Tandaseru — Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) menjajaki peluang kerja sama strategis dengan Southeast Asian Studies Regional Exchange Program (SEASREP) Foundation. Penjajakan ini dilakukan di sela-sela penyelenggaraan program Community of Local Affiliates Studying the Past (CLASP) yang berlangsung di George Town, Penang, Malaysia, pada 3–4 Agustus 2026.

Dalam forum internasional tersebut, JKPI diwakili Kepala Divisi Business and Development Program, Rinto Taib, yang hadir memenuhi undangan resmi mewakili Direktur Eksekutif JKPI.

Forum CLASP yang diinisiasi SEASREP Foundation tersebut mempertemukan berbagai organisasi pelestarian budaya dan komunitas sejarah dari negara-negara anggota ASEAN, seperti Brunei Darussalam, Laos, Myanmar, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Malaysia, serta delegasi Indonesia.

Beberapa lembaga asal Indonesia yang turut hadir di antaranya Pan Sumatera Network for Heritage Society, Bandung Society for Heritage Conservation, Nias Heritage Museum, Jogja Heritage Society, Komunitas Historia Indonesia, Lasem Heritage Foundation, dan Ternate Heritage Society.

Direktur Eksekutif JKPI, Dr. Cand. Asfarinal, M.Si, menyatakan JKPI dan SEASREP memiliki fondasi visi yang sejalan sebagai lembaga nirlaba yang responsif terhadap isu-isu pembangunan berkelanjutan serta agenda pemajuan kebudayaan.

“JKPI dan SEASREP memiliki komitmen yang sama untuk terbuka bersinergi dengan berbagai pihak. Fokus utama kami adalah penguatan kelembagaan hingga ke tingkat komunitas lokal, sekaligus memberikan solusi konkret melalui jejaring regional bagi pembangunan masyarakat di Asia dan kawasan global,” ujar Asfarinal.

Sementara itu, Rinto Taib optimistis sinergi lintas aktor berbasis komunitas di kawasan Asia Tenggara akan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, terutama dalam berbagi pengalaman serta advokasi atas berbagai tantangan pembangunan lokal di tengah dinamika politik dan ekonomi global.

Sebagai langkah konkret dari pertemuan ini, JKPI merencanakan penyusunan dan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) bersama SEASREP Foundation. MoU ini dirancang untuk memayungi berbagai program kolaboratif yang relevan dan berdampak nyata bagi kemajuan budaya di tingkat regional maupun global.  

“Kami berharap inisiasi program yang dijalankan SEASREP bersama lembaga-lembaga kolaboratif ini dapat terus memperkuat kapasitas lokal. Sepulangnya para delegasi ke negara masing-masing, kerja sama jejaring yang lebih luas ini diharapkan mampu menghadirkan solusi bersama di tengah era transformasi digital,” pungkas Rinto.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Ika Fuji Rahayu
Reporter