“Jadi saya sekolah sambil jual es, dibuat sendiri oleh Ibu saya, antar ke tempat-tempat langganan,” katanya.
Tak hanya sampai SD, ketika mulai beranjak ke bangku SMA pun, ia masih tetap menjajakan es buatan sang ibu. Setiap hari, saat hari masih pagi, dan matahari baru saja pecah, Asrul sudah bergegas lebih dulu mengantarkan jualannya.
Setelah itu, ia kembali lagi ke rumah, barulah bersiap-siap ke sekolah. Namun, jika ia bangun sedikit kesiangan, maka Asrul memilih untuk ke sekolah sekaligus dengan menenteng jualannya.
Saat bulan Ramadan pun, ia tetap berjualan. Ketika matahari mulai miring ke barat, Asrul sudah bersiap, meski benar-benar dahaga karena sedang berpuasa. Ayah dan ibunya memang ketat kalau urusan agama. Asrul tak dibolehkan meninggalkan puasa kendati sedang berjualan.
“Kalau diingat-ingat sedih juga, apalagi kalau jualannya tak laku terjual,” kenang Asrul.
Asrul kecil sudah ditempa sedemikian tangguh, dan ia tak boleh berhenti. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Makassar. Ia kuliah di Universitas Muslim Indonesia (UMI), Fakultas Teknologi Industri, dan mengambil jurusan Teknik Kimia.
“Jadi saya kuliah cukup lama, dalam proses perkuliahan itu saya aktif di beberapa organisasi,” tuturnya.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.