dalam isu demokrasi dengan semua algoritma pencitraan, pengelolaan birokrasi dan pemberantasan korupsi, Anwar menyadari benar adanya “infrastruktur impunitas” – saya meminjam istilah ini dari buku Elizabeth F Drexler “Infrastructure of Impunity” yang dibangun oleh kekuasaan untuk membungkam para pengkritik kebijakan pemerintah. Kita terjebak dalam perangkap dengan tembok yang tinggi dan tebal yang dibentuk oleh jejaring birokrasi, militer, partai politik, kelompok agama, media, pendidikan, oligarki tambang serta emosi struktural yang terlibat di dalamnya, yang membiarkan penguasa tak tersentuh oleh hukum.
“Seismograf Keadilan” jadi semacam penanda bahwa “The End of History” punya Francis Fukuyama yang begitu mengagungkan kejayaan demokrasi ternyata berakhir dengan absurditas. Keadilan dengan ”K” masih jadi kegelisahan yang tak berujung. Saya suka satirenya tentang “ironi buruh bagasi” yang menohok pilihan ”kabinet yang makin gemuk” dengan tagline efisiensi. Anwar secara tegas berpendapat – negara modern tak boleh dikelola dengan selera personal. Fenomena ini juga berbanding lurus dengan maraknya “musim award” yang berkecambah seolah-olah ada prestasi yang mesti dirayakan dengan guyub.
Satire-satire Anwar mempertanyakan dengan santun kualitas pendidikan, turbulensi anggaran daerah, gempa MBG dan pola korupsinya, politisasi agama dan maraknya spiritualitas palsu. Anwar menulis – yang paling mengkhawatirkan hari ini bukan sekadar semakin banyaknya pelanggaran, melainkan semakin tumpulnya kepekaan moral masyarakat terhadap pelanggaran itu sendiri. Apa yang dulu dianggap memalukan kini menjadi hal yang lumrah. Apa yang dulu disebut kezaliman, kini sering dicari pembenarannya.
Buku ini pada akhirnya tak hanya mendengungkan problem profetik semata tetapi juga memberi ruang legacy kepemimpinan yang dituliskan dengan keteladanan lewat sosok almarhum H. Burhan Abdurahman dan H. M Yasin Ali serta mendiang Hein Namotemo. Anwar juga memberikan kesegaran dengan menyelipkan glorifikasi masa lalu sepak bola Timnas Belanda – sepak bola negara yang jadi favoritnya – yang mulai kedaluwarsa karena tak lagi berprestasi sejak juara Euro 1988 dan pengakuannya akan kedigdayaan ”La Furia Roja” yang baru saja juara Piala Dunia.
Seperti dituliskannya di awal, kumpulan tulisan-tulisan ini sejatinya tak butuh analisis yang detil, ia ringan dan memberi sedikit oase di tengah kepungan kabut asap akibat karhutla yang bikin sesak. Buku ini bisa jadi bacaan di akhir pekan yang rileks dan menyenangkan. Tapi ia bukan kembang api yang sekadar menyala terang lalu mati. Ada tawaran untuk mengisi ulang “ruang kosong” dengan “moral lesson” yang berbasis akal sehat.
Dengan begitu sebagaimana tesis Tan Malaka dalam “Madilog” – setidaknya kita akan terus menguji sebuah fakta dengan akal sehat, logika dan fakta karena kebenaran tidak ditentukan oleh mayoritas – saat semua orang mempercayainya. (*)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.