Oleh: Anwar Husen

Pemerhati Sosial/Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara

_______

Anggap saja tulisan ini hanya sepotong umbul-umbul lusuh di sudut gerbang selamat datang

SAYA belum membaca Term of Reference (ToR)-nya. Tapi di awal Agustus nanti, akan ada event cerdas: “Book Fest” Maluku Utara 2026. Penggagasnya Komunitas Faduli Buku Maluku Utara, berkolaborasi dengan Jokofi Pustaka dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Maluku Utara. Menariknya, didukung LP3ES Jakarta.

Memang bukan hal baru, kegiatan yang objeknya adalah buku. Ada piknik buku, klub buku, pameran buku, diskusi buku, festival buku, perpustakaan keliling, hingga pembagian buku secara gratis. Semua itu hanya penamaan dan cara. Tentu pesannya adalah meningkatkan literasi, menambah wawasan dan membangun kebiasaan membaca. Membaca buku. Banyak tokoh lokal dan kepala daerah, hingga tokoh nasional telah menulis komentar mereka di flyer, gerbang selamat datang event ini.

Salah “Membaca”

Semula saya menduga, telah terjadi fenomena migrasi masif minat membaca dari sisi bentuk objek yang di baca. Sebut saja tegas, dari buku fisik ke buku digital. Ini seiring menguatnya dominasi digitalisasi dalam hampir setiap aktivitas manusia, sebuah kecenderungan yang mengubah lanskap berpikir dan berperilaku, bahkan mindset. Khususnya Gen Z. Serbuan berbagai platform media sosial dipandang menjadi salah satu variabel paling dominan.

Membaca Data Media Sosial

Kompas menyebut, survei perusahaan riset dan analisis global YouGov, menyebutkan, 81 persen masyarakat Indonesia aktif di media sosial. Pengguna medsos itu didominasi oleh generasi Z, kelahiran 1997-2012. Gen Z merupakan superkonsumen media di Tanah Air. Sebanyak 48 persen gen Z menggunakan media dengan berbagai platform 1-5 jam per hari.

Instagram mendominasi sebagai platform media sosial paling favorit bagi Gen Z di Indonesia pada 2024, diakses oleh mayoritas pengguna (sekitar 51,9%), diikuti ketat oleh YouTube dan TikTok. Platform-platform tersebut menjadi pusat aktivitas digital anak muda untuk mencari hiburan, berekspresi, hingga menggali informasi dan edukasi.

Membaca Perilaku Membaca

Ternyata survei yang lakukan GoodStats bertajuk Preferensi Membaca Buku di Era Digital Tahun 2025, mengubah dugaan saya tadi. Survei ini menyoroti pola perilaku publik Indonesia terkait aktivitas membaca, mencari, dan membeli buku, serta pengaruh teknologi digital terhadap kegiatan tersebut. Dan ringkasan temuannya di korfirmasi Tatang Mulyana Sinaga dalam arrikelnya di Kompas.id (15/5/2025). Judulnya, Kala Generasi Digital Kembali Membaca Buku Cetak. Sejak lahir, gen Z telah akrab dengan digitalisasi. Namun, masih ada yang lebih suka membaca buku cetak. Mereka melambat untuk memahami isi bacaan lebih dalam. Generasi Z (kelahiran 1997-2012) hidup di zaman serba digital. Membaca, menonton film, berbelanja, dan keperluan lainnya mudah dilakukan dengan mengusapkan jari di layar gawai. Namun, sebagian dari mereka menemukan kembali sensasi membaca buku cetak di tengah laju digitalisasi.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Tingkat Kegemaran Membaca masyarakat Indonesia mengalami peningkatan signifikan dalam empat tahun terakhir. Yang lebih menarik, generasi muda atau Gen Z ternyata menjadi kontributor terbesar dalam lonjakan positif ini. Di tengah era digital yang sering dianggap sebagai ancaman bagi budaya membaca, fakta ini memberikan harapan baru bahwa literasi tetap memiliki tempat istimewa di hati anak muda Indonesia.

