Oleh: Abdurahman Hoda

Fasilitator KDKMP Kemenkop

_______

KOPERASI Desa/Kelurahan Merah Putih sedang berada di persimpangan penting. Di satu sisi, program ini membawa harapan besar. Koperasi diharapkan menjadi instrumen untuk memperkuat ekonomi desa, memperluas akses masyarakat terhadap layanan ekonomi, membuka peluang usaha, serta meningkatkan kesejahteraan anggota. Namun di sisi lain, ada pertanyaan yang tidak boleh dihindari: Apakah kita sedang membangun koperasi, atau sekadar membangun lembaga yang bernama koperasi?

Pertanyaan ini penting karena sejarah koperasi mengajarkan satu hal: tidak semua koperasi yang didirikan akan tumbuh menjadi koperasi yang sehat. Ada koperasi yang besar di awal, tetapi kemudian kehilangan arah. Ada koperasi yang memiliki modal, tetapi tidak memiliki bisnis. Ada koperasi yang memiliki struktur organisasi, tetapi tidak memiliki sistem. Ada koperasi yang memiliki pengurus, tetapi tidak memiliki manajemen profesional.

Karena itu, ketika saya mendapat penugasan untuk memberikan training kepada calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Satdik/Kolat XIV Bela Negara Ambon pada 17–20 Juli 2026, saya melihat kegiatan tersebut bukan hanya sebagai agenda pelatihan. Di balik ruang kelas dan materi pembelajaran, ada pertanyaan besar tentang masa depan koperasi Indonesia: Siapa yang akan mengelola koperasi-koperasi ini?

Dan lebih jauh lagi: Apakah mereka siap menjadi manajer koperasi yang sesungguhnya?
Kita sering kali terlalu mudah mengukur keberhasilan sebuah program dari jumlah lembaga yang berhasil dibentuk. Berapa koperasi yang didirikan? Berapa kantor yang dibangun? Berapa banyak anggota yang terdaftar? Berapa besar modal yang tersedia?
Semua itu penting.

Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
Apakah koperasi tersebut mampu menjalankan bisnis yang sehat?

Sebab koperasi bukan hanya organisasi sosial. Koperasi juga merupakan organisasi ekonomi. Ia harus mampu menciptakan nilai tambah, menghasilkan pendapatan, mengelola biaya, membangun pasar, menjaga kepercayaan anggota, dan bertahan dalam persaingan.
Koperasi tidak boleh hanya hidup karena bantuan. Koperasi harus mampu tumbuh karena memiliki model bisnis yang jelas. Inilah tantangan besar Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Program ini memiliki skala yang besar. Namun skala yang besar juga membawa risiko yang besar. Semakin banyak koperasi yang dibangun, semakin besar pula kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang mampu mengelolanya. Karena itu, masa depan KDKMP tidak hanya ditentukan oleh besarnya dukungan kebijakan dan modal awal. Masa depan KDKMP akan sangat ditentukan oleh kualitas orang-orang yang menjalankannya.

Salah satu hal penting yang perlu kita luruskan adalah cara pandang terhadap manajer koperasi. Manajer koperasi bukan penjaga kantor. Bukan sekadar pelaksana administrasi. Bukan hanya orang yang membuat laporan. Bukan pula seseorang yang menunggu instruksi dari pengurus.

Manajer adalah penggerak bisnis koperasi. Ia harus mampu membaca potensi ekonomi wilayah. Ia harus mampu memahami kebutuhan anggota. Ia harus mampu mencari peluang. Ia harus mampu membangun kemitraan. Ia harus mampu mengelola keuangan. Ia harus mampu mengambil keputusan. Dan ia harus mampu memastikan bahwa koperasi tidak kehilangan arah.

Dalam dunia bisnis, manajer yang hanya menunggu keadaan akan selalu terlambat. Karena itu, manajer KDKMP harus memiliki keberanian untuk bertanya: Apa kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi? Apa potensi desa yang belum memiliki nilai tambah? Produk apa yang dapat dikembangkan? Pasar mana yang dapat dimasuki? Siapa mitra yang dapat diajak bekerja sama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar bertanya: “Apa kegiatan koperasi hari ini?”

Materi Perencanaan Bisnis Koperasi yang saya sampaikan kepada para peserta berangkat dari satu pemikiran sederhana: Koperasi yang tidak memiliki bisnis yang jelas akan sulit bertahan. Rencana bisnis bukanlah dokumen formal yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan administrasi Koperasi harus belajar berpikir secara bisnis. Namun, berpikir bisnis tidak berarti menghilangkan jati diri koperasi. Justru sebaliknya. Koperasi membutuhkan bisnis yang sehat agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar kepada anggota.

