Oleh: Anwar Husen

Pemerhati Sosial/Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara

_______

Dikisahkan, bahwasanya dulu Nabi Musa pernah bertanya pada Tuhan: Wahai Tuhan-ku, Engkau ada di langit sementara kami ada di bumi. Maka berikan kami tanda dengan apa Engkau marah dan bagaimana Engkau ridha? Tuhan menjawab: Jika orang-orang terbaik di antara kalian yang memimpin kalian, itulah tanda Aku ridha. Namun jika orang-orang terburuk yang memimpin kalian, itulah tanda Aku marah (Ibnu Abi Ad-Dunya)

OLEH karib Rusli Saraha, saya diminta memberi sadakah naskah tulisan obituari dan reflektif tentang sosok Burhan Abdurahman, untuk konten buku, melengkapi kumpulan tulisan yang rencananya didedikasikan buat almarhum. Rencana launching-nya tepat di haul 5 tahun almarhum, 4 Juli 2026 nanti.

Sejujurnya, saya merasa tulisan ini jauh dari “ruh”-nya. Tak ada relasi khusus membangun suasana batin dan pertautan saya dengan almarhum secara pribadi. Saya warga Tidore, dan bekerja sebagai ASN di Pemerintah Kota Tidore Kepulauan. Juga di Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Secara demikian, naskah ini sifatnya refleksi atas pengamatan dan opini.

Era Top Leader yang Melegenda

Di deretan kepala daerah di Maluku Utara yang terpilih di era pemilihan langsung pertama tahun 2005, relatif diisi tokoh lokal yang kredibel dan bervisi besar. Sekurang-kurangnya hingga tahun 2010. Ada nama-nama besar yang bertengger di sana, setelah era Abdul Bahar Andili, Syamsir Andili, hingga Thaib Armaiyn. Sebut saja Hein Namotemo di Halmahera Utara, Muhammad Kasuba di Halmahera Selatan, Achmad Mahifa di Tidore dan M Al Yasin Ali di Halmahera Tengah, hingga Burhan Abdurahman dan Abdul Gani Kasuba. Mereka bisa dibilang sedikit dari generasi top leader Maluku Utara di rentang hingga saat ini.

Periode mereka adalah gambaran paling nyata tentang kekuatan visi personal dan kepemimpinan, sebelum diserbu kentalnya “politik citra” lewat platform media sosial. Bagi saya, era awal Presiden Jokowi adalah era tersemainya benih-benih politik citra yang meninabobokan publik Indonesia, yang jejak kinerjanya meninggalkan sisi kontroversial dan perdebatan hingga saat ini.

Landskap Anatomi Politik Citra

Dalam bukunya Politik Aura, Ali Syarief menjelaskan bahwa politik digital telah bergeser dari pertarungan program menjadi pertarungan aura. Aura merupakan citra emosional yang dibangun terus-menerus melalui media, terutama media sosial. Ia bekerja bukan pada nalar, melainkan pada rasa. Dan ketika citra mengalahkan fakta, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar elektabilitas seorang pemimpin, melainkan kesehatan akal sehat publik itu sendiri.

A. Hadiat dalam Fusilatnews [16/5/2026], memberi penjelasan menarik. Di era media sosial, kepemimpinan tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada gagasan, ideologi, atau kapasitas teknokratis. Politik telah bergerak ke ruang yang berbeda: ruang persepsi. Apa yang tampak di hadapan publik sering kali lebih menentukan daripada apa yang sesungguhnya dikerjakan.

Modal Keyakinan, Keikhlasan dan Trust

Deretan generasi top leader tadi tak membangun kredibilitas kepemimpinannya dengan lanskap politik citra. Mereka adalah deretan sosok “orang tua”, yang memiliki latar pendidikan dan pengalaman. Sebagai birokrat khususnya, yang relatif memahami anatomi problem daerah. Perpaduan latar itu, ditambah kematangan emosional karena variabel usia dan penghayatan yang kuat terhadap esensi kepemimpinan dalam pesan agama, adalah faktor paling dominan mewarnai landskap kepemimpinan yang kuat wajah ikhlasnya. Memimpin dengan hati, mungkin adalah narasi paling pendek, sekaligus paling bermakna buat mereka. Keyakinan, keikhlasan dan trust adalah poinnya.

Berpadunya Kompetensi Problem Solver dan Solidarity Maker

Nurcholish Madjid sering merujuk sosok Soekarno dan Muhammad Hatta di masa awal kemerdekaan, sebagai landskap perpaduan yang lengkap dan ideal. Pantas dilekatkan predikat Dwi-Tunggal. Ketika Indonesia yang baru dimerdekakan, tertatih di persimpangan jalan sejarah, Soekarno tampil sebagai sosok pembangun solidaritas (Solidarity Maker) yang hebat. Melalui pidatonya yang yang penuh semangat di tengah gejolak politik yang hebat paska kemerdekaan, Soekarno mampu menjaga bara keindonesiaan agar tak keburu padam. Dan sebagai seorang ekonom handal, Hatta tampil sebagai sosok pencari jalan keluar “isi perut” bagi bayi keindonesiaan di tengah eskalasi tak menentu.

Bagi saya, pada sosok seorang Burhan Abdurahman, kompetensi solidarity maker dan problem solver itu menyatu. Berpadu pada satu sosok. Di kantor wali kota, beliau adalah problem solver dari kebijakan yang dibangun. Dan dari pasar ke pasar, masjid ke masjid, di panti asuhan, di gubuk-gubuk tua kaum fakir, hingga di lorong-lorong dan emperan, sosok pembangun solidaritas dan integrasi sosial itu mewujud. Program Barifola, adalah legasi personalnya melalui lembaga Ikatan Keluarga Tidore (IKT) yang paling monumental.

