Tandaseru – Kegiatan festival budaya “Bulan Indonesia 2026” yang berlangsung selama satu bulan penuh di Hamburg, Jerman, resmi berakhir pada Senin (8/6/2026). Acara yang dimulai sejak 8 Mei lalu ini sukses menjadi wadah diplomasi budaya sekaligus mempererat ruang kebersamaan bagi diaspora Indonesia di kota pelabuhan tersebut.
Diselenggarakan untuk tahun kedua, festival ini mengambil lokasi di pusat kota Hamburg, tepatnya di Matahari Hairstyling, sebuah salon potong rambut milik diaspora Indonesia, Ernina Schahinger, yang telah berdiri selama 20 tahun. Dengan konsep “Kulturladen” atau Toko Budaya, tempat ini menyulap etalasenya menjadi ruang pameran, lokakarya (workshop), dan diskusi informatif sepanjang 30 hari.
Ketua Perhimpunan Persahabatan Jerman-Indonesia (DIG) Hamburg e.V. sekaligus CEO IKAT Agentur, Dyah Narang-Huth, mengibaratkan kolaborasi dalam acara ini seperti musik angklung.
“Filosofi angklung mengajarkan pentingnya kerja sama untuk menghasilkan alunan lagu yang indah. Bulan Indonesia 2026 ini hadir dengan ambisi positif untuk menyediakan ruang berekspresi dan promosi bagi komunitas, organisasi, maupun profesional diaspora Indonesia,” ujar Dyah saat membuka open house yang juga menandai ulang tahun DIG Hamburg ke-46.
Sorotan Ragam Kegiatan
Festival tahun ini diwarnai oleh berbagai aktivitas yang berhasil menarik perhatian warga lokal Jerman maupun warga keturunan Indonesia. Beberapa agenda utama yang menjadi sorotan meliputi:
- Diplomasi Tenun Tidore: Pada pembukaan acara, Puta Dino Kayangan menggelar “Presentasi Tenun dari Tidore” yang didukung oleh Bank Indonesia. Produk promosi ini kini dipastikan akan terus menempati etalase Matahari Hairstyling sebagai bentuk kerja sama lanjutan pasca-event.
- Workshop Kuliner: Memasuki minggu terakhir, antusiasme pengunjung melonjak lewat kelas pembuatan kuliner tradisional seperti Ketan Urap dan Cendol.
- Diskusi Sosial & Edukasi: Kegiatan ini juga menyelenggarakan diskusi kelompok bersama para pengajar PAUD asal Indonesia yang dimotori oleh Widya Sukarso.
- Kampanye Kesehatan Mental & Literasi: Organisasi masyarakat Ruanita turut ambil bagian dengan memutar film edukasi kesehatan mental karya Mariska Ajeng Harini dan Ullil Izmi untuk mengikis stigma rumah sakit jiwa. Selain itu, Ruanita meluncurkan buku fiksi reflektif berjudul “Gema dari Ruang Hening”, karya kurasi jurnalis Asmayani Kusrini yang merangkum pengalaman transnasional 26 perempuan Indonesia di 14 negara.
Kemeriahan Bulan Indonesia 2026 ditutup dengan malam keakraban bersama kelompok musik Ensamble Hamburg. Penampilan penyanyi Yogi Jaelani yang membawakan lagu-lagu tanah air sukses menjadi pengobat rindu bagi para diaspora yang hadir.
Meski agenda satu bulan penuh telah usai, inisiatif ini dipastikan bakal meninggalkan dampak jangka panjang lewat berbagai kolaborasi lanjutan yang telah disepakati antarkomunitas di Hamburg.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.