Tandaseru — Deru mesin Kapal Motor (KM) Cantika Lestari 99 beradu dengan suara hempasan ombak yang memecah kegelapan dini hari di perairan menuju Kota Ambon, Provinsi Maluku. Di salah satu sudut dek kapal, Senin (3/8/2026) pukul 01.22 WIT, suasana tegang yang mencekam seketika luluh oleh suara paling merdu malam itu: tangisan pertama seorang bayi perempuan.
Bagi Sudarti Arman (28 tahun), bidan honorer asal Desa Dofa, Kepulauan Sula, Maluku Utara, tangisan tersebut bukan sekadar pertanda lahirnya seorang manusia baru ke dunia, melainkan pembayar tuntas atas perjuangan hidup dan mati yang ia lewati di tengah lautan.
Tugas Berat di Tengah Hantaman Ombak
Semua bermula ketika Sudarti ditugaskan oleh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanana—tempatnya mengabdi selama lebih dari empat tahun—untuk mendampingi seorang pasien rujukan melahirkan menuju RSUP dr. J. Leimena di Ambon. Pasien tersebut adalah Mediyani Bachmid, yang didampingi suaminya, Amrin Teapon.
Namun, takdir berkata lain di tengah pelayaran. Belum sempat kapal merapat di pelabuhan tujuan, kondisi Mediyani memburuk. Kontraksi hebat mulai menyerang. Pembukaan demi pembukaan berjalan cepat, dari pembukaan dua hingga mencapai pembukaan sepuluh. Tanda-tanda persalinan darurat tak lagi bisa ditawar.
Di atas kapal yang terus berguncang diombang-ambingkan gelombang, tanpa fasilitas medis ruang bersalin yang memadai, Bidan Sudarti harus mengambil keputusan cepat. keselamatan sang ibu dan janin berada sepenuhnya di tangannya.
Melawan Mual dan Rasa Cemas
Situasi malam itu sejatinya tidak mudah bagi Sudarti. Selain tekanan psikologis yang tinggi, ia sendiri harus menahan rasa mual luar biasa akibat mabuk laut yang menyerangnya sepanjang perjalanan. Namun, penderitaan pribadinya itu langsung sirna saat melihat raut kesakitan sang ibu pasien.
“Beta punya perasaan tercampur aduk. Ada rasa cemas dan paling tegang pas di perjalanan, tapi beta paling rasa kasihan lihat ade bayi pung mama kesakitan,” kenang Sudarti, menceritakan detik-detik mencekam tersebut.
Dengan jemari yang sigap dan ketenangan yang dipaksakan di tengah kondisi darurat, anak sulung dari tiga bersaudara ini terus memandu proses persalinan. Doa tak terputus ia panjatkan di dalam hati agar tidak terjadi komplikasi yang mematikan, seperti pendarahan hebat di tengah laut.
Perjuangan itu membuahkan hasil manis. Sang bayi perempuan lahir dengan selamat. Tak lama kemudian, plasenta dapat dikeluarkan dengan sempurna tanpa adanya pendarahan.
“Setelah ade lahir, dengar ade pung suara menangis langsung beta pung rasa lelah fisik seketika hilang. Sampe nanti tidak ada pendarahan, beta tidak berhenti mengucapkan syukur dan ada rasa bangga bisa jadi jembatan penyelamat,” tuturnya.
Azzura Cantika, Pengingat Pengabdian
Sebagai bentuk kenangan atas peristiwa langka dan menegangkan tersebut, pasangan Amrin dan Mediyani menyematkan nama indah bagi putri kecil mereka: Azzura Cantika Lestari Teapon. Nama kapal yang membawa mereka menjadi saksi bisu perjuangan hidup di tengah lautan.
Kisah Bidan Sudarti menjadi cermin nyata dedikasi tanpa batas para tenaga kesehatan di pulau-pulau terdepan Indonesia. Meski masih berstatus sebagai tenaga honorer, tanggung jawab moral dan jiwa kemanusiaan Sudarti membuktikan pengabdian sejati tak pernah terbatas oleh dinding-dinding rumah sakit yang nyaman, melainkan hadir di mana pun nyawa manusia membutuhkan pertolongan.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.