Oleh: Asghar Saleh
________
“MENULIS novel itu seperti bermain catur. Kita yang mengontrol. Kapan menggerakan bidak, melindungi raja atau mempertahankan benteng. Kita bebas berekspresi seturut imajinasi yang kita punya, menuliskan rasa, mengelola konflik dan menentukan akhir yang manis”. Begitu jawaban atas tanya – mengapa memilih menulis novel – yang meluncur begitu saja dari bibir di balik niqab seorang perempuan muda yang saya temui di sebuah sore yang berpijar.
Safitri Zahra Togubu. Begitu namanya. Safitri mengingatkan pada momen kelahirannya dua hari setelah Idul Fitri – sesuatu yang terlahir (kembali) suci – dan menjadi “bercahaya” setelah berkelindan dengan “zahra”. Anak kedua pasangan Abdurahman Djamaluddin dan Silvana Meliezer ini lahir di Bekasi, 16 Maret 1994. Proses kelahiran yang dua bulan sebelum waktunya membuat Zahra tumbuh dengan sedikit “keterbatasan”.

Sebuah penanda yang kelak membuat hidupnya seperti “bermain catur”. Ia kadang terjebak pada frustrasi, tidak percaya diri, insecure dan kesulitan mengatur langkah. Di waktu yang lain, butuh keberanian untuk terus bergerak, tak boleh menyerah, menyusun “monade-monade” ide dan keluar berjalan sebagai pemenang. Dalam salah satu bait puisinya yang saya dekap, Zahra menulis dengan futuristik; “bahwa hidup adalah perjuangan yang harus dituntaskan dengan segenap keikhlasan”. (Puisi untuk Perempuan Bersaloi).
Ikhlas di sini lebih pada “menerima”. Bukan melupakan masa lalu. Ki Ju Lee dalam bukunya “The Dignity of Writing” yang memberi banyak pilihan saat seseorang mulai belajar menulis – menyebut “Kita semua hidup dengan memeluk masa lalu”. Karena itu, percakapan kami sore itu lebih pada membuka “laci ingatan”. Tempat kita menyimpan banyak ingatan karena masa lalu penuh dengan kenangan yang tidak bisa dihilangkan. Ia hanya bisa ditutup.
Masa kecil Zahra – saya menulisnya demikian untuk perempuan yang bercahaya – dihabiskan di Jakarta, tempat papanya bekerja. Saat dirinya duduk di bangku SD kelas 4, mereka balik ke Tidore. Pulang ke tempat asal orang tuanya. Sekolah berpindah. Ia juga berpisah dengan beberapa orang yang jadi pelindungnya. Zahra kecil memulai dengan sesuatu yang baru. Lingkungan baru. Teman-teman baru.
Bersekolah ternyata memberi pengalaman buruk. Ia karena “keterbatasan” sering jadi obyek bully-an. Dirinya yang “terbatas” itu dijadikan bahan kelakar. Banyak mata memandang dengan tatapan iba. Benturan budaya antara Jakarta dan Tidore juga membuat dirinya kesulitan beradaptasi. Zahra merasa asing. Sendirian menghadapi dunia yang tak adil.
“Pertanyaan paling sering muncul di pikiran saya adalah mengapa terlahir dengan kondisi seperti ini? Ketidaknyamanan itu berlangsung hingga jenjang sekolah menengah pertama. Persepsi orang ramai kala itu, mengapa tidak bersekolah di sekolah khusus. Zahra yang memilih sekolah umum dan sedari awal ia tahu konsekuensinya. Dirinya “to run away” dengan menulis. Ini kebiasaan sejak SD untuk mencurahkan kesedihannya kala di-bully.
“Saya sangat suka menulis. Ini obat yang jadi sugesti. Catatan-catatan itu semula hanya satu dua kalimat curhatan di diary. Lalu berubah jadi puisi”. Kegemaran menulis itu berbarengan dengan kegilaannya untuk membaca. Ia suka membaca apa saja. Menulis dan membaca jadi “dunia damai” yang ia ciptakan untuk melawan sinisme.
Beruntung Tuhan mengirim beberapa orang baik dalam hidupnya yang tak ramah. Saat bersekolah di SMA Negeri 1 Tidore – sikap merendahkan dan bully-an provokatif disertai ancaman fisik diterima Zahra sejak hari pertama mengenakan seragam putih abu-abu. Ia sempat mogok sekolah. Zahra menyebut Ketua OSIS SMA saat itu yang jadi “penjaganya”.
