Oleh: Herman Oesman
Dosen Sosiologi FISIP UMMU
_______
“…Membaca merupakan cara manusia menemukan dirinya…”
MEMBACA acap dianggap sebagai aktivitas sederhana: membuka buku, mengenali huruf, memahami kalimat, lalu menutupnya kembali ketika selesai. Namun, sesungguhnya membaca jauh lebih dalam daripada sekadar proses mengenali kata.
Membaca merupakan cara manusia membangun dirinya. Di setiap halaman yang dibaca, seseorang sedang memperluas cara berpikir, memperhalus perasaan, dan memperkaya cara memandang kehidupan.
Karena itu, membaca, bukan sekadar slogan literasi, melainkan sebuah pernyataan filosofis bahwa keberadaan manusia menjadi lebih bermakna melalui aktivitas membaca.
Ungkapan di atas, tentu mengingatkan kita pada filsuf Rene Descartes yang dikenal dengan kalimat Cogito, ergo sum “Aku berpikir, maka aku ada.” Bagi masyarakat modern, berpikir tidak dapat dilepaskan dari membaca. Membaca menjadi pintu masuk bagi lahirnya pemikiran kritis. Tanpa membaca, manusia hanya mengulang apa yang didengar. Dengan membaca, manusia mulai mempertanyakan, menafsirkan, bahkan menciptakan gagasan baru.
Membaca bukan hanya membaca kata-kata, tetapi juga membaca dunia (reading the word and the world). Seseorang yang membaca sesungguhnya sedang memahami realitas sosialnya. Membaca menjadi tindakan kreatif yang memungkinkan manusia mengubah dirinya sekaligus mengubah masyarakat.
Membaca tidak berhenti pada teks. Tatkala petani membaca perubahan musim, nelayan membaca arah angin, atau mahasiswa membaca dinamika politik, mereka sedang melakukan proses literasi terhadap dunia. Dengan begitu, membaca merupakan kemampuan memahami kehidupan dalam berbagai bentuknya.
Membaca dalam perspektif hermeneutika Paul Ricoeur merupakan proses memahami diri melalui teks. Ricoeur berpendapat, ketika seseorang memasuki sebuah bacaan, ia tidak pernah keluar sebagai pribadi yang sama.
Pembaca mengalami proses self-appropriation. Proses pembaruan diri melalui dialog dengan teks. Membaca bukan hanya memahami isi tulisan, melainkan menemukan makna baru tentang diri sendiri (Ricoeur, 1991)
Karena itulah, seseorang yang rajin membaca sesungguhnya sedang membangun identitasnya. Buku-buku yang dibaca menjadi bagian dari pengalaman hidupnya. Cara berbicara, mengambil keputusan, bahkan memandang orang lain, sedikit demi sedikit dibentuk dari bacaan yang dikonsumsinya.
Sayangnya, di tengah ledakan teknologi digital, kebiasaan membaca mengalami tantangan yang tidak ringan. Masyarakat kini lebih akrab dengan informasi singkat daripada bacaan yang mendalam. Judul berita lebih dibaca daripada isi berita. Potongan video lebih menarik daripada buku yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk diselesaikan. Akibatnya, masyarakat terbiasa memperoleh informasi secara instan, tetapi kehilangan kemampuan berpikir panjang.
Fenomena tersebut melahirkan apa yang kerap disebut sebagai budaya skimming, suatu membaca secara cepat tanpa pendalaman makna.
Padahal, membaca yang sesungguhnya membutuhkan dialog antara pembaca dan teks. Dengan proses itu, pembaca mempertanyakan, menghubungkan, bahkan mengkritisi apa yang sedang dibacanya. Tanpa proses tersebut, membaca hanya menjadi aktivitas mekanistik.
Di sinilah pentingnya membangun budaya membaca sejak usia dini. Anak-anak yang tumbuh bersama buku biasanya memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik, daya imajinasi yang lebih luas, serta kemampuan memecahkan masalah lebih tinggi.
Buku telah menghadirkan dunia yang tidak dapat dijangkau pengalaman sehari-hari.
Melalui membaca, seseorang dapat “berjalan” ke berbagai wilayah, berdialog dengan sejumlah orang dalam berbagai tingkatan, bahkan memahami peristiwa yang terjadi beberapa tahun lalu sebelum dirinya lahir dan mengenal dunia. Bagi siswa, mahasiswa, dan akademisi, membaca merupakan fondasi utama pengembangan ilmu pengetahuan.
Tidak ada penelitian yang berkualitas tanpa tradisi membaca yang kuat. Setiap teori lahir dari dialog dengan teori sebelumnya. Setiap penemuan ilmiah merupakan hasil dari proses membaca, mengkritik, lalu mengembangkan gagasan yang telah ada.
Di lingkungan perguruan tinggi, budaya membaca seharusnya menjadi identitas akademik. Kampus bukan hanya tempat memperoleh ijazah, melainkan ruang untuk membangun tradisi intelektual.
Perpustakaan tidak boleh menjadi bangunan sepi, tetapi menjadi pusat kehidupan akademik. Diskusi ilmiah, diskusi buku, dan komunitas membaca perlu terus dihidupkan agar kampus, sekolah, menjadi ruang lahirnya gagasan- gagasan baru.
Lebih jauh lagi, membaca juga memiliki dimensi moral. Seseorang yang banyak membaca umumnya, memiliki empati yang lebih tinggi karena ia terbiasa melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang.
Sebuah bacaan, novel atau sastra misalnya, akan mengajarkan perasaan dan emosi, sejarah, kita diajarkan kebijaksanaan, filsafat mengajarkan kita berpikir, merenung, hukum mengajarkan kita untuk tertib bertindak, sedangkan antropologi dan sosiologi mengajarkan kita memahami karakter manusia dan masyarakat. Semua itu membentuk manusia yang tidak mudah menghakimi orang lain. Di sanalah, budaya membaca menjadi salah satu prasyarat penting untuk membangun demokrasi yang sehat.
Masyarakat yang gemar membaca tidak mudah terprovokasi informasi palsu, propaganda, ujaran kebencian, maupun hoaks. Mereka terbiasa memverifikasi informasi, membandingkan berbagai sumber, dan menarik kesimpulan berdasarkan data, bukan emosi.
Membaca, merupakan investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat hari ini, tetapi akan tampak dalam cara seseorang berbicara, menulis, bekerja, dan mengambil keputusan di masa depan. Pengetahuan yang diperoleh melalui membaca tidak pernah benar-benar hilang. Ia menjadi bagian dari karakter dan cara berpikir seseorang.
Dan akhirnya, dengan membaca, aku ada, bermakna tentang keberadaan manusia yang tidak hanya ditentukan identitas biologis, melainkan oleh kualitas pengetahuan yang dimilikinya.
Makin banyak seseorang membaca, makin luas pula cakrawala berpikirnya. Ia tidak lagi hidup hanya sebagai penonton dari zaman yang bergerak, tetapi menjadi pelaku yang mampu memahami sekaligus mengubah dunia.
Membaca bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Membaca merupakan cara manusia menemukan dirinya, membangun peradaban, dan meninggalkan warisan pemikiran bagi generasi berikutnya.
Karena itu, setiap lembar buku yang dibuka, dibaca, direnangi, diselami, sesungguhnya merupakan langkah kecil menuju manusia lebih utuh. Maka benar adanya, aku membaca, maka aku sungguh ada. (*)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.