Pada usia mudanya, Bung Karno kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) jurusan teknik Sipil. Beliau salah satu dari tiga pribumi yang kuliah di situ. Pada usia muda itu pula beliau sudah aktif berdialektika dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker. Bung Karno sebelum kuliah di Bandung sudah menjadi anggota Jong Java cabang Surabaya pada tahun 1915. Pada tahun 1926 yaitu pada saat beliau usia 26 tahun sudah mendirikan Algemeene Studie Club yang inspirasinya dari Indonesische Studie Club-nya Dr. Soetomo. Organisaasi ini menjadi cikal bakal berdirinya organisasi politik yang digagasnya yakni Partai Nasional Indonesia atau PNI.
Tertulis di banyak Sejarah dunia bahwa pemuda itu berhasil menjadi pemimpin dunia. Lihat saja Iskandar Agung atau Alexander the Great sudah menjadi penguasa di usia 20 tahun dan meruntuhkan berbagai wilayah dan mendirikan kekaisaran yang terluas cakupannya melampaui Yunani sampai ke India. Presiden Amerika Serikat yang terkenal yaitu John F. Kennedy menjadi presiden AS termuda di abad 20 yaitu di usia 40 tahunan. Muamar Khadafi dari Libia itu di usia muda berhasil merebut kekuasaan negara dan menjadi presiden (tahun 2011 Khadafi dibunuh rakyatnya sendiri ketika terjadi perang saudara).
Dari perjalanan sejarah kita ini, maupun dunia kita bisa saksikan bahwa para pemudalah yang banyak berjuang mendirikan negara, namun tak lepas dari pendampingan orang tua atau yang lebih senior. Saat ini kewajiban kita sebagai pemuda adalah membaca dan menganalisis kembali sejarah perjuangan mereka para founding fathers kita, karena mereka telah banyak memberikan segala yang dimiliki hanya untuk membebaskan kita dari cengkeraman penjajah dan membangun negara yang kita cintai ini.
“Tak ada kata terlambat berikan apapun sebisamu terhadap negara ini!” (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.