Irsanudin Idrus mengakui cerita Zahra. Dirinya membela Zahra karena merasa semua orang harus diperlakukan sama. “Saya kumpul teman-teman yang bersikap buruk, minta mereka berhenti. Saya bicara dengan guru, bawa dia keliling semua kelas, saya ke rumah Zahra untuk meyakinkan orang tuanya bahwa sekolah jadi tempat yang aman”. Irsanudin mengaku sejak awal dia merasa Zahra punya banyak kelebihan. Kepintarannya di atas rata-rata terutama di mata pelajaran ekonomi.
Karena itu, saat sebuah lomba Olimpiade Ekonomi tingkat Nasional berlangsung di Medan tahun 2010, kepala Sekolah tetiba memanggilnya. Zahra diminta ikut lomba itu. Ia sempat protes karena merasa untuk apa membuktikan hidupnya jika tetap dilecehkan secara verbal maupun fisik. Ia merasa tak siap. Adalah Ishak Hamdan – Kepala Sekolah saat itu yang mendorongnya tanpa jeda.
“Saya tahu dia bisa. Anaknya cerdas. Dia suka menulis”. Ishak rela mengeluarkan duit sendiri untuk membiayai keberangkatan Zahra. Di ajang itu, Zahra lolos hingga 30 besar dari 243 siswa se Indonesia yang ikut. Sepulang lomba, kepercayaan dirinya perlahan meningkat. Sekolah jadi tempat yang nyaman. Ia teringat kalimat penyemangat dari Ketua OSIS-nya- “banyak yang menanti untuk melihat kalo kamu itu hebat”.
Setahun sebelumnya, ia mengikuti lomba karya tulis ilmiah yang diadakan untuk memperingati hari ulang tahun provinsi Maluku Utara. Berbekal karya berjudul “Peran Masyarakat dalam Membangun Pariwisata Di Maluku Utara”, dirinya menyabet karya terbaik. “Dapat hadiah Rp3 juta, saya pake beli laptop untuk bantu-bantu menulis”. Laptop yang masih dipakainya dan telah menghasilkan banyak karya sastra.
Di sekolah yang terletak di pusat ibukota Tidore itu, Zahra juga mendapati sosok yang jadi “pelindung hatinya”. Kakak kelas yang diakui Zahra berperan besar dalam “membentuk” dirinya. Ia mulai berani “keluar”. Zahra meninggalkan kebiasaan menghukum dirinya sendiri karena keterbatasan. “Setiap manusia lahir dengan takdir masing-masing sesuai keputusan Tuhan, jangan pernah putus asa”. Begitu kalimat yang terus dibicarakan tiap mereka bertemu.
Sayangnya, kedekatan yang tumbuh menjadi cinta itu tak berujung abadi. Sosok pelindung ini, yang jago ngaji, yang tenang dan baik hati dipanggil pulang Sang Pencipta saat keduanya menjalani cinta jarak jauh. Saat terbaring sakit, dia sempat pamitan dengan banyak nasehat agar Zahra terus melangkah. Mungkin dirinya sedang mengirim penanda dan karena itu Zahra memutuskan pulang ke Tidore. Meninggalkan sejenak kuliahnya yang baru di semester II untuk bertemu “pelindungnya”.
Saat di bandara sambil menunggu panggilan naik pesawat, keduanya sempat berkomunikasi. Namun nomor teleponnya tak lagi bisa dihubungi saat Zahra tiba di Tidore. Ia kebingungan. Menanti kabar dengan cemas. Tak ada berita apapun. Dan malam itu, dunia yang sedang dibangunnya runtuh saat kabar duka sampai ke rumahnya. Sosok pelindung yang jadi cinta pertamanya telah berpulang. Sebuah kehilangan yang menghentikan hidupnya. Ia terpuruk nyaris setahun. Jatuh sakit dan memilih menutup diri.
Di fase ini, menulis lagi-lagi jadi “sekoci hati” yang menyelamatkan. Kehilangan itu dituliskan dalam sebuah novel dengan ingatan yang tunggal – Eingedenken – dan sekaligus terus berlanjut – verewegende Gedachtnis – sebagaimana pandangan Walter Benjamin. Zahra memelihara kenangan dan kehilangan dalam “Duka Cinta di Bulan Barokah” – novel pertamanya yang terbit Maret 2014. Saya membayangkan pergulatannya saat menuliskan novel ini. Ada sesuatu yang murung dan getir yang bertaut erat dengan kematian. Maut adalah hal yang menggelisahkan. Kita menerimanya karena ia adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari hidup – sesuatu yang akan dialami, tetapi kita juga menolaknya justru karena kita cinta pada kehidupan. Ada absurditas yang hadir secara sadar.
