Tandaseru — Pengurus Pusat Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (PP-HPMS) merespons pertanyaan publik di media sosial mengenai keterlibatan generasi tua dalam kepengurusan organisasi. Sesepuh HPMS, Syamsuddin Hamid atau yang akrab disapa Om Tam, menegaskan bahwa sejak awal berdiri, keanggotaan dan kepengurusan HPMS memang terbuka bagi seluruh masyarakat Sula sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).
“Karena itu, saya sering menyebut ini organisasi Pia Sua, bukan hanya organisasi mahasiswa semata,” kata Om Tam dalam wawancara melalui Zoom yang difasilitasi PP-HPMS, Sabtu (17/10/2026).
Sejak dipelopori pada 1959 di Makassar, para penggagas HPMS sebagian besar bukan merupakan pelajar maupun mahasiswa. Ketua pertama PP-HPMS bahkan seorang anggota TNI Angkatan Darat asal Pulau Ambon, Maluku, bernama Muhammad Kasim Maruapei. Kasim dipilih karena dianggap sebagai sosok yang dituakan di antara para pelopor lainnya, yaitu Muhammad Nur Gailea, Usman Daeng Hanafi, Hayatudin Sahlan, Kader Wanboko, serta Hamid Koja (ayah Om Tam).
Gagasan pembentukan HPMS bermula dari diskusi empat pemuda di Malang. Usman Daeng Hanafi merupakan anggota TNI Angkatan Laut di Surabaya, Nur Gailea bekerja sebagai ASN Departemen Keuangan di Makassar, sementara Hayatudin Sahlan sedang bersiap masuk SMA. Dua tahun kemudian, mereka bertemu di Makassar untuk mendirikan HPMS demi memperjuangkan kemajuan dan pemekaran Kepulauan Sula agar kelak dipimpin putra daerah.
Penggunaan nama “Pelajar Mahasiswa” dipilih mengikuti tren organisasi masa itu yang dipandang kritis dan aktif menyuarakan aspirasi masyarakat.
“Ini mengapa ketua PP-HPMS, baik yang pertama hingga ketiga dan keempat, tak pernah ada mahasiswa, tetapi para senior yang berprofesi sebagai TNI maupun ASN,” jelas Om Tam.
Sejak awal, HPMS menetapkan dua fokus utama: memajukan pendidikan dan memperjuangkan pemekaran daerah.
“Untuk mempercepat kemajuan Sula, maka dua sektor tersebut menjadi prioritas, pendidikan dan pembangunan daerah melalui pemekaran kabupaten,” ujar Om Tam.
Pada dekade 1960-an, HPMS meminjam Yayasan Pendidikan Sehati dari Makassar untuk mendirikan Sekolah Tingkat Menengah Sehati di Sula, yang kelak diserahkan ke pemerintah menjadi SMA Negeri 1 Sanana. HPMS juga mendirikan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) yang kini menjadi SMK Negeri 1 Sanana, serta membentuk Yayasan Pendidikan Sula (YPS) untuk membangun sekolah-sekolah tingkat pertama di Sanana dan Kabau.
Untuk mengatasi krisis tenaga pengajar, pengurus HPMS dikirim bergantian dari Makassar. Beberapa pengajar dari kalangan mahasiswa saat itu di antaranya Abd Rahman Umaternate (ayahanda dr. Sherly Umaternate) dan Halim Soamole.
“Pendirian sekolah ini masih di tahun 1960-an,” kata Om Tam.
Pada 1970-an, HPMS menginisiasi perjuangan pemekaran Kepulauan Sula menjadi kabupaten. Pada tahun 1971, di depan Benteng Sanana, tujuh partai politik menyerahkan amanat perjuangan pemekaran kepada HPMS atas nama rakyat Sula. Tujuh partai tersebut meliputi Golkar (dipimpin B. Ruray, ayah Ketua Umum PP-HPMS saat ini, Ikbal Ruray), Partai Parmusi (dipimpin M. Ali Fataruba), Partai NU (dipimpin ABD. Karim Duwila), PNI (dipimpin A. Wahab Limatahu), Partai Perkindo, Partai Katolik Indonesia, dan PSII.
Perjuangan pemekaran sempat terhenti sebelum akhirnya terwujud pada 2003. Di tengah jeda tersebut, HPMS menggalang dana melalui pertandingan olahraga dan pentas seni untuk membangun asrama mahasiswa pertama di Makassar, serta memperluas cabang ke Ambon, Ternate, Surabaya, Manado, dan Jakarta. Pascapemekaran, HPMS turut mendorong pembangunan dan renovasi asrama mahasiswa di berbagai kota studi.
Mengenai kepemimpinan, Om Tam menyatakan bahwa regenerasi ke tangan pelajar dan mahasiswa sangat memungkinkan melalui mekanisme resmi organisasi.
“Kalau mampu, silakan. Tapi melalui kongres. Karena itu harus dibahas di kongres,” tegasnya.
Ia mengingatkan agar generasi muda tidak sekadar menjadikan HPMS sebagai ruang belajar, melainkan memikul tanggung jawab besar untuk memperluas jaringan dan memikirkan masa depan masyarakat Sula, Taliabu, dan Mangoli.
“Dunia ini bisa penuh dengan perubahan. Tidak ada yang pasti. Tapi jaga eksistensinya. Jangan sampai kalian pegang mati di tangan,” pesannya.
“Karena itu, tugas HPMS berat. Selain memfasilitasi ruang belajar untuk generasi muda, juga memastikan pembangunan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat. Termasuk menjadi penghubung masyarakat Sula, Taliabu, dan Mangoli,” pungkas Om Tam.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.