Oleh: Yanuardi Syukur
Dosen Antropologi Universitas Khairun Ternate
_______
DI jalanan Eropa, wajah-wajah anak muda bukan lagi sekadar pelengkap. Mereka adalah penggerak utama gelombang protes yang menyapu sedikitnya sebelas negara sepanjang 2026. Mereka adalah Generasi Z, kohort demografis yang lahir antara 1997 dan 2012. Mereka tumbuh sebagai digital native, generasi yang paling beragam, dan memasuki usia dewasa di tengah pandemi serta guncangan ekonomi. Nilai-nilai inti mereka mencakup kesehatan mental, keseimbangan kerja-hidup, pragmatisme, dan aktivisme sosial serta lingkungan.
Dari Paris hingga Tirana, dari Lisbon hingga Athena, mereka turun ke jalan bukan karena ingin membuat kerusuhan, melainkan karena merasa masa depan mereka sedang dirampas. Mereka menuntut satu hal yang sangat mendasar, yakni agar kontrak sosial yang telah runtuh segera dibangun kembali.
Runtuhnya Kontrak Sosial
Penyebab utama gelombang ini dapat dirangkum dalam empat hal. Pertama, biaya hidup dan inflasi. Harga kebutuhan sehari-hari, pangan, dan energi naik tajam. Kedua, krisis perumahan. Sewa melambung dan rumah terjangkau semakin langka. Ketiga, pendidikan dan infrastruktur. Sekolah dan universitas rusak, kekurangan staf, dan biaya pendidikan terus meningkat. Keempat, keterputusan politik. Ada frustrasi terhadap sistem politik tradisional dan tuntutan akan keadilan antargenerasi.
Oscar Berglund, pengajar di University of Bristol, dalam Al Jazeera 23 Oktober 2026, menegaskan bahwa keluhan atas ketimpangan berada di pusat gelombang protes ini. Ketimpangan punya dua aspek, yakni kelas dan generasi. Sejak krisis 2008, ketimpangan pendapatan dan kekayaan melebar. Erosi negara kesejahteraan memperparahnya. Kebijakan penghematan bertahun-tahun menggerus kapasitas negara menyediakan pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial yang layak. Ketika negara mundur, yang mampu membayar layanan lebih baik akan tetap mendapatkannya, sementara yang tidak mampu akan tertinggal.
Bagi anak muda, ketimpangan terasa lebih akut karena mereka juga menghadapi kegagalan tata kelola. Berglund menyebut sistem pendidikan kurang didanai, penurunan kemampuan membaca dan matematika dalam PISA, krisis kesehatan mental, serta penggunaan kecerdasan buatan yang meningkat cepat tanpa regulasi. Di pasar kerja, pekerjaan tingkat awal semakin digantikan mesin. Di bidang perumahan, generasi muda menghabiskan proporsi pendapatan jauh lebih tinggi untuk sewa dibanding generasi sebelumnya. Dan krisis iklim adalah mungkin kegagalan tata kelola terbesar dari semuanya. Kesimpulan Berglund, berbagai kegagalan tata kelola dan erosi kapasitas negara telah menciptakan situasi yang eksplosif bagi anak muda.
The Guardian dalam editorialnya 23 Oktober 2026 menyebut fenomena ini sebagai kekecewaan yang wajar. Satu generasi, dengan alasan masuk akal, merasa akan hidup lebih buruk daripada orang tua mereka. Mereka marah atas pendidikan yang tidak memadai, pekerjaan tak stabil, sulitnya menyewa tempat tinggal hingga usia 20-an, dan pensiun yang mereka yakini tak akan pernah diterima. Pemerintah yang khawatir soal utang dan takut pasar obligasi, menurut The Guardian, entah tidak mampu atau tidak mau menawarkan solusi.
Alina Cosma, Asisten Profesor Psikologi di Trinity College Dublin, dalam The Conversation 22 Oktober 2026, menambahkan konteks psikologis. Tekanan sekolah meningkat antara 2002 dan 2022. Pada 2022, hampir dua pertiga remaja perempuan berusia 15 tahun merasa tertekan oleh pekerjaan sekolah, dibandingkan kurang dari separuh remaja laki-laki. Dukungan keluarga dan teman sebaya menurun. Artinya, tuntutan naik, sementara sumber daya sosial melemah. Cosma juga mencatat 40 persen anak muda Uni Eropa sangat khawatir terhadap kenaikan harga dan biaya hidup. Sekitar 70 persen remaja Irlandia mempertimbangkan emigrasi. Lebih dari 20 persen siswa Belanda khawatir tak akan mampu membeli rumah. Kesehatan mental, tulis Cosma, bukan semata masalah individu, melainkan respons terhadap tekanan masyarakat yang lebih luas.
Jalanan dan Kalender Perlawanan
Di Prancis, protes dimulai dari guru dan siswa di Créteil. Aksi meluas menjadi gerakan nasional. Pada 17 Oktober, lebih dari 500.000 orang turun ke jalan. Seminggu kemudian, pada 24 Oktober, meski otoritas mengerahkan 70.000 petugas, sekitar 410.000 orang tetap turun ke jalan menurut Kementerian Dalam Negeri, sementara CGT memperkirakan 800.000 peserta. Hampir 1.000 orang ditangkap. Sejak awal gerakan, lebih dari 6.700 anak di bawah umur menjalani penahanan polisi. Seorang gadis 17 tahun kehilangan penglihatan satu mata akibat peluru karet; seorang remaja laki-laki 17 tahun kehilangan tangan akibat granat kejut.