Di tahun yang sama, Zahra mengumpulkan beberapa cerita pendek yang ditulisnya dan menjadikan sebagai buku keduanya “Sepucuk Cerita di Ufuk Senja”. Akhir 2014, satu lagi novel lahir dari tangannya “Best Friend of Couple”. Menulis tiga buku di tahun yang sama saat dirinya terpuruk karena kehilangan menurut saya adalah capaian yang tidak biasa.
Saya “membaca” kesamaan tulisan-tulisan itu, yang bercerita tentang kehilangan, sendiri, putus asa, berharap Tuhan datang, menolong, mencari kebebasan dari kesuraman masa depan mirip dengan karya sastrawan yang jadi idolanya – Sapardi Djoko Damono. Di awal-awal berkarya lewat puisi, Sapardi selalu bercerita tentang suara-suara kegelisahan dan kehilangan. Lirik yang lahir dari kesendirian. Manusia mungkin tidak sebatang kara tapi ia ditinggalkan tanpa testamen yang cukup. Kita adalah bagian dari sejarah tapi ujung hidup tetap jadi misteri. Tak ada kepastian
“Barangkali hidup adalah doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras” (Pada Suatu Malam, Sapardi Djoko Damono 1966)
Dukungan keluarga, teman-teman dan dua dokter hebat, dokter Wirastari Marnoto dan dokter Hartati Ningsih, membuat Zahra mau kembali ke bangku kuliah. Sebenarnya ia pengen jadi ekonom yang puitis. Tapi kuliah di ekonomi atau sastra Indonesia yang jadi impiannya terkubur setelah orang tua Zahra berkonsultasi dengan dokter. Putusan dibuat. Ia kuliah di UNJ mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa. Jejak yang kelak membawanya menjadi guru di SLB Ternate.
Kuliah dan menulis terus berlanjut. Zahra kembali hidup. Ia tampil di-interview Dewi Gita di radio Delta FM Jakarta. Berbagi “perjuangan hidupnya”. Tentang kesulitan-kesulitan sejak bersekolah hingga jadi penulis perempuan. Zahra juga sempat mengikuti kelas menulis Sapardi. Ia belajar. Dan karenanya sebagaimana Sapardi yang bertransformasi meninggalkan puisi-puisi sendu di tahun 1968, Zahra juga mulai menulis novel dan banyak puisi yang meski kadang galau tapi tak lagi merana. Masih ada patah hati di puisi-puisi yang ia tulis. Tapi yang patah hati dan luka itu menurutnya harus dirayakan juga.
”Kau” jadi novel keduanya yang terbit tahun 2017. Setahun kemudian sebuah buku kumpulan puisi yang ditulis bersama Kadri Usman -“Serpih-serpih Rasa” diterbitkan. Di tahun yang sama, “Bobeto“ – kumpulan puisi tentang Kalaodi – sebuah desa di lereng gunung Tidore yang kental semangat literasinya diterbitkan jadi karya bersama penulis muda Maluku Utara. 2018 bisa dibilang jadi tahun produktif dengan ragam karya. Ada “Cerita Malam dan Dongeng Kopi” yang berisi kumpulan puisi pilihan, “Setitah Mahar Cinta” hasil kolaborasi bersama Asnawi Mashud dan “Menenun Rinai Hujan” yang berisi kumpulan puisinya digabung dengan karya “sang guru” Sapardi Djoko Damono.
Novel, cerita pendek dan puisi adalah karya sastra yang berbeda alur bikinnya. Kuncinya imajinasi tapi prosesnya tak mudah. Menulis butuh waktu. Butuh kata-kata. Butuh rasa. Karena itu, saya kagum pada konsistensi Zahra. Tahun 2019, ia kembali memunculkan kumpulan cerita pendek ”Panggil Saja Aku Perempuan“. Ada juga buku kumpulan puisi bersama komunitas Macarita yang diberi judul “Risalah Kenangan”.
Perempuan dan cinta jadi revolusi baru dalam karyanya. Tak semata tentang kegelisahan dan ketegangan tapi mulai lahir kemantapan harmoni. Ada realisme yang ditulis. Pengakuan tentang cinta, harapan, keinginan dan doa-doa yang masih panjang.
— Kepada Hati yang Tengah Berjuang Menujuku
Dalam sebuah perjalanan yang diperlukan hanya dua. Keyakinan dan Genggaman
“Keyakinan“ untuk selalu memahami bahwa yang harus dipercaya adalah bagian dari kita – bukan mereka sebab mereka tak menjadi kita yang menjalani ini. Kitalah yang mengendalikan segala arus yang ada. Dan “genggaman” untuk saling menguatkan di setiap keadaan.