Koperasi yang rugi tidak akan mampu menolong anggotanya. Koperasi yang tidak memiliki pasar tidak akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Koperasi yang tidak mampu mengelola keuangan akan kehilangan kepercayaan. Karena itu, idealisme koperasi harus bertemu dengan profesionalisme manajemen. Tanpa idealisme, koperasi kehilangan jati diri. Tanpa profesionalisme, koperasi kehilangan masa depan.

Salah satu bahaya dalam pembangunan koperasi adalah kecenderungan untuk membuat semua koperasi menjadi seragam. Padahal desa-desa di Indonesia tidak seragam. Desa pesisir memiliki karakter berbeda dengan desa perkebunan. Desa pertanian berbeda dengan desa wisata. Desa kepulauan berbeda dengan desa di kawasan perkotaan.

Desa di Maluku Utara memiliki tantangan berbeda dengan desa di Jawa. Karena itu, koperasi tidak dapat dibangun dengan satu model bisnis yang dipaksakan dari atas. Koperasi harus tumbuh dari potensi dan kebutuhan lokal. Koperasi di desa pesisir mungkin kuat di sektor perikanan. Koperasi di daerah perkebunan dapat mengembangkan rantai pasok komoditas. Koperasi di wilayah pertanian dapat menjadi agregator produksi. Koperasi di kawasan wisata dapat mengembangkan ekonomi kreatif dan jasa wisata.

Koperasi harus menjadi cermin dari kekuatan ekonomi masyarakatnya. Bukan menjadi lembaga yang berdiri terpisah dari kehidupan masyarakat.

Materi Kepemimpinan Visioner dan Penumbuhan Jiwa Kewirausahaan Koperasi juga memiliki relevansi yang sangat besar. Sebab koperasi membutuhkan manusia yang memiliki visi. Kita tidak mungkin membangun koperasi masa depan dengan cara berpikir masa lalu. Seorang pemimpin koperasi harus mampu melihat lebih jauh daripada laporan keuangan bulan ini. Ia harus mampu membayangkan koperasi 5 atau 10 tahun ke depan.

Di sinilah jiwa kewirausahaan menjadi penting. Manajer koperasi harus memiliki keberanian untuk mencoba. Namun keberanian bukan berarti ceroboh. Keberanian harus dibangun di atas perhitungan. Koperasi harus inovatif, tetapi tetap hati-hati. Harus berani mengambil peluang, tetapi memahami risiko. Harus berpikir maju, tetapi tidak meninggalkan prinsip tata kelola.

Tidak ada bisnis tanpa risiko. Karena itu, materi Manajemen Risiko dan Sistem Pengendalian Internal menjadi bagian yang tidak kalah penting. Sering kali organisasi baru memikirkan risiko setelah masalah terjadi.
Selama empat hari di Ambon, saya berhadapan dengan 148 calon manajer KDKMP. Saya melihat mereka bukan sekadar peserta pelatihan. Mereka adalah calon penggerak ekonomi di desa dan kelurahan masing-masing. Tentu, pelatihan selama beberapa hari tidak akan menjadikan seseorang langsung menjadi manajer yang sempurna. Tidak ada pelatihan yang mampu melakukan itu. Tetapi pelatihan dapat memberikan fondasi. Pelatihan dapat membuka cara berpikir. Pelatihan dapat menanamkan keberanian. Pelatihan dapat memperkenalkan sistem.

Selebihnya, kualitas seorang manajer akan diuji ketika ia kembali ke lapangan. Ketika ia harus memilih jenis usaha. Ketika ia menghadapi anggota yang memiliki harapan berbeda. Ketika ia menghadapi keterbatasan modal. Ketika ia harus mengambil keputusan yang sulit. Ketika ia berhadapan dengan risiko. Ketika ia harus membuktikan bahwa koperasi bukan sekadar lembaga yang dibentuk, tetapi lembaga yang benar-benar bekerja.

Di situlah sesungguhnya pendidikan dan pelatihan akan diuji. Kita perlu membangun optimisme terhadap Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Namun optimisme tidak boleh berubah menjadi romantisme. Koperasi tidak akan berhasil hanya karena namanya membawa kata “Merah Putih”.

Koperasi akan berhasil jika dikelola dengan integritas, kompetensi, profesionalisme, dan keberanian berinovasi. Kita tidak boleh membangun koperasi hanya untuk mengejar jumlah. Kita harus membangun koperasi yang hidup. Koperasi yang benar-benar dibutuhkan oleh anggota. Koperasi Berdaya, Indonesia Jaya. (*)