Oleh: Ilham Djufri
Rektor Institut Teknologi Gamalama
_______
SETIAP 1 Oktober bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Sehari kemudian, 2 Oktober, kita memperingati Hari Batik Nasional. Dua momentum ini bukan sekadar agenda seremonial. Keduanya mengandung pesan tentang pentingnya menjaga nilai, identitas, dan jati diri bangsa di tengah perubahan zaman. Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi Maluku Utara ketika daerah ini menghadapi perubahan ekonomi yang cepat sekaligus memasuki era kecerdasan artifisial (AI).
Pertanyaan pentingnya adalah kemana arah Maluku Utara ketika kekayaan alam, warisan budaya, dan perkembangan teknologi bertemu? Apakah kita akan sekadar menjadi daerah penghasil komoditas dan pengguna teknologi dari luar, atau mampu membangun masyarakat yang menguasai pengetahuan, menciptakan inovasi, dan tetap berakar pada identitas budaya? Hari Kesaktian Pancasila seharusnya menjadi momentum untuk melihat kembali apakah nilai-nilai Pancasila benar-benar hadir dalam proses pembangunan. Pancasila tidak cukup menjadi teks dalam dokumen negara atau simbol dalam upacara, tetapi harus tercermin dalam kebijakan yang menghadirkan keadilan, pemerataan, dan kesejahteraan.
Pertanyaan tersebut penting di tengah pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang sangat tinggi. BPS mencatat ekonomi Maluku Utara tumbuh 34,17 persen pada 2025, dengan PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp133,62 triliun. Industri pengolahan tumbuh 62,64 persen dan ekspor barang dan jasa tumbuh 40,13 persen. Angka tersebut menunjukkan dinamika ekonomi yang luar biasa, terutama terkait perkembangan industri pengolahan. Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak otomatis berarti seluruh masyarakat telah menikmati manfaat pembangunan secara merata.
BPS juga mencatat bahwa pada Maret 2026 terdapat 77,85 ribu penduduk miskin atau 5,79 persen dari penduduk Maluku Utara. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan September 2025, meskipun persentasenya sedikit menurun dibandingkan Maret 2025. Data ini tidak berarti pertumbuhan ekonomi gagal memberikan manfaat. Namun, mengingatkan bahwa pertumbuhan dan pemerataan harus dibicarakan secara bersamaan. Pembangunan tidak cukup diukur dari besarnya investasi dan nilai produksi, tetapi juga dari kualitas pekerjaan, pendidikan, kesehatan, pemerataan kesempatan, dan kualitas hidup masyarakat. Di sinilah nilai keadilan sosial dalam Pancasila menemukan relevansinya.
Hari Batik Nasional membawa kita pada persoalan identitas. Batik merupakan warisan budaya Indonesia yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda pada 2009. Batik menunjukkan bagaimana pengetahuan, simbol, kreativitas, dan keterampilan diwariskan lintas generasi. Bagi Maluku Utara, refleksi tentang batik seharusnya diperluas pada kekayaan budaya daerah sendiri. Sejarah Kesultanan Ternate dan Tidore, bahasa daerah, sastra lisan, seni, kerajinan, tradisi maritim, serta pengetahuan masyarakat tentang lingkungan merupakan kekayaan yang tidak kalah penting untuk dirawat.
Tantangannya adalah bagaimana membuat tradisi tetap hidup di tengah perubahan generasi. Pelestarian budaya tidak cukup melalui festival atau seremoni. Kita membutuhkan dokumentasi, penelitian, pendidikan, regenerasi pelaku budaya, dan pemanfaatan teknologi. Sejarah lokal dapat dikembangkan menjadi arsip digital. Cerita rakyat dapat menjadi materi pembelajaran. Bahasa daerah dapat didokumentasikan secara digital. Kerajinan lokal dapat diperkenalkan melalui perdagangan elektronik dan media sosial.
AI bahkan dapat membantu mengelola arsip, mengenali pola, menerjemahkan materi, dan mengembangkan media pembelajaran budaya. Namun, pemanfaatannya harus tetap menghormati hak komunitas dan pemilik pengetahuan tradisional. Teknologi tidak boleh menjadikan budaya sekadar bahan komersialisasi tanpa memperhatikan masyarakat yang mewarisinya. AI kini bukan lagi teknologi masa depan. Ia telah masuk ke pendidikan, bisnis, pemerintahan, penelitian, industri kreatif, dan kehidupan sehari-hari.
