Oleh: Anwar Husen
Pemerhati Sosial/Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara
_______
MENYELAMI dan memaknai kisah berpulangnya almarhum M Al Yasin Ali, nun jauh di sana, di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, sedikit bikin miris. Dan momentum itu, mengukuhkan lagi satu memori usang yang belum juga berakhir. Kisah pilu yang bertutur tentang kadar rasa dan tahu diri, penghargaan, dan kebesaran jiwa.
Saya merasa beruntung bisa menjadi bagian dari penulis buku obituari Almarhum Burhan Abdurahman yang diluncurkan di Juli lalu. Andai saja saya tak pernah menulis tentang Wali Kota Tiga Periode-nya Haji Bur, mungkin saja komparasi ini akan berasa hambar.
Secara sangat kebetulan, Al Yasin Ali dan Burhan Abdurahman, dua sosok hebat yang memiliki kisah mirip. Dan mungkin saja, ini kisah pilu teramat langka: Keduanya mantan kepala daerah dua periode, memiliki visi yang brilian membangun daerah, jejak legasi kepemimpinan yang menghujam kuat di nadi warganya, berpulang “dirantau”. Dan ini fakta paling miris: Sama-sama “dilupakan”. Dilupakan? Terlalu mudah untuk sekadar sebuah verifikasi. Semua orang tahu apa makna kehilangan, penghormatan, dan rasa cinta. Di video pendek menjelang pemakamannya, juga kesaksian beberapa pihak, mengonfirmasi detailnya.
Siapa sesungguhnya sosok seorang Al Yasin Ali? Ini pertanyaan yang sesungguhnya pula, tak butuh jawaban tegas bagi segenap publik Maluku Utara. Dan mungkin saja bagi seantero Indonesia, untuk keberaniannya memindahkan seketika seluruh aktivitas sebuah pemerintahan hasil pemekaran daerah, dari gemerlap fasilitas kota yang memanjakan, ke sebuah “rimba belantara” nan sunyi. Dan belantara itu bernama Weda, sebuah ibukota kecamatan paling terpelosok. Tak usah diurai. Memori ini masih kuat terpatri dalam jiwa setiap ASN dan warga Halmahera Tengah hingga kini. Bahkan mungkin nanti.
Bahwa di deretan kepala daerah di Maluku Utara yang terpilih di era pemilihan langsung pertama di tahun 2005, almarhum Al Yasin Ali, berada di deretan dari sedikit tokoh kredibel dan bervisi besar. Sekurang-kurangnya hingga di tahun 2010. Ada nama-nama besar lain yang bertengger di sana, setelah era Abdul Bahar Andili, Syamsir Andili, hingga Thaib Armaiyn. Sebut saja Hein Namotemo di Halmahera Utara, Muhammad Kasuba di Halmahera Selatan, Achmad Mahifa di Tidore, hingga Burhan Abdurahman dan Abdul Gani Kasuba. Mereka bisa dibilang sedikit dari generasi top leader Maluku Utara di rentang hingga saat ini. Periode mereka, adalah gambaran paling nyata tentang kekuatan visi personal dan kepemimpinan, sebelum diserbu kentalnya politik aura lewat platform media sosial.
Dan ketika visi pembangunan yang hebat, berpadu dengan sosok yang berani mengambil keputusan, ikhlas dan sederhana, menjelma menjadi legasi yang menghujang kuat dalam memori generasi, dan diwariskan secara terus-menerus.
Kisah “sunyi” di senja usia, bahkan hingga di akhir hayat mereka, bukan monopoli seorang Al Yasin Ali. Banyak tokoh hebat yang bernasib sama.
Banyak kalangan menganggap bahwa ada “perlakuan” yang tak sepadan, yang diterima seorang Burhan Abdurahman, ketika berpulang. Dan hal sama, mungkin saja dirasakan keluarganya, Almarhum Al Yasin Ali. Bahkan mungkin warga Halmahera Tengah seumumnya. Berasa ada sesuatu yang hilang.
Dalam dunia politik, kegagalan menganalisis kecenderungan dan membaca fakta yang berimplikasi politis, bisa berujung tamatnya karir politik. Dan kegagalan yang berulang, sama artinya melanggengkan kebodohan. Tetapi di atas segalanya, masih ada kebijaksanaan dan kebesaran jiwa.
Di Indonesia, ada pelajaran moral tentang kebesaran jiwa seorang pemimpin yang mungkin paling fenomenal: Kisah Soekarno dan Buya Hamka. Kisah mereka adalah cerita tentang dua tokoh besar Indonesia yang awalnya bersahabat karib, lalu berseberangan karena politik, hingga akhirnya disatukan oleh kebesaran jiwa. Meski Hamka sempat dipenjara tanpa pengadilan oleh pemerintahan Soekarno, ia tidak menyimpan dendam dan justru bersedia menjadi imam salat jenazah Sang Proklamator.
Dan untuk kesekian kalinya, Maluku Utara kehilangan keteladanan dan tercerabut dari akar historisnya. Ada fenomena semacam historical necessity yang hilang. Gap antara cerita masa lalu sebagai negeri para raja yang agung peradabannya, yang menjujung tinggi adab terhadap orang-orang yang pernah berjasa besar, terasa begitu menganga dan memprihatinkan. Entitas Fagogoru sebagai sistim nilai yang memandu setiap generasinya, juga pengakuan negara atas martabat wilayah yang berpadu pada sosok Salahuddin bin Talabuddin sebagai seorang pahlawan nasional, serasa tak membekas hari ini. Kita mudah kehilangan arah untuk memaknai kisah kemanusiaan, kepahlawanan dan heroisme, bahkan di bulan kemerdekaan sekalipun.
Hilang arah, entah atas nama apa. Kita jadi mudah kehilangan kepekaan dan lupa diri. Lupa pada jejak ketika langkah pertama diayunkan.
Di setiap berpulangnya deretan tokoh-tokoh hebat Maluku Utara dalam pandangan saya, selalu ada jejak legasinya di esai-esai obituari pendek saya. Dan itu sudah sejak awal. Ada deretan Mantan Bupati Daerah Administratif Halmahera Tengan. I.E. Toekan, Abdul Bahar Andili, Syamsir Andili, Abdul Gani Kasuba, Hein Namotemo, juga Burhan Abdurahman. Bukan apa-apa. Dan tak semata sekedar merawat akar historisnya. Juga warisan kebaikan dan keteladanan. Tetapi sekurang-kurangnya, untuk bisa menjadi generasi yang tahu berterima kasih. Meski jauh kadar pertautannya.
Ungkapan terima kasih dan tahu diri itu hanya balutan kesadaran tentang dimensi waktu, bahwa masa kini dan masa depan itu, pernah ada di masa lalu.
Kesemuanya itu mengajarkan pesan, bahwa kita bisa saja defisit uang dan kenikmatan, tapi jangan sekali-kali “defisit rasa”, untuk sebuah ketidakhadiran yang tak mampu dijelaskan. Untuk sekedar ungkapan perpisahan dan rasa hormat, yang berasa teramat mahal itu. Wallahua’lam. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.