Ini lirik yang ia tulis saat masih di Bekasi, untuk hati yang datang mengetuk doa-doanya yang diijabah. Hamid “Mido” Jafar bukan lelaki biasa. Ia aktivis LSM yang bergerak untuk orang ramai. Mereka bertemu di Jakarta setelah sebelumnya berkenalan lewat media sosial. Mido kagum pada sosok perempuan cerdas ini. Ia pengen punya novel “Kau”. Zahra merespons. Bertukar nomor hp. Saya merasa “pertemuan” keduanya sudah diatur yang Kuasa. “Cinta ataupun tidak, kau tetaplah Kau”. Begitu yang ditulis Zahra dalam novelnya.
Berawal dari novel itu, pertukaran-pertukaran hati mulai dibangun. Mido bersikap serius. Zahra mengajukan syarat – pengen bertemu kedua orang tua Mido. Permintaan yang sederhana tapi menguji. Zahra butuh kepastian. Ia ingin diterima secara utuh. Saya tanya mengapa menerima pinangan lelaki yang usianya jauh di atas dirinya? sambil tersenyum Zahra menjawab; “Sampai detik ini ia tak pernah bertanya mengapa kamu begini?”. Ada ketenangan, merasa dilindungi dan keduanya punya pandangan hidup yang sama. Bulan Februari 2020, Mido dan Zahra menikah. Setahun kemudian keduanya dikaruniai putra buah kasih sayang yang diberi nama: Abyaz Sandyakala Ferdowsi.
—Rumah dan Tangga
Rumah itu ruang hati
Yang mana kita bisa saling berbagi
Berbagi arti hingga mati
Berbagi cinta hingga nafas ini tak berderu lagi
Tangga itu harus kuat
Kita buat dari iman dan taat
Teruslah bersujud hingga sekarat
Agar Illahi berikan kita segala rahmat
(Tentang Kunci”, 2020)
Puisi ini menarasikan komitmen dan cara menggenggam masa depan. Zahra tumbuh makin kuat. Hidup tak hanya tentang dirinya sebagaimana dulu dijalani dengan patahan demi patahan. Hidup baginya saat ini juga tentang keluarga, tentang suami dan anak. Karena itu, ia tak mengeluh meski saban hari bolak-balik Tidore – Ternate. Berbagi ilmu di sekolah yang ia rindukan. Dan setelah itu pulang ke rumah yang ia cintai. Waktunya tak sebanyak dulu tapi bukan membuatnya berhenti menulis.
Sempat vakum dua tahun, Zahra kembali menerbitkan sebuah buku cerita. Kali ini tentang orang-orang Tidore dan peradabannya. “Ahmad, Tete Kana, ma Dano yang Una duka se gogoru” adalah cerita anak berbahasa daerah yang terbit tahun 2022. Tahun lalu, Zahra merilis novel keempatnya berjudul “Diorama Rasa”. Berapa banyak buku yang sudah ia punya? Totalnya 17 karya sastra. 4 Novel dan setumpuk cerpen serta kumpulan puisi sepengetahuan saya menjadikannya sebagai penulis perempuan dengan karya paling banyak di Maluku Utara.
Ia menggabungkan sains lewat kemampuan ilmu ekonominya dan filsafat yang diperoleh dari pengalaman hidup dengan sastra. Sesuatu yang dulu dipisahkan oleh Plato yang menganggap sastra terutama puisi hanyalah pengembaraan kata, bunyi, metaphor dan suasana. Tak selesai dan tak pasti. Plato mencita-citakan sebuah negeri yang rapi dengan mengusir para penyair. Puisi dan mungkin karya sastra yang lain tidak membawakan kebenaran.
Zahra lewat karya-karyanya yang “mengembara” itu justru menemukan yang lepas dari amatan sains dan filsafat. Sesuatu yang lebih konkret. Pengalaman sebagai sebuah proses yang tak bisa diingkari. Ia hidup bersama kita meski alurnya tak selalu lurus. Kita merasa terwakilkan. Sastra entah puisi,novel ataupun cerita pendek selalu memelihara ingatan. Juga kewarasan.
Besok lusa mungkin akan banyak karya sastra yang hadir lewat tulisan-tulisan imajinernya. Dan kita beruntung bisa menikmati. Sebab itu saya titip sebuah pinta untuk Zahra, saya meminjam apa yang dulu selalu disebut Bung Karno untuk mendorong lahirnya tulisan-tulisan bernas yang menggelorakan revolusi. “For an inspiring writer, there is no journey’s end”. Jangan berhenti. (*)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.