Maluku Utara perlu melihat perkembangan ini sebagai peluang. AI dapat dimanfaatkan untuk menganalisis data pembangunan, mendukung pendidikan, mengembangkan UMKM, mempromosikan pariwisata, membantu penelitian perikanan dan pertanian, serta mendukung pengelolaan lingkungan. Namun, teknologi tidak otomatis menyelesaikan persoalan. AI membutuhkan manusia yang mampu menggunakannya secara kritis.
Data BPS menunjukkan IPM Maluku Utara pada 2025 mencapai 72,52, meningkat dari 71,84 pada 2024. Harapan lama sekolah mencapai 13,76 tahun, sedangkan rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas mencapai 9,50 tahun. Peningkatan tersebut merupakan perkembangan positif. Namun, era AI menuntut lebih dari sekedar akses terhadap pendidikan. Generasi muda perlu memiliki literasi data, kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, dan etika digital.
Perguruan tinggi di Maluku Utara memiliki posisi strategis dalam agenda ini. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang mampu menggunakan aplikasi AI. Perguruan tinggi perlu menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang menjawab persoalan nyata daerah (Perikanan, pertanian, lingkungan, pariwisata, pelayanan publik, pengelolaan sampah, hingga pengembangan ekonomi kreatif). Dengan demikian, AI tidak hanya menjadi alat untuk bekerja lebih cepat, tetapi menjadi instrumen untuk menciptakan nilai tambah berbasis pengetahuan.
Salah satu tantangan terbesar adalah jangan sampai Maluku Utara hanya menjadi konsumen teknologi yang dikembangkan pihak lain. Kita tidak harus menciptakan semua teknologi sendiri. Mengadopsi teknologi yang sudah tersedia adalah pilihan yang rasional. Tetapi pada saat yang sama, kemampuan lokal harus dibangun agar masyarakat mampu memahami, mengevaluasi, menyesuaikan, dan bahkan menciptakan solusi teknologi sesuai kebutuhan daerah.
Pengetahuan lokal dapat menjadi bagian dari proses tersebut. Pengetahuan masyarakat mengenai laut, pertanian, lingkungan, bahasa, dan budaya merupakan sumber pengetahuan yang sangat berharga. Namun, pemanfaatan data dan AI harus disertai tata kelola yang baik. Perlindungan data pribadi, transparansi, akurasi informasi, serta pertanggungjawaban manusia harus menjadi prinsip utama. AI dapat membantu manusia mengambil keputusan, tetapi tidak boleh menghilangkan tanggung jawab manusia.
Ke Mana Arah Maluku Utara? Dari refleksi tersebut, setidaknya ada empat agenda penting.
Pertama, memperkuat pendidikan dan literasi AI. Sekolah dan perguruan tinggi perlu membekali generasi muda dengan literasi data, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan etika digital.
Kedua, mendigitalisasi dan melestarikan budaya lokal. Sejarah, bahasa, seni, cerita rakyat, dan pengetahuan tradisional perlu didokumentasikan dan diwariskan dengan melibatkan komunitas pemilik tradisi.
Ketiga, mengembangkan riset yang menjawab kebutuhan daerah. AI dan teknologi digital perlu diarahkan pada persoalan nyata Maluku Utara, bukan sekadar mengikuti tren teknologi.
Keempat, memastikan pertumbuhan ekonomi menghasilkan manfaat yang lebih luas. Pertumbuhan PDRB harus dibaca bersama indikator kemiskinan, kualitas pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Keempat agenda tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas budaya, dan masyarakat.
Hari Kesaktian Pancasila mengingatkan kita tentang nilai yang harus dijaga. Hari Batik Nasional mengingatkan kita tentang identitas dan warisan budaya. Sementara era AI mengingatkan kita bahwa masa depan membutuhkan kemampuan untuk terus belajar dan berinovasi. Ketiganya bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.
Pancasila dapat menjadi kompas nilai, tradisi menjadi akar identitas, dan AI menjadi instrumen perubahan. Maluku Utara memiliki sumber daya alam yang besar, kekayaan sejarah dan budaya, serta generasi muda yang menjadi modal penting masa depan. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut diubah menjadi pengetahuan, inovasi, kesejahteraan, dan keadilan. Karena itu, pertanyaan tentang masa depan Maluku Utara bukan sekadar apakah kita siap menggunakan AI. Pertanyaan yang lebih penting adalah; Apakah kita mampu memasuki era AI tanpa kehilangan jati diri, sekaligus memastikan kemajuan teknologi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat? Di situlah sesungguhnya arah Maluku Utara dipertaruhkan; Maju secara teknologi, kuat dalam identitas, dan adil dalam pembangunan. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.