“Jadi Tidore juga masuk dalam event musik tradisi, dan ini tantangan terberat karena sebelumnya aliran musik yang saya geluti memang bukan bergenre tradisi,’’ tuturnya.
Faizal awalnya agak keberatan dipercaya sebagai komposer. Sebab tanggung jawab seorang komposer begitu berat.
“Saya belum semestinya untuk dipakai sebagai komposer, mungkin sebagai mixing engineer yang lebih tepat. Saya juga berkolaborasi dengan Rafly Ear Sanjani, DD-Accoustic dan Rio Hernanda, salah satu mixing engineer jebolan JAS yang langsung didatangkan dari Samarinda, Kalimantan Timur, untuk membantu kami,’’ jelasnya.
Dia menambahkan, Tidore memang punya musik tradisi seperti rababu atau tifa. Inilah dasar memperkenalkan musik tradisi Tidore kepada masyarakat Indonesia.
“Rababu misalnya, sudah banyak memberikan perkembangan terhadap musik daerah. Jadi penting sama-sama kita kembangkan lebih jauh tentang alat tradisi agar bisa sama-sama kita kolaborasi dengan alat musik lainnya, sehingga nuansa instrumental bisa dinikmati banyak orang. Pasti di luar sana orang bertanya-tanya tentang musik tradisi Tidore. Melalui FMTI ini perlu kami tampilkan dan pentaskan di masyarakat Indonesia,’’ katanya.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.