Bau Amis Politik Elektoral

Dalam sejarahnya, banyak kasus eksploitasi jenazah sering terjadi. Ini merujuk pada tindakan memanfaatkan tubuh orang yang telah meninggal untuk berbagai motif. Mulai dari kepentingan riset ilmu pengetahuan, kesehatan, hukum, hingga membangun kohesi sosial. Bahkan untuk kepentingan politik. Meski dipandang melanggar hak asasi manusia, hukum pidana, serta norma sosial dan keagamaan yang mewajibkan penghormatan terhadap martabat jasad manusia.

Di Indonesia, jenazah korban Penembakan Misterius (Petrus) di masa orde baru pada operasi rahasia pengeksekusian tanpa proses pengadilan terhadap preman dan pelaku kriminalitas yang marak terjadi pada kurun waktu 1982-1985, dibiarkan tergeletak untuk menciptakan efek ketakutan massal.

Dalam analisis tulisan saya sebelumnya, bertepatan jenazah Almarhum Burhan Abdurahman dipulangkan ke Ternate di media Tandaseru (12/5/2026), saya mencium aroma ini berhembus kencang.

Wali Kota Tiga Periode

Mantan Wali Kota Ternate dua periode, Dr. H. Burhan Abdurahman, S.H., M.M., wafat pada 4 Juli 2021. Beliau berpulang di Makassar dan dimakamkan di Gowa, Sulawesi Selatan. Beliau adalah di antara sosok Wali Kota Ternate yang paling dikenang. Periode kepemimpinannya sejak 2010-2015 dan 2016-2021, dikenal memiliki visi kepemimpinan yang hebat. Dan bagi saya, di atas segala visi kepemimpinan yang hebat itu, ada kemampuan mengeksplorasi kompetensi teknis dari talenta terpilih berusia muda di kabinetnya. Ternate hari ini, tak berlebihan jika diklaim sebagai bagian muara dari visi kepemimpinannya yang hebat itu dan kemampuan eksekusi yang handal dari stafnya. Sebuah perpaduan yang langka dalam lanskap kepemimpinan birokrasi pemerintahan umumnya.

Dan visi pembangunan yang hebat, berpadu dengan sosok yang ikhlas, sederhana, dan merakyat, adalah variabel langka yang menjangkau jaman, bersemayam dalam memori generasinya, dan diwariskan secara terus-menerus. Dan itu adalah legasi yang menguatkan imaji wali kota tiga periode.

Jika fase kepemimpinannya di 2010-2015 dan 2016-2021 adalah fase formal-legalistik sebagai Wali Kota Ternate, maka periode 2021-2026 adalah fase imajiner kepemimpinannya. Fase ketika jenazahnya berada di pengasingan selama “satu periode”, namun terus terawat di memori publik, menemukan pembandingnya, dan selalu dikenang. Fase ketika legasi bisa bertutur tanpa batas, sepanjang masa. Lima tahun jenazahnya berada di rantau itu, adalah fase ketika nestapa bercampur penyesalan, dan rindu bertutur dalam keheningan, seolah menemukan bentuk imajinernya, mengkristal dan berbuah rasa syukur yang tak terperikan. Syukur atas kembalinya jenazah sang arsitek peradaban memeluk bumi yang dirinduinya. Meski juga, bau amis dan aroma politik kontestasi terasa begitu menyengat menyertainya.

Sedikitnya, dalam tiga situasi ini, jenazah almarhum Burhan Abdurahman dipulangkan ke Ternate, menemukan bentuknya sebagai wali kota tiga periode: Pertama, menjadi pemantik memori menyegarkan inspirasi dan kebaikan. Ini terbaca dari berbagai narasi berbagai kalangan dan segmen yang menyeruak di berbagai platform media sosial. Kedua, menjadi perekat dan kohesi sosial khususnya warga Ternate, efek lain dari dinamika kontestasi pemilihan kepala daerah paska periodenya. Ketiga, punya magnit yang kuat untuk dieksplorasi dan bernilai komoditas politik-elektoral.

Dari deretan fakta yang mengiringi perjalanan pencarian hakikat diri seorang Burhan Abdurahman hingga kembali memeluk bumi yang dirinduinya bernama Ternate, mengingatkan saya pada metafora Surat An Nur, dalam keyakinan hakikat. Surat yang oleh sebagian mufassir, sengaja disisipkan Allah SWT di tengah semua hukum sosial, yang menjadi puncak spiritual seluruh surat. Dan ayat 35, adalah ayat yang para ulama, penyair, dan filsuf dari seluruh peradaban Islam telah menulis ribuan halaman penafsirannya, dan masih merasa belum selesai.

Imam Al-Ghazali menulis satu buku utuh tentang ayat ini, Misykatul Anwar. Dan menyimpulkan bahwa seluruh perjalanan spiritual manusia adalah perjalanan dari kegelapan menuju cahaya, dari cahaya rendah menuju cahaya yang lebih tinggi, dari cahaya pengetahuan menuju cahaya ma’rifat, hingga akhirnya fana dalam cahaya Allah yang tidak ada atasnya.

Jalaluddin Rumi menulis tentang kerinduan ruh kepada cahaya asalnya. Ibnu Arabi membangun seluruh bangunan tasawufnya di atas metafora cahaya ini. Satu ayat. Ribuan tahun perenungan. Dan masih belum habis.

Dan semoga, Allah membimbing kepada cahaya-Nya, hamba-hamba yang dikehendaki.

Wallahua’lam. (*)