Oleh: Isaac Idrus Djailani

________

IR. Muh. Din – Pak Din untuk kebanyakan dari kita-kita yang biasa dekat dengan beliau lebih disapa dengan Ko Din mempunyai benang merah dalam apapun yang dikerjakan. Yaitu selalu mencari atau mengupayakan yang terbaik – striving for excellence, dan selalu melihat ataupun memecahkan persoalan secara komprehensif.

Kemampuannya untuk melihat secara sistematis komprehensif ini termasuk melihat urutan sejarah serta keterkaitan antarkejadian, kemudian merangkai ke dalam suatu analisis yang tajam dan kesimpulan-kesimpulannya, melandasi pola pikir beliau. Ini terlihat dari penanganan semua kegiatan utamanya; membangun birokrasi semasa menjadi Sekda pada tahun 2003-2005, Kepala Dinas PerindagKop tahun 2005-2017, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi tahun 2007-2010, maupun dalam kebijakan politik pemerintahan semasa menjadi Wakil Bupati periode 2010-2018 dan Bupati tahun 2018-2020 di Kabupaten Halmahera Timur.

Di samping itu, dalam melaksanakan gagasannya selalu dengan pendekatan rumor dan sangat manusiawi-pribadi serta sangat ketimuran. Dalam merangkai pikiran-pikiran almarhum Ir. Muh. Din saya mencoba menarik benang merah dengan tema bertajuk “Benang Merah Pemikiran: Pembangunan Halmahera Timur Hari Kemarin-Hari Ini-dan Hari Esok”, menampilkan gagasan-gagasan makro-komprehensif tentang pembangunan Halmahera Timur ke depan baik secara makro-detail hingga operasionalnya.

Tulisan yang ditampilkan ini semata-mata merefleksikan gagasan-gagasan Ir. Muh. Din selama berkecimpung di sistem Pemerintahan Kabupaten Halmahera Timur dengan mengedepankan pola pikir secara konseptual dengan pendekatan perencanaan pembangunan yang dimilikinya dan dioperasionalkannya. Memang tidak semua pikiran dan gagasan-gagasan Almarhum Ir. Muh. Din terungkap dalam tulisan ini, akan tetapi setidaknya selama gagasan-gagasan yang ada dalam pemikiran beliau saya dapat menangkap dalam setiap diskusi dan tukar-pikir dalam setiap kesempatan bersama beliau semenjak belum terbentuknya Kabupaten Halmahera Timur tahun 2003 hingga wafatnya pada bulan September 2020. “Beliau memang sangat ilmuwan dan birokrat tulen”. Tidak semua pola pikir dan semua gagasan tentang pembangunan Halmahera Timur ke depan dapat saya ketengahkan secara utuh, akan tetapi dalam tulisan yang saya sajikan ini setidaknya mengungkap sebagian apa yang menjadi cita-cita dan harapan negeri yang tercinta ini.

Mengingat tidak semua orang mengetahui keinginan dan cita-cita besar yang beliau ingin persembahkan untuk masyarakat dan negeri ini. Memang harus diakui di antara kita-kita dalam setiap keputusan apapun bentuknya sering menimbulkan kontra-versi, bahkan di antara kita-kita memandang sesuatu yang beliau kerjakan belum saatnya atau bahkan bukan untuk kebutuhan hari ini. Yang dapat saya pahami cara berpikir dalam konteks sebuah perencanaan haruslah memandang yang bersifat jangka panjang. Ini dapat terlihat dalam pola pikir bagaimana membangun kawasan-kawasan tertentu maupun pembangunan infrastruktur kota yang selalu berorientasi jangka panjang.

Jujur memang dalam perspektif pembangunan wilayah dan kota sering kami berdebat. Dimensi analisis pembangunan jangka panjang yang selalu beliau kedepankan itu, sering tidak mampu mengatasi persoalan jangka pendek yang sering terjadi dan ini dapat saja suatu ketika akan berdampak pada target pembangunan jangka panjang. Sementara saya memandang bahwa perencanaan pembangunan yang selalu bertumpu pada kebutuhan jangka panjang tanpa diikuti dengan pembangunan yang bersifat jangka pendek akan menimbulkan persoalan-persoalan yang suatu ketika akan sulit kita atasi. Saya berkeinginan agar paradigma perencanaan pembangunan harus bertumpu pada “Perencanaan pembangunan jangka panjang haruslah diikuti dengan mengatasi persoalan-persoalan jangka pendek dan jangka menengah untuk tujuan jangka panjang”.

Beberapa pikiran dan gagasan yang diketengahkan dalam tulisan antara lain:

bersambung ……………………………………….