Tandaseru – Suasana rapat persiapan layanan angkut penghubung kapal perintis KM Sabuk Nusantara 35 di Kantor Desa Barataku, Kecamatan Loloda Tengah, Halmahera Barat, Maluku Utara, Rabu (5/8/2026), mendadak berubah haru. Tangis Festrina Tuandali pecah saat menceritakan tragedi laut yang hampir merenggut seluruh harta bendanya, sekaligus menyambut kabar hadirnya layanan kapal perintis yang akan melayani Teluk Barataku.
Di hadapan pemerintah, tokoh masyarakat, pemilik perahu, dan peserta rapat lainnya, Festrina mengenang peristiwa memilukan yang dialaminya akhir 2025. Saat itu, akses darat menuju wilayah Loloda Tengah belum memadai sehingga masyarakat hanya bergantung pada perahu panjang (longboat) untuk bepergian ke Tobelo.
Pada 24 Desember 2025, ia bersama keluarga dan sejumlah warga berangkat menggunakan longboat. Namun, empat hari kemudian, tepatnya 28 Desember 2025, perjalanan mereka berubah menjadi bencana. Perahu yang ditumpangi diterjang gelombang lebih dari 3 meter disertai arus laut yang kuat hingga akhirnya terbalik di perairan Loloda.
“Semua hilang. Ijazah anak saya mulai dari SD hingga perguruan tinggi, barang belanjaan, uang simpanan, dan harta benda yang kami kumpulkan selama bertahun-tahun lenyap dibawa ombak,” tutur Festrina dengan suara bergetar.
Menurutnya, kerugian yang dialami para penumpang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Namun, kehilangan dokumen-dokumen penting, terutama ijazah anak-anaknya, menjadi luka yang paling sulit dipulihkan.
Festrina mengaku sempat merekam sebagian kejadian menggunakan telepon genggamnya. Namun, kondisi cuaca ekstrem membuat rekaman tersebut tidak mampu menggambarkan sepenuhnya kepanikan dan perjuangan para penumpang saat berupaya menyelamatkan diri dari amukan gelombang.
Bagi Festrina, keputusan pemerintah menghadirkan layanan KM Sabuk Nusantara 35 ke Teluk Barataku bukan sekadar pembukaan rute baru, melainkan jawaban atas harapan panjang masyarakat yang selama bertahun-tahun harus mempertaruhkan keselamatan demi mendapatkan akses transportasi.
“Dulu kami berlayar tanpa perlindungan dan tanpa kepastian jadwal, hanya mengandalkan keberanian menghadapi ombak. Sekarang kapal negara akan datang ke Barataku. Terima kasih kepada pemerintah yang akhirnya mendengar jeritan masyarakat,” ucapnya sambil menahan tangis.
Kisah Festrina menjadi gambaran nyata beratnya kehidupan masyarakat di wilayah yang lama terisolasi. Peristiwa itu juga mengingatkan pada aksi warga Loloda Tengah yang sempat mencegat kapal perintis di tengah laut sebagai bentuk keputusasaan agar pemerintah memperhatikan kebutuhan transportasi mereka.
Kini, harapan itu mulai terwujud. Dalam rapat tersebut, pemerintah bersama pemilik longboat, motoris, dan masyarakat sepakat membangun sistem layanan angkut penghubung yang tertib, aman, dan terintegrasi dengan kedatangan KM Sabuk Nusantara 35, sehingga kehadiran kapal perintis benar-benar dapat memberikan manfaat bagi seluruh warga Loloda Tengah.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.