Membaca Data Membaca

Indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional pada tahun 2024 mencapai angka 72,44 menurut data Badan Pusat Statistik. Angka ini merupakan pencapaian tertinggi dalam lima tahun terakhir. Perjalanan peningkatan dimulai dari 55,74 pada tahun 2020, naik menjadi 59,52 di tahun 2021, terus ke 63,9 pada tahun 2022, dan mencapai 66,77 di tahun 2023. Lompatan sebesar 16,7 poin dalam empat tahun ini membuktikan bahwa upaya mendorong budaya literasi mulai membuahkan hasil. Survei besar yang melibatkan 174.226 responden dari 38 provinsi dan 514 kabupaten kota ini bahkan melampaui target Perpustakaan Nasional sebesar 71,3 untuk tahun 2024.

TGM sendiri mengukur berbagai aspek kebiasaan membaca secara komprehensif, termasuk frekuensi membaca buku, durasi waktu yang dihabiskan untuk membaca, jumlah buku yang diselesaikan dalam satu triwulan, hingga seberapa sering seseorang mengakses internet untuk mencari informasi. Meski menunjukkan tren positif, skor 72,44 masih menempatkan Indonesia dalam kategori sedang dengan rentang nilai 50,1 hingga 75.

Membaca Intensitas Membaca Gen Z

Poin yang paling mencuri perhatian adalah peran signifikan Gen Z dalam fenomena ini. Survei khusus GoodStats terhadap 203 responden Gen Z mengungkapkan bahwa 84,7 persen dari mereka gemar membaca buku. Bahkan 27,1 persen memiliki kebiasaan membaca setiap hari, sementara 47,3 persen membaca beberapa kali dalam seminggu. Mayoritas atau 49,3 persen menghabiskan waktu 30 hingga 60 menit untuk membaca setiap kali mereka memegang buku. Konsistensi ini menunjukkan bahwa meskipun hidup di tengah kesibukan dan berbagai distraksi digital, Gen Z tetap mampu meluangkan waktu khusus untuk membaca.

Membaca Bentuk Bacaan Gen Z

Lebih menarik lagi, di tengah kemudahan akses e-book, buku fisik masih menjadi pilihan utama dengan 73,4 persen responden Gen Z memilihnya dibanding format digital. Tujuh puluh persen dari mereka mengaku bisa lebih berkonsentrasi ketika membaca buku fisik karena tidak ada gangguan dari notifikasi media sosial. Sensasi memegang buku, aroma kertas, dan pengalaman membolak-balik halaman ternyata masih memiliki daya tarik yang tidak tergantikan. Dari segi genre, 79,8 persen Gen Z lebih suka membaca buku fiksi dan non-fiksi, menunjukkan keseimbangan antara mencari hiburan dan menambah pengetahuan.

Dan ini prospeknya. Mayoritas responden tetap setia dengan buku cetak. Jadi, prospek masa depan buku cetak juga masih cerah, dengan 81,5% responden menyatakan keinginannya untuk tetap membaca buku cetak walau format digital lain akan semakin populer. Daya tarik tersendiri dari buku fisik yang tidak dapat dirasakan dari format lain membuatnya masih menjadi primadona.

Membaca Tingkat Kegemaran Membaca

Skor Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Indonesia pada 2024 ada di angka 72,44, naik signifikan dari 66,77 pada 2023. Dari 38 provinsi, warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) jadi yang paling gemar membaca menurut skor TGM. Frekuensi membaca warga DIY sebanyak 5-6 kali/minggu dengan durasi 1-2 jam/hari, jumlah buku yang dibaca sebanyak 5-6 buku/triwulan, dan frekuensi akses internet 5-6 kali/minggu dengan durasi 1-2 jam/hari.

Dan ini salah satu poin temuan GoodStats. Dari 10 provinsi yang warganya paling suka baca, tak ada Maluku Utara di sana. Provinsi belia yang mirip Maluku Utara, Kalimantan Utara (Kaltara), justru bertengger di urutan 10 dengan skor 72,80. Meski belum jelas apa variabel dominannya. Selebihnya di bawah DIY, didominasi provinsi besar dan maju.

Membaca Arah “Book Fest”

Meski tak di posisi 10 besar provinsi yang warganya paling suka baca, belum jelasnya data Gen Z Maluku Utara yang paling suka membaca, jenis bacaan dan bentuknya fisik atau digital, setidaknya ada kecenderungan bahwa ada sensasi lain membaca buku fisik. Terlebih, kecenderungan ini masih akan bertahan di masa depan. Ini akan menjadi variabel paling dominan, ruh yang akan menggerakkan “Book Fest” nanti. Bukan Facebook. Wallahua’lam. (*)