Di Italia, ribuan anak muda berunjuk rasa di Milan pada 24 Oktober menentang mahalnya biaya hidup dan militarisasi kota. Milan dijaga 1.400 personel keamanan, termasuk 500 tentara. Pemerintah Italia mengesahkan dekrit keamanan baru yang menambah ancaman hukuman bagi “kekerasan dalam demonstrasi.” Di Jerman, sekitar 45.000 pelajar di sekitar 100 kota memboikot sekolah menolak reformasi wajib militer. Di Yunani, mahasiswa mendirikan tenda di depan parlemen. Di Portugal dan Spanyol, isu perumahan menjadi pemicu utama. Di Lisbon, anak muda berkemah di Praça do Rossio menuntut pembatasan harga sewa dan penyitaan properti kosong. Di Uni Eropa, 26,9 persen anak muda usia 15-29 tahun tinggal di rumah penuh sesak.
Gelombang ini bukan fenomena Eropa semata. Berglund mencatat di India, gerakan “Cockroach” menjadi tantangan terkuat terhadap kepemimpinan Narendra Modi. Di Spanyol, pengusiran paksa Maricarmen Abascal yang berusia 87 tahun memicu kemarahan nasional. Meskipun konteks tiap negara berbeda, keluhan atas ketimpangan berada di pusat gelombang protes. Ada dimensi global dalam kemarahan ini.
Gelombang ini belum berhenti. Di Jerman, gerakan “Gen Z regelt” merencanakan demonstrasi nasional pada 31 Oktober 2026. Di Prancis dan Spanyol, serikat pekerja dan kelompok mahasiswa menjadwalkan mogok kerja umum pada 5 dan 11 November 2026. Di Inggris dan Italia, serikat mahasiswa mengorganisir hari aksi bersama pada 20 November 2026 menentang kenaikan biaya pendidikan. Generasi Z Eropa tidak hanya bereaksi, tetapi mulai menyusun kalender perlawanan terkoordinasi lintas negara.
Generasi yang Menuntut Keadilan
Apa yang dilakukan Generasi Z Eropa bukan sekadar protes sporadis. Mereka sedang merumuskan kembali apa yang mereka harapkan dari negara. Mereka tidak meminta belas kasihan; mereka meminta keadilan. Mereka tidak menolak kerja keras; mereka menolak kerja yang tidak menjamin hidup layak. Sebagai digital native, mereka mengorganisir aksi melalui media sosial dengan cepat dan terdesentralisasi. Sebagai generasi yang menjunjung kesehatan mental dan keseimbangan kerja-hidup, mereka menolak budaya kerja yang mengorbankan hidup. Sebagai generasi paling beragam, mereka menolak politik identitas yang memecah belah. Dan sebagai generasi yang tumbuh di tengah krisis ekonomi, mereka menuntut transparansi biaya serta kebijakan yang berpihak pada masa depan.
Cosma mengingatkan agar Generasi Z tidak dipotret hanya sebagai generasi cemas atau pesimistis. Protes memang mengekspresikan frustrasi, tetapi juga menunjukkan agensi dan keinginan memengaruhi keputusan. Survei 2025 terhadap 6.703 anak muda Eropa menemukan 80 persen responden di Jerman menganggap keanggotaan Uni Eropa sebagai hal baik, naik dari 65 persen pada 2024. Di Prancis, naik dari 53 menjadi 60 persen. Temuan ini menantang anggapan bahwa generasi muda tidak terlibat. Mereka berorganisasi, mempertanyakan pengaturan yang ada, dan mencari alternatif.
Berglund menyoroti respons pemerintah yang cenderung represif. Ia mencatat tren global kriminalisasi dan penindasan protes, baik melalui undang-undang anti-protes, penangkapan, maupun kekerasan polisi. Represi kadang berhasil mematikan gerakan, tetapi di lain waktu justru memperbesar nyalanya. Itulah yang sejauh ini terjadi di Prancis dan India.
Ada tiga catatan yang bisa kita ambil. Pertama, mereka menolak politik identitas sebagai jawaban. Mereka tidak mau kemarahan dialihkan kepada imigran atau kelompok lemah. Mereka tahu akar persoalan adalah kebijakan ekonomi yang tidak berpihak pada masa depan. Kedua, mereka menuntut kebijakan berbasis masa depan, bukan bantuan jangka pendek. Perubahan struktural yang mereka desak mencakup rumah terjangkau, pendidikan layak, pekerjaan stabil, dan lingkungan berkelanjutan. Ketiga, mereka mengingatkan bahwa negara harus hadir dengan kebijakan, bukan represi. Peluru karet, granat kejut, dan pengerahan tentara tidak akan menyelesaikan krisis biaya hidup.
Generasi Z Eropa menunjukkan mereka bukan generasi apatis. Mereka peduli, bersuara, dan menuntut perubahan. Mereka tidak menuntut negara menjadi segala-galanya; mereka hanya menuntut negara hadir ketika pasar gagal menjamin hidup layak. Mereka mewarisi krisis, tetapi menolak diwariskan keputusasaan.
Eropa sedang bergetar bukan karena miskin, tetapi karena lupa bahwa kesejahteraan adalah fondasi demokrasi. Ketika rumah tak terjangkau, sekolah tak layak, dan upah tak cukup, demokrasi tinggal menjadi prosedur tanpa rasa. Yang bergetar bukan hanya jalanan, melainkan kepercayaan pada institusi. Dan Generasi Z-lah yang paling keras menyuarakan kegelisahan itu